OJK Dukung Pengurangan Dividen - Bank BUMN

NERACA

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan mendukung penurunan dividen dari bank BUMN ke pemerintah, yang alokasinya digunakan untuk penguatan modal bank tersebut dalam meningkatkan kontribusi ekonominya ke masyarakat.

"Saya mengapresiasi kebijakan pemerintah mengenai pembagian dividen bank BUMN untuk mendukung peningkatan modal dan pertumbuhan usaha," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman Darmansyah Hadad, di Jakarta, Jumat (16/1), pekan lalu.

Menurut dia, tahun ini industri perbankan perlu terus meningkatkan modal agar mampu melipatgandakan kinerja perusahaan, khususnya dalam meningkatkan kualitas penyaluran kredit ke masyarakat.

"Penambahan modal tersebut juga dibutuhkan untuk memperkuat daya saing bank nasional," katanya. Hingga Oktober 2014, posisi rasio kecukupan modal inti (capital adequancy ratio / CAR) bank BUMN sebagai berikut.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar 16%, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk 18%, PT Bank Nasional Indonesia (Persero) Tbk 16% dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk 14%. Sedangkan pertumbuhan kredit perbankan hingga Oktober 2014 masih berkisar 11%, atau di bawah perkiraan OJK dan Bank Indonesia pada 2014 sebesar 15%-17%.

Muliaman juga mengharapkan penambahan modal juga dapat dilakukan bank asing untuk memperkuat industri perbankan nasional. "Saya mengharapkan inisiatif ini dapat diikuti oleh bank lainnya termasuk oleh bank asing agar kemampuan permodalan perbankan nasional semakin kuat," katanya.

Secara khusus dia juga meminta bank asing untuk memperkuat peran dalam mendorong kegiatan perdagangan dan investasi, terutama untuk membangun kerja sama bilateral dengan negara asal bank tersebut.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Riswinandi, menyambut positif pengurangan setoran dividen ke pemerintah. Efek kebijakan ini bakal berdampak pada rencana ekspansi usaha perseroan yang kian agresif ke depan.

“Kalau memang dapat kesempatan dikurangi tentu akan menambah modal, karena kita antisipasi Basel III,” kata Riswinandi. Menurut dia, permodalan menjadi bagian yang sangat penting untuk menjaga pertumbuhan sesuai dengan ketentuan.

Namun, saat ditanyakan berapa besar potensi peningkatan pertumbuhan, jika perseroan mendapat tambahan modal dari pengurangan setoran dividen, Riswinandi belum bisa memberikan angka pasti.

Sebelumnya, Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan pemerintah telah menyetujui penurunan dividen bank BUMN sebesar 10% menjadi 20%, dari sebelumnya di kisaran 30%. Penurunan dividen bank BUMN itu akan dimasukkan dalam Rancangan APBN Perubahan 2015 yang akan segera diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

"Kami menyetujui itu, namun masing-masing bank berbeda antara Bank BRI, Mandiri, BNI, maupun BTN, saya tidak ingat detailnya," ujar Rini. Secara keseluruhan, pada RAPBN 2015 pemerintah berencana mengurangi dividen BUMN sebesar Rp9 triliun, menjadi Rp34 triliun dari sebelumnya Rp43,7 triliun. [ardi]

Related posts