Siasat Garuda Menekan Biaya Operasional - Hedging 35% Transaksi Avtur

NERACA

Jakarta – Kendatipun pemerintah telah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kedua kalinya, namun kondisi ini belum banyak membantu cost biaya industri penerbangan karena biaya atur belum memberikan dampak penurunan harga. Maka agar tidak terbebani biaya kenaikan biaya avtur dan nilai kurs rupiah yang melemah terhadap dollar AS, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bakal menaikkan transaksi lindung nilai (hedging) bahan bakar hingga 35% dari total belanja avtur sepanjang 2015.

Sebelumnya, perseroan juga melakukan hedging mata uang asing (forex), yang pada tahun lalu belum direalisasikan. Kata Direktur Keuangan Risiko dan Teknologi Informasi Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, perseroan menaikkan porsi hedging avtur dari hanya 10% menjadi 35%, Hedging dilakukan dengan prinsip kehati-hatian,“Sedangkan hedging forex ditetapkan sebanyak 30% dari kebutuhan dolar yang berasal dari rupiah,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurut dia, strategi ini dilakukan untuk menjaga risiko perbedaan kurs dolar AS dan rupiah, sehingga bisa sesuai dengan anggaran belanja modal perseroan. Tahun ini, peseroan berencana melakukan disiplin anggaran guna menekan risiko dan menjaga tingkat keuntungan.

Salah satu transaksi hedging forex yang baru direalisasikan Garuda adalah transaksi cross currency swap (CCS) dengan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Garuda melakukan lindung nilai di BNI senilai total Rp 1 triliun.

Transaksi itu dilakukan dalam rangka melakukan lindung nilai risiko tingkat bunga, atau menukar aset kewajiban ke dalam mata uang lain. Transaksi itu sekaligus menukar tingkat suku bunga yang menjadi referensi dan risiko nilai tukar. Hal tersebut juga dalam rangka melindungi nilai transaksi pembayaran pinjaman perseroan atas sebagian obligasi yang diterbitkan perseroan sebesar Rp 1 triliun.

Lebih lanjut, nilai perjanjian fasilitas kredit mencapai US$ 19,82 juta yang efektif pada 13 Januari 2015. Referensi nilai tukar Rp 12.608 (JISDOR 13 Januari 2015) dengan tingkat bunga 3,20% per tahun. Sementara itu, mata uang tingkat bunga tetap sebesar Rp 250 miliar dengan pembayaran setiap kuartalan dan dengan tingkat bunga 9,25 persen per tahun. Jumlah penukaran akhir sebesar Rp 250 miliar menjadi US$ 19,82 juta.

Transaksi CSS tersebut bukan yang pertama kali dilakukan Garuda dan BNI. Pada Juni 2014, Garuda menyepakati transaksi CSS senilai Rp 500 miliar dengan BNI. Garuda memperoleh kredit dalam mata uang rupiah, sedangkan kebutuhan dan pendapatan dalam bentuk dolar AS. CSS memiliki jangka waktu tiga tahun atas pokok utang dan bunga pinjaman.

Sebelumnya, perseroan mendapat pinjaman jangka pendek dengan nilai plafon sebesar Rp 1 Triliun dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada 30 November 2014 kemarin. Disebutkan, fasilitas kredit tersebut merupakan fasilitas kredit modal kerja impor dan penangguhan jaminan impor.

Selain mendapat pinjaman dalam bentuk mata uang rupiah, BRI juga memberikan fasilitas kredit kepada Garuda dalam bentuk dolar Amerika. Nilai plafon pinjaman dalam dolar tersebut mencapai US$ 30 juta atau senilai Rp 373,20 miliar (estimasi kurs Rp 12.440 per dolar AS). (bani)

BERITA TERKAIT

Biaya Mahal Hambat Pengawasan Lalin Secara Elektronik

Biaya Mahal Hambat Pengawasan Lalin Secara Elektronik  NERACA Jakarta - Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Pol Royke Lumowa…

Kadisdik: Disdik Depok Ringankan Kesulitan Biaya Sekolah

Kadisdik: Disdik Depok Ringankan Kesulitan Biaya Sekolah NERACA Depok -‎ Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Depok berupaya keras terus menerus meningkatkan…

Transaksi Saham Akhir Tahun Bakal Meningkat - Optimisme Ekonomi Tumbuh

NERACA Jakarta - Analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada menilai, transaksi saham hingga akhir tahun ini berpotensi terus…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kantungi Sertifikasi ISO 27001 - XL Tingkatkan Keamanan Data Pelanggan

NERACA Jakarta - PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) berhasil meraih sertifikasi ISO 27001 sebagai standar baku penerapan Information Security…

Investor Saham di Babel Tumbuh Signifikan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Pangkalpinang mencatat, jumlah investor pasar modal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengalami…

Renuka Targetkan Ekspor Tambang di 2018

Keyakinan membaiknya harga batu bara di tahun depan, menjadi harapan PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) bila pasar batu bara kembali meningkat.…