Emiten Transportasi Mulai Menuai Untung - Dampak Penurunan Harga BBM

NERACA

Jakarta –Kebijakan pemerintah yang kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar seiring terus menurunnya harga minyak dunia, disambut baik oleh masyarakat yang diharapkan bisa menurunkan beban kenaikan lainnya. Rupanya kabar penurunan harga BBM, juga disambut pelaku usaha di sektor transportasi sehingga memicu saham sektor tersebut juga ikut melesat di pasar modal.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, analis Daewoo Securities, Taye Shim mengatakan, emiten sektor transportasi akan mendapatkan keuntungan dari penurunan BBM jenis premium dan solar ini,”Kami perkirakan sektor transportasi akan mendapat banyak keuntungan dari melemahnya harga minyak karena selama ini BBM menjadi komponen biaya operasional perusahaan transportasi paling tinggi," ujarnya.

Dia mengatakan, kinerja perusahaan transportasi berbasis ritel juga akan meningkat seiring dengan tumbuhnya daya beli konsumen dalam negeri. Contohnya, kata dia, saham-saham operator taksi. Tengok saja, saham operator taksi PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) menanjak hingga dua kali lipat lebih sejak melantai di bursa. Pada penutupan perdagangan akhir pekan kemarin, sahamnya ditutup di kisaran Rp 1.130 per lembar.

Tahun ini, PT Express Transindo Utama Tbk mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 400 miliar atau turun dibandingkan tahun lalu sebesar Rp 800 miliar. Dijelaskan, belanja modal tahun ini tidak sebesar tahun lalu karena dari penambahan 2000 unit armada tiap tahunnya belum semuanya beroperasi,”Jadi belanja modal tahun ini hanya dianggarkan Rp 400 miliar untuk peningkatan pelayanan seperti IT, call center dan perawaran mesin,”kata Merry Anggraini, Sekretaris perusahaan TAXI.

Dia menuturkan, sumber pendanaan capex tahun ini berasal dari tiga sumber, yaksi sisa penerbitan obligasi, pinjaman bank, dan kas internal. Tercatat saat ini perseroan masih memiliki sisa Rp 200 miliar dari penerbitan obligasi Rp 1 triliun tahun lalu. TAXI tengah menjajaki pinjaman dengan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)

Tahun ini perseroan akan mulai menggenjot bisnis baru di bidang bus pariwisata. Untuk itu, tahun lalu TAXI sudah mendatangkan sedikitnya 150 bus dengan merek dagang Eagle High. Bisnis bus pariwisata ini terlihat menarik bagi TAXI, setelah tahun lalu armada busnya laris disewa korporasi. "Dari armada bus baru belum semua beroperasi. Tahun ini kami akan nafas dulu dan fokus pada pengoperasioan armada yang sudah ada,”kata Merry

Tak hanya mendatangkan bus pariwisata, tahun lalu TAXI juga membeli 300 unit armada taksi premium dan 1.500 unit armada taksi reguler. Nah, tahun ini TAXI hanya akan menambah taksi reguler saja. "Kami akan tambah taksi reguler, tetapi tidak sebanyak tahun lalu. Tahun ini minimal 500 unit, " imbuh Merry.

Selain mengembangkan bisnis bus pariwisata, TAXI akan fokus menambah infrastruktur pendukung seperti shelter taksi, infastruktur di bidang teknologi, hingga kualitas layanan seperti pelatihan bagi pengemudi. APalagi, TAXI harus menambah jumlah pengemudi seiring dengan penambahan jumlah armada.

Kemudian operator taksi lain yang sahamnya sudah tumbuh dua kali lipat adalah PT Blue Bird Tbk (BIRD). Bedanya, saham Blue Bird hanya butuh waktu dua bulan untuk naik dua kali lipat, sedangkan Express butuh dua tahun.

Blue Bird melantai di bursa pada 5 November tahun lalu dengan harga Rp 6.500 per lembar. Setelah IPO, sahamnya langsung masuk tren menguat. Sampai pada penutupan perdagangan kemarin harganya sudah mencapai Rp 11.575 per lembar.

Sahamnya sudah melonjak hingga 78% hanya dalam waktu dua bulan. Menurutnya, penurunan harga BBM yang disampaikan pemerintah akhir tahun lalu ikut memberi sentimen positif,”Kami percaya sentimen positif masih akan menempel di Blue Bird dalam waktu yang cukup lama," ujar Taye Shim. (bani)

Related posts