KS Investasikan Dana US$ 390 Juta - Perluas Pabrik Lembaran Panas

NERACA

Jakarta– Meskipun kinerja tahun lalu masih menacatatkan rugi, namun tidak menjadi penghalang bagi PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) untuk terus ekspansi. Pasalnya, tahun ini perseroan berencana membangun pabrik lembaran panas kedua di lokasi yang sama sebagai perluasan dari pabrik lembaran panas yang sudah ada saat ini di Kawasan Industri Cilegon.

Direktur Teknologi dan Pengembangan, PT Krakatau Steel Tbk, Widodo Setia Dharmaji mengatakan, perseroan akan mengucurkan total dana investasi sebesar US$ 390 juta untuk mendirikan pabrik keduanya,”Untuk rencana pengembangan Krakatau Steel, kita merencanakan akan membangun pabrik baja lembaran panas ke II yang diharapkan konstruksinya dimulai tahun ini dan selesai di 2017,”ujarnya kemarin.

Pabrik baru tersebut diharapkan memiliki kapasitas produksi 1,5 juta ton per tahun. Saat ini pabrik lembaran panas yang sudah dimiliki oleh Krakatau steel dapat memproduksi sebanyak 2,4 juta ton per tahun. Dengan penambahan tersebut total produksi Krakatau Steel secara keseluruhan diharapkan akan menjadi 3,9 juta ton per tahun sehingga bisa memasok lebih banyak ke pasaran.

Disebutkan, nantinya produk tersebut diharapkan akan memproduksi hot role coil. Pabrik ini sedikit berbeda dengan pabrik yang Krakatau Posco, sebab di sana memproduksi plat baja, sedangkan ini nantinya coil yang gulungan.

Sebelumnya, perusahaan baja plat merah ini juga tengah membangun pabrik Blast Furnace dan pembangkit listrik berteknologi Combined Cycle (Combined Cycle Power Plant/CCPP) berkapasitas 120 MW. Perusahaan mengklaim pabrik Blast Furnace akan mampu menurunkan beban konsumsi listrik hingga 50% dibandingkan pola konvensional yang dilakukan sekarang.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, Irvan K Hakim pernah bilang, pabrik Blast Furnace ditargetkan selesai pada pertengahan 2015, sementara CCPP berkapasitas 120 MW ditargetkan selesai pada akhir 2014. Menurut Irvan, beroperasinya pabrik Blast Furnance dan CCPP diharapkan beban biaya perusahaan dapat menurun sehingga berimbas pada peningkatan laba.

Dia menjelaskan, pabrik blast furnace mengadopsi teknologi berbasis batubara dengan proses yang lebih efisien, sehingga menurunkan biaya produksi baja cair dan slab, meningkatkan marjin laba, dan menciptakan keseimbangan kapasitas produksi iron making, steel making & rolling mill,”Keberadaan pabrik blast furnace tersebut dapat menurunkan konsumsi energi listrik dalam proses pembuatan baja slab," ujar Irvan.

Pada sembilan bulan pertama tahun 2014, Krakatau Steel (Persero) masih membukukan rugi US$ 117,5 juta. Dimana PT Krakatau Posco (KP) menyumbang kerugian US$ 48,7 juta ke perseroan yang disebabkan faktor internal dan eksternal KP."Adanya kendala produksi di awal 2014 membuat produksi baja baru stabil di awal Maret 2014," ujar. Christi F Keseger, Corporate Secretary PT Krakatau Posco. (bani)

Related posts