Awal Pekan, IHSG Bakal Bergerak Menguat

NERACA

Jakarta – Transaksi saham di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jum’at akhir pekan kemarin, seharian berada di zona merah seiring dengan derasnya aksi jual investor yang memanfaatkan penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang sudah menguat dalam beberapa hari. Mengakhiri perdagangan, IHSG ditutup anjlok 40,333 poin (0,78%) ke level 5.148,379. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,342 poin (0,82%) ke level 886,343.

Kata Kepala Riset Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo, koreksi pada indeks BEI sepertinya hanya akan sesaat saja terkena dampak bursa regional akibat Swiss menurunkan suku bunganya,"Dari dalam negeri, pemerintah yang kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas elpiji membuat sebagian investor kaget. Pemerintah sedang memperkenalkan kebiasaan baru, harga akan bergerak naik turun sesuai dengan kondisi pasar,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dijelaskan, kebijakan penurunan kembali harga BBM adalah sikap pemerintah yang hanya menginginkan harga yang rasional, pemerintah juga tidak akan membuat perusahaan untuk merugi. Situasi yang terjadi saat ini akan baik untuk jangka panjang.

Sementara itu, President PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan bahwa koreksi yang terjadi saat ini akan memicu proses akumulasi oleh pelaku pasar ke depannya, dan akan terlihat di mulai pada pekan ini, “Indeks BEI tidak dalam kondisi 'bearish' dan walaupun terjadi koreksi masih dalam batas wajar," ungkapnya.

Dia menambahkan bahwa sentimen yang terjadi di Swiss juga diperkirakan dapat menguntungkan Indonesia di mana potensi dana yang keluar dari Swiss berpeluang masuk ke negara berkembang seperti Indonesia,"Sasaran untuk investasi adalah negara berkembang, salah satunya Indonesia yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi. Maka persiapkan kenaikan di saham-saham perbankan, konstruksi, dan properti yang memiliki peluang besar meningkat," katanya.

Pada perdagangan saham Senin awal pekan, IHSG diproyeksikan akan bergerak menguat. Pada perdagangan kemarin, saham-saham unggulan dan lapis dua langsung jadi sasaran aksi jual. Pemodal asing paling semangat melepas saham.

Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 246.477 kali dengan volume 5,32 miliar lembar saham senilai Rp 5,573 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 203 turun, dan 94 saham stagnan.

Bursa saham Tiongkok mencuat sendirian dengan penguatan lebih dari satu persen sementara bursa Asia lainnya terjebak di zona merah. Lemahnya harga minyak dunia dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi global.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Unilever (UNVR) naik Rp 775 ke Rp 33.500, Blue Bird (BIRD) naik Rp 525 ke Rp 12.100, Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp 400 ke Rp 2.200, dan Trikomsel (TRIO) naik Rp 230 ke Rp 1.295. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Jakarta (DLTA) turun Rp 5.575 ke Rp 370.000, Indocement (INTP) turun Rp 2.550 ke Rp 22.300, Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 1.600 ke Rp 6.400, dan Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 1.200 ke Rp 15.000.

Perdagangan sesi pertama, IHSG turun tipis 1,624 poin (0,03%) ke level 5.187,088. Sementara Indeks LQ45 melemah tipis 0,204 poin (0,02%) ke level 893,481. Sepinya transaksi membuat Indeks mudah goyah sehingga naik-turun zona merah dan hijau dalam beberapa kali. Saham-saham lapis dua masih bisa menguat.

Perdagangan berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 119.455 kali dengan volume 2,787 miliar lembar saham senilai Rp 2,053 triliun. Sebanyak 89 saham naik, 157 turun, dan 91 saham stagnan. Bursa saham Tiongkok mencuat sendirian dengan penguatan lebih dari satu persen sementara bursa Asia lainnya terjebak di zona merah. Lemahnya harga minyak dunia dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi global.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indocement (INTP) naik Rp 600 ke Rp 25.450, Blue Bird (BIRD) naik Rp 550 ke Rp 12.125, Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 500 ke Rp 6.575, dan Bank Ekonomi (BAEK) naik Rp 400 ke Rp 2.200. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Bukit Asam (PTBA) turun Rp 325 ke Rp 10.875, Impack (IMPC) turun Rp 275 ke Rp 5.500, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 200 ke Rp 14.975, dan Astra Agro (AALI) turun Rp 125 ke Rp 24.825.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka terkoreksi sebesar 6,70 poin atau 0,13% ke posisi 5.182,01. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) turun sebesar 1,69 poin atau 0,19% ke posisi 891,99,”Mengikuti pelemahan bursa AS, bursa Asia ikut melemah termasuk indeks BEI," kata Analis Samuel Sekuritas, Tiesha Narandha Putri.

Dia mengemukakan bahwa pelemahan bursa Amerika Serikat itu lebih disebabkan oleh hasil kajian dari Citigroup terhadap pendapaatan perusahaan di AS yang lebih rendah dari ekspektasi. Namun demikian, dari 16 perusahaan yang telah melaporkan kinerja kuartal IV 2014, sebanyak 12 perusahaan membukukan kinerja lebih baik dari estimasi. (bani)

Related posts