Pasar Modal Jangan Bergantung Pada Asing

NERACA

Yogyakarta – Dominasi investor asing terhadap kepemilikan saham di pasar modal, membuat industri pasar modal sangat bergantung kepada asing. Pasalnya, apabila investor melakukan aksi jual memberikan sentiment negatif terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, ekonom dari Universitas Gajah Mada, Sri Adiningsih mengatakan, Indonesia sebaiknya jangan terlalu bergantung dengan aliran dana asing agar potensi volatilitas rupiah tidak terlalu tinggi,”Dengan ketergantungan itu mengakibatkan sistem keuangan Indonesia memiliki potensi volatilitas yang tinggi," kata dia di Yogyakarta, kemarin.

Dengan ketergantungan itu, menurut dia, jika ekonomi internasional sedikit mengalami goncangan akan mudah memengaruhi sistem keuangan Indonesia, terutama di pasar valas dan IHSG. Kata Sri, Indonesia selama ini sudah terlalu bergantung pada portofolio, serta utang asing jangka pendek dengan jumlah yang cukup besar,”Pelaku pasar modal aktor utamanya kini sudah bukan investor Indonesia. Surat berharga juga sepertiganya sudah diserap asing,”ungkapnya.

Maka agar mampu terhindar dari ketergantungan asing dan memulai kebijakan ekonomi yang lebih mandiri, menurut dia, pemerintah saat ini perlu memprioritaskan upaya penghapusan utang luar negeri. Selain itu, lanjut dia, kontribusi pemodal domestik juga perlu lebih dioptimalkan dari pada pemodal asing agar pasar modal Indonesia lebih memiliki daya tahan ketika menghadapi situasi krisis.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM Yogyakarta, Erwan Agus Purwanto menambahkan, pemerintah dapat mengarahkan agar masuknya investasi asing hanya terfokus pada sektor produksi berteknologi tinggi. Sementara untuk produksi berteknologi menengah dapat diserahkan kepada investor dalam negeri,”Mestinya yang bisa digarap bangsa sendiri tidak perlu melibatkan asing, seperti eksploitasi batu bara yang tidak memerlukan teknologi rumit,”ujarnya.

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat, pada priode triwulan IV/2014, kepemilikan saham masih didominasi investor asing dengan total kepemilikan sebesar 65%, turun 1% dari periode sebelumnya. Meski demikian asing masih mendominasi kepemilikan saham di pasar modal. Namun nilai kepemilikan tersebut hanya meningkat tipis dari Rp1.842,79 triliun menjadi Rp1.864,97 triliun.

Peningkatan juga dicatatkan pada nilai kepemilikan saham oleh investor lokal sebesar Rp12,67 triliun, dari Rp1.014,08 triliun pada triwulan III/2014 menjadi Rp1.026,75 triliun pada triwulan IV, dengan total kepemilikan saham mencapai 36%. Lebih dari setengah pemegang efek dari investor lokal berasal dari tipe pemegang efek corporate sebesar 54%, disusul dengan individu sebesar 16,5%.

Berbanding terbalik dengan komposisi kepemilikan saham, investor lokal porsi kepemilkan obligasi korporasi dan sukuk lebih besar. Secara persentase komposisi kepemilikan saham oleh investor lokal sama dengan periode sebelumnya yakni 91%. Dari sisi nilai, jumlahnya meningkat tipis Rp0,57 triliun. (ant/bani)

Related posts