Tata Kelola Kota Harus Dibenahi - Tarik Minat Investasi Daerah

NERACA

Jakarta - Pengamat perkotaan sekaligus Direktur Manajemen Urban and Regional Development Institute Wahyu Mulyana mengatakan bahwa konsep pengembangan perkotaan di Indonesia harus jelas sehingga mampu menjadi magnet bagi investor apalagi menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

"Konsep pengembangan perkotaan di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa, harus jelas karena ini terkait dengan pengembangan investasi dan persaingan dengan negara-negara lain," ujar Wahyu di Jakarta, Jumat (16/1).

Ia mengutarakan bahwa perkotaan di Indonesia harus bisa berkembang sendiri dengan pengelolaan yang baik dari pemerintah pusat maupun daerah sehingga mampu mendatangkan investasi dan bisa bersaing dengan negara-negara Asia Tenggara.

Menurut Wahyu, kota-kota yang perlu dikembangkan dan dimaksimalkan potensinya adalah yang berada di luar Pulau Jawa.

"Jumlah penduduk di Pulau Jawa 70 persen dari total penduduk Indonesia dan 90 persen di antaranya tinggal di daerah perkotaan. Ini sudah terlalu padat," kata dia.

Selain itu, kata Wahyu, pengembangan kota tersebut harus sejalan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). "Peningkatan SDM itu penting agar kita tidak menjadi objek dengan adanya MEA," tutur dia.

Untuk itu, lanjut dia, setiap orang yang bekerja dan usaha di Indonesia seharusnya sudah terstandarisasi secara internasional. "Contohnya di bidang perhotelan dan pariwisata. Dua bidang ini sudah seharusnya bertaraf internasional agar kita tetap bisa berkompetisi dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri," katanya.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sendiri akan dimulai pada akhir 2015. Nantinya sebuah negara di Asia Tenggara bisa menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara.

Selain itu, MEA tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, dan akuntan.

Pada kesempatn berbeda, Wakil Ketua Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec mengatakan Strategi dan edukasi masyarakat terkait Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 harus lebih dipertegas, tidak hanya all out mempertahankan diri dari gempuran kekuatan ekonomi luar. Sebab jika hanya melakukan kebijakan yang bersifat defensif, berarti sudah memposisikan diri sebagai korban dari integrasi ekonomi ini. Untuk itu, kita tetap berusaha mempertahankan pasar yang ada (defensif), namun secara simultan juga melakukan kebijakan yang menyerang (ofensif) untuk memperluas pasar dan aktivitas ekonomi di negara ASEAN lainnya. “Dengan kebijakan demikian, apabila berhasil, maka manfaat optimal bisa dinikmati dari integrasi ekonomi tersebut,” tegas Edy.

Ekspansi ekonomi terjadi, dan ini bisa meningkatkan peluang kerja, peluang usaha, serta peluang ekonomi yang luas bagi para pelaku ekonomi di tanah air, dan akan mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi lebih cepat, serta kesejahteraan masyarakat juga menjadi lebih baik.

Menurutnya, seharusnya kebijakan kita juga lebih bersifat ofensif untuk mendapatkan pasar baru di negara anggota ASEAN. Misalnya bagaimana para tenaga kerja profesional kita dan penganggur terdidik juga bisa memanfaatkan bursa kerja di negara ASEAN lainnya untuk memperoleh devisa dari sana. “Demikian juga produk barang-barang kita didorong meningkat produksinya untuk memasarkan hasilnya ke negara ASEAN lainnya,” ungkap Edy. [agus]

Related posts