Januari Diproyeksikan Deflasi

NERACA

Jakarta - Pemerintah telah menetapkan penurunan harga premium menjadi Rp6.600 per liter dan solar Rp6.400 per liter. Penetapan harga tersebut berlaku pada Senin, 19 Januari 2015 pukul 00.00. Dengan penurunan ini, diharapkan harga-harga bakal turun terutama kebutuhan pokok sehingga daya beli masyarakat kembali tinggi yang mampu mengurangi tingkat inflasi bahkan bisa deflasi.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan bahwa penurunan tersebut bisa menyebabkan deflasi pada Januari 2015. "Dampak inflasinya saya yakin sangat kecil, bahkan pada januari akan deflasi, tapi belum tahu berapanya," tegas Sofyan di Jakarta, Jumat (16/1).

Dia menyebutkan, selain penurunan harga BBM, kemungkinan deflasi bisa terjadi karena di beberapa daerah seperti Banten dan Jawa Tengah sudah memasuki musim panen padi. Menurutnya, beras akan mengalami penurunan di pasar, lantaran pemerintah akan terus melakukan operasi pasar. "Raskin Januari ini tetap disalurkan, jadi kalau misalnya Desember kita lihat komponennya adalah beras dan harga makanan maka dengan turunnya harga BBM kita harapkan harga yang lain akan turun dan kalau tidak turun produksi yang meningkat, harganya tidak turun berarti tata niaganya yang bermasalah," tuturnya.

Pada kesempatan berbeda, Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo mengatakan, di Januari 2015 lebih terkendali bila dibandingkan dengan inflasi di Desember 2014 yang mencapai 2,46 persen. Salah satu penyebab terkendalinya inflasi di Januari 2015 ini karena pemerintah yang kembali menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium menjadi Rp6.600 per liter dan Solar Rp6.400 per liter. "Penurunan harga BBM di awal tahun 2015 ini, paling tidak itu bisa membuatpenurunaninflasi di Januari turun 0,5 persen," ujar Agus.

Selain itu, dia menyebutkan hingga Minggu ke dua di Januari 2015 ini inflasi masih berada pada kisaran 0,26 sampai 0,28 persen. Bank Sentral mengaku akan terus memantau pergerakan minyak dunia yang juga berdampak pada harga BBM seperti Premium dan Solar.

"Nanti kita lihat inflasi di Minggu selanjutnya seperti apa. Dan hal ini tentu baik karena kalau kita ingat sama-sama di Desember 2014, inflasikan menyentuh level 2,46 persen," ucapnya.

Sementara itu, menurut Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro menyatakan bahwa penurunan harga Premium dan Solar akan berpengaruh pada inflasi. Dengan begitu, target inflasi akan sesuai dengan target pemerintah yaitu 5 persen. "Kalau inflasi paling tinggi kita ambil 5 persen sesuai dengan batas atas target pemerintah," kata Bambang.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Desember 2014 sebesar 2,46 persen, ini sangat tinggi karena terkena dampak kenaikan harga BBM bersubsidi pada November lalu. “Inflasi Desember sebesar 2,46 persen,” kata kepala BPS, Suryamin.

Kelompok yang menjadi penyumbang inflasi tinggi pada Desember antara lain kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 5,55 persen, diikuti kelompok bahan makanan 3,22 persen. "Kelompok transportasi menyumbang inflasi tinggi, karena tarif angkutan kota terkena dampak dari kebijakan pemerintah yang menyesuaikan harga premium dan solar," ujar Suryamin.

Kemudian, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, inflasi sebesar 1,96 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 1,45 persen dan kelompok kesehatan 0,74 persen.

Terakhir, kelompok sandang ikut menyumbang inflasi pada Desember 2014 yaitu sebesar 0,64 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang hanya menyumbang inflasi 0,36 persen.

Suryamin mengatakan dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) seluruhnya mengalami inflasi pada Desember, dengan inflasi tertinggi di Merauke 4,53 persen dan terendah di Meulaboh 1,17 persen. [agus]

Related posts