Bebas Terkaman Asing?

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Sepanjang tahun lalu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat hingga triwulan IV/2014, kepemilikan saham masih didominasi investor asing dengan total kepemilikan sebesar 65%, turun 1% dari periode sebelumnya atau meningkat tipis dari Rp1.842,79 triliun menjadi Rp1.864,97 triliun. Meskipun kepemilikan asing hanya turun tipis 1%, hal itu dinilai belum memberikan signifikan terhadap peningkatan investor lokal.

Besarnya kepemilikan asing di pasar modal, menjadi gambaran bila Indonesia masih menjadi negara yang tepat untuk berinvestasi dengan pertimbangan, potensi pasar yang besar, bunga yang tinggi dan kondisi ekonomi yang positif serta ditunjang gepolitik yang stabil dan aman. Namun hal ini juga menjadi cambuk bagi industri pasar modal, bagaimana terus meningkatkan peran investor lokal atau setidaknya menjadi tuan di negeri sendiri. Mungkin butuh waktu proses yang lama dan bukan waktu yang instan, bagaimana menyakinkan investor lokal untuk berinvestasi di pasar modal, apalagi menjadi bagian dari tren atau gaya hidup.

Minimnya tingkat literasi keuangan serta edukasi dan sosialisasi, selalu menjadi alasan klasik di balik tertinggalnya peran serta investor lokal berinvestasi di pasar modal. Namun kondisi ini, tidak melulu harus menjadi alibi dibalik tertinggalnya jumlah investor lokal tetapi bagaimana selalu memberikan kenyamanan dan landasan hukum yang kuat untuk memberikan jaminan masyarakat untuk main di pasar modal.

Tentang sosialisasi dan edukasi, hal ini terus menjadi agenda utama bagi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan juga lembaga SRO lainnya dengan terus merambah dan membuka gerai pelayanan di penjuru kota. Bahkan untuk meningkatkan jumlah investor lokal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus menggelar sekolah pasar modal dan membidik investor potensial dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Tidak hanya itu. Berbagai fasilitas juga dimungkinkan bagi mahasiswa atau pelajar bisa berinvesyasi di pasar modal, kini sudah ada aturan baru yang memudahkan mahasiswa berinvestasi. Sehingga tidak ada lagi kesan di masyarakat, berinvestasi saham di pasar modal atau instrumen lainnya hanya bisa dilakukan masyarakat atas yang kaya (The Have). Tapi saat ini, sudah bisa dilakukan oleh masyarakat kelas bawah. Tujuannya, selain untuk meningkatkan likuiditas pasar juga memperkokoh basis investor lokal.

Indonesia dengan populasi masyarakat terbesar ke empat di dunia, rupanya masih tertinggal dibandingkan negara tetangga bila bicara minat masyarakat berinvestasi di pasar modal. Bahkan OJK mengakui, saat ini hanya masyarakat di pulau Jawa saja yang berinvestasi di pasar modal, sedangkan di luar jawa masih bisa di hitung dengan angka.

Berbekal dari pengalaman itu, OJK juga memberikan program pendalaman pasar modal yang bertujuan untuk mendekatkan lebih dekat pasar modal kepada masyarakat, selain industri perbankan yang selama ini sudah dikenal lebih dahulu oleh masyarakat.

Bagaimanapun, sudah saatnya industri pasar modal tidak lagi berada dalam terkaman investor asing dengan terus memperkuat basis investor lokal. Langkah ini bukan berarti menolak kehadiran investor asing, tapi bagaimana masyarakat Indonesia bisa memanfaatkan pasar modal sebagai instrumen investasi dan pembiayaan disamping perbankan, sehingga fundamental IHSG tidak lagi rapuh.

Related posts