Semen Indonesia Catatkan Volume Penjualan 3,2%

NERACA

Jakarta –PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatat pertumbuhan volume penjualan sepanjang 2015 sekitar 3,2% menjadi 26,353 juta ton, dibandingkan periode yang sama tahun lalu 25,216 juta ton. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Sekretaris Perusahaan Semen Indonesia Agung Wiharto menuturkan, volume penjualan perseroan, terdiri dari Semen Indonesia sebanyak 13,993 juta ton atau naik 6,9%, Semen Padang sekitar 6,865 juta ton atau turun 1,9%, dan Semen Tonasa sebesar 5,494 juta ton atau naik tipis 0,8 %.

Berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia, Pulau Jawa masih mendominasi konsumsi semen sebanyak 32,732 juta ton per Desember 2014. Angka ini meningkat 4,1% dibandingkan periode serupa tahun lalu, yakni 32,414 juta ton. Selanjutnya, Sumatera konsumsi semennya sekitar 12,492 juta ton naik 2,2%, Kalimantan 4,546 juta ton, Sulawesi 4,527 juta ton, Nusa Tenggara 3,335 juta ton, serta Maluku dan Irian Jaya 1,274 juta ton.

Artinya, total konsumsi nasional periode yang berakhir Desember 2014 mencapai 59,909 juta ton, meningkat 3,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu 57,835 juta ton. Asal tahu saja, tahun 2015 merupakan tahun investasi bagi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Pasalnya, tahun 2015 adalah puncak investasi untuk pabrik di Rembang dan Indarung. Oleh karena itu, untuk mendanai ekspansi bisnisnya, perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditures/ Capex) senilai Rp6 triliun.

Kata Agung, sebagian besar belanja modal digunakan untuk mengamankan pasokan semen nasional yang diperkirakan mengalami kenaikan,”Sebagian besar dari dana capex tersebut dipergunakan membiayai ekspansi mesin baru di Padang dan Rembang untuk mengamankan pasokan semen nasional tahun 2015,”ujarnya.

Menurut Agung, pertumbuhan konsumsi semen nasional pada tahun ini diproyeksi akan lebih baik, setelah mengalami perlambatan pada tahun lalu. Pertumbuhan konsumsi semen nasional tahun 2015 diperkirakan mencapai 5-6% lebih tinggi dibanding tahun 2014 sebesar 3,5%.

Agung optimistis kedua pabrik tersebut dapat berproduksi sesuai rencana yang telah ditetapkan perseroan, meski sebagian kecil warga khususnya di Rembang, tengah mempermasalahkan izin Amdal pembangunan pabrik di kota tersebut,”Seluruh proses pembuatan Amdal pabrik di Rembang, telah kami laksanakan secara proper sesuai aturan yang berlaku. Kami optimistis proses hukum di PTUN Jawa Tengah dapat segera selesai," papar Agung.

Kata Agung, izin lingkungan yang diberikan Pemprov Jawa Tengah kepada PT Semen Indonesia Tbk untuk pembangunan pabrik semen di Rembang, telah berdasarkan pada Amdal yang bersifat ilmiah dan keilmuan (science), yang telah melalui berbagai tahapan dan prosedur yang berlaku.

Amdal diterbitkan setelah melalui perhitungan dan penelitian para pakar yang mumpuni dibidangnya. Begitu pula, Amdal telah mengacu pada aturan umum yang ada seperti RTRW, RDTR sampai RTTR (rencana teknis tata ruang) yang telah ditetapkan pemerintah, ujar dia lebih lanjut,”Amdal itu adalah aturan main, berupa berbagai kesepakatan yang wajib dipatuhi oleh pihak yang mengajukannya. Namun, Amdal itu belum sampai pada tahap pelaksanaan. Jadi belum dilaksanakan, kok malah digugat, lalu fakta hukumnya mengambil darimana? Gugatan tersebut sangat prematur karena hanya berdasarkan pada asumsi," tegasnya. (bani)

Related posts