PT Timah Siapkan Capex Rp 1,1 Triliun

NERACA

Jakarta – Sampai dengan akhir tahun ini, PT Timah Tbk (TINS) menyiapkan dana sebesar Rp 1,1 triliun untuk belanja modal (capital expenditure/capex) atau meningkat dari realisasi tahun lalu Rp 800 miliar. Perseroan akan menggunakan sebagian besar capex untuk memproduksi timah.

Sekretaris Perusahaan Timah Agung Nugroho mengungkapkan, perseroan akan menggunakan kas internal dan pinjaman bank untuk memenuhi kebutuhan capex. “Sebelumnya, perusahaan selalu menggunakan kas untuk capex, tetapi tahun ini kami mengkaji pinjaman ke beberapa bank badan usaha milik negara (BUMN),” katanya di Jakarta,kemarin.

Perseroan akan menggunakan sebagian besar capex untuk perawatan (maintenance) peralatan, penambahan unit, upgrading, dan eksplorasi. Adapun ekspansi lainnya yang belum sempat dilakukan pada tahun lalu tengah dikaji ulang.

Sementara itu, mengenai bisnis properti, Timah bakal mendirikan anak usaha baru pada awal tahun ini. “Bisnis properti itu untuk jangka panjang. Kami menggandeng PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya untuk mendirikan anak usaha itu,” ungkap Agung.

Meskipun menggandeng dua perusahaan pelat merah lainnya, Agung mengungkapkan bahwa proyek properti yang akan dikerjakan nantinya dapat bekerja sama dengan pihak manapun. Namun, dia menegaskan bahwa rencana untuk bisnis properti Timah akan dibahas lebih lanjut setelah pendirian anak usaha tersebut.

Tahun lalu, Agung mengungkapkan, Timah bakal membangun kawasan terpadu (mixed use) di Bekasi, Jawa Barat, pada 2015. Nilai investasi proyek tersebut sekitar Rp 1 triliun. “Dana berasal dari kas internal,” ucap dia.

Agung menegaskan, hal itu merupakan langkah awal komitmen Timah untuk masuk ke lini bisnis properti. Perseroan akan membangun perumahan, apartemen, perkantoran, dan kawasan komersial. Menurut dia, Timah membidik penduduk di Bekasi yang terus bertambah. Perseroan memiliki lahan siap pakai seluas 176 hektare (ha) di Bekasi. Aset tanah itu diestimasi sekitar Rp 2 triliun.

Perseroan juga akan membangun proyek properti di beberapa lahan milik perseroan di Bandung dan Bangka Belitung. Di Bandung, perseroan membidik segmen pasar residensial dan komersial. “Di Bangka Belitung, perseroan berencana mengembangkan kawasan wisata tambang dan lapangan golf,” imbuhnya.

Hingga kuartal III – 2014, produksi logam timah perseroan meningkat 15,62% menjadi 18.601 ton, dibandingkan periode sama 2013 sebanyak 16.088 ton. Adapun penjualan logam naik 2,87% menjadi 15.664 ton, dibandingkan sebelumnya 15.227 ton.

Manajemen Timah mengungkapkan, harga jual rata-rata komoditas timah pada kuartal III tahun lalu naik. Harga jual rata-rata mencapai US$ 21.849 per ton atau lebih tinggi dibandingkan periode sama 2013 sebesar US$ 21.318 per ton. Sebagai salah satu perusahaan besar, Timah akan tetap selektif dalam melakukan penjualan dalam rangka menjaga stabilitas harga. Meski termasuk komoditas yang likuid, persediaan logam timah perseroan akan dilepas sesuai kebutuhan. (id/bani)

Related posts