Industri Dalam Negeri Hanya Mampu Garap 7 Ribu MW - Dari Rencana Pembangunan Pembangkit Listrik 35 Ribu MW

NERACA

Jakarta - Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Kementerian Perindustrian, Teddy C. Sianturi, megungkapkan Industri Dalam Negeri (IDN) ketenagalistrikanan nasional hanya mampu mengerjakan 7.000 megawatt (MW) dari 35.000 MW dari rencana program pemerintah selama kurun waktu 5 tahun dari tahun 2014 - 2019.

"Kemampuan industri listrik kita masih terbatas, hanya mampu menggarap 7.000 MW saja dari rencana pemerintah yang 35.000 MW selama 5 tahun itu," katanya kepada wartawan saat menghadiri acara Workshop "Kemampuan Industri Dalam Negeri Untuk Mendukung Pembangunan PLTU dan PLTP", di Jakarta, Kamis (15/1).

Itu pun, lanjut Teddy, industri nasional hanya mampu mengerjakan yang skala kecil di bawah 30 MW terutama untuk pembangunan listrik di desa-desa ataupun wilayah pinggiran. "Iya baru yang tenaga listrik kecil di bawah 30 MW," imbuhnya.

Namun dirinya menyebutkan, memang kelihatannya kecil tapi banyak, sehingga meski masih terbatas setidaknya bisa mengerjakan membantu pembangunan listrik di kampung-kampung yang diharapkan dengan pembangunannya itu mampu mendorong perekonomian setempat. "Masih banyak daerah pelosok yang ekonominya tidak berjalan karena kurangnya pasokan listrik, dengan adanya pembangunan ini nantinya diharapkan perekonomian di wilayah tersebut dapat berjalan," ujarnya.

Selain kemampuan pembangunan yang terbatas, saat ini kemampuan suporting bahan baku dalam negeri juga masih minim hanya mampu menyokong 30 persen dari kebutuhan komponen ketenagalistrikan yang dibutuhkan saat ini. "Memang selain terbatas pada kemampuan pembangunan kapasitas daya, komponen dalam negeri juga belum bisa 100 persen menyokong kebutuhan bahan baku listrik nasional,” ucapnya.

Disamping itu juga, masalah lain yang mengganjal di industri listrik nasional adalah di masalah permodalan, selama ini perusahaan industry listrik kemampuan permodalannya terbatas. Untuk itu, disini juga perlu dukungan perbankan atau bahkan mukin investor luar untuk bisa menyokong permodalan. “Tidak dipungkiri permodalan juga masih menjadi kendala industry listrik dalam negeri,” tandasnya.

Namun begitu, dirinya optimis dengan peluang market yang luas di dalam negeri seiring dengan komitmen pemerintah untuk terus membangun infrastruktur tenaga listrik. Maka ke depan industry listrik dalam negeri bisa tumbuh lebih bagus. “Potensinya tinggi, maka dari itu kita dorong industry ini bisa berkembang, agar di masa depan industry listrik dalam negeri bisa mengcover kebutuhan tenaga listrik nasional,” tuturnya.

Pasar Luas

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balitbang ESDM Sutjiastot menambahkan, meski saat ini industry dalam negeri hanya mampu menggarap skala kecil, tapi marketnya sangat luas. Meski saat ini hanya bisa menggarap 7.000 MW, tapi ke depan pasti bisa mengcover semua. Oleh karena itu kami, lintas kementrian yang menangani ini akan terus bersinergi untuk mendorong ke arah sana. “Saat ini kebutuhan listrik di daerah meski kecil tapi banyak, itu yang menjadi peluang pasar saat ini,” katanya.

Untuk itu, meski saat ini kebutuhan pemerintah yang 35.000 MW belum bisa seluruhnya dikerjakan oleh IDN, tapi setidaknya ke depan seiring dengan kemampuan dari industry dalam negeri dengan menggarap yang kecil-kecil dulu kemungkinan besar ke depan bisa mentake over semua. “Untuk tenaga listrik di atas 100 MW memang banyak dikerjakan oleh asing, yang di kerjakan IDN kita baru yang di bawah 30 MW. Tapi jangan salah market yang di bawah juga tidak sedikit, ini sebagai pembelajaran dan melihat batas kemampun IDN dulu. Baru nanti setelah semuanya siap, dan dirasa mampu kami serahkan semua ke industri lokal,” ujarnya.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri ESDM Sudirman Said, mengatakan megaproyek pembangunan listrik terdiri atas 35.000 MW yang akan dikerjakan dan 7.000 MW yang saat ini sudah berjalan. “Kami akan bekerja keras merealisasikan proyek besar ini, dan nantinya dari 35.000 MW ini akan menjadi 508 proyek akan terbagi,” ujarnya.

Sudirman menjelaskan, dari 508 proyek pembangkit tersebut, PT PLN (Persero) membangun 243 unit pembangkit dengan kapasitas 18.461 MW dan 265 unit berdaya 24.507 MW lainnya oleh swasta dengan skema independent power producer (IPP).

“Untuk proyek ini kami membentuk Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UP3KN) sebagai project management office (PMO) yang akan memastikan pelaksanaan proyek,” ungkapnya.

Saat ini, dari 508 proyek sebanyak 383 pembangkit itu sudah siap lahannya, dan bagian terbesar proyek itu berada di Jawa dengan total kapasitas 23.277 MW yang 8.389 MW dibangun PLN dan 14.888 MW dikerjakan IPP. “Di Jawa, PLN akan mengerjakan 21 proyek yang 14 di antaranya sudah siap lahan. Sementara, dari 82 proyek IPP di Jawa, 71 di antaranya lahan sudah siap,” tukasnya.

Related posts