ISIS dan Medua Massa - Oleh: Tony Priyono, Alumnus Pasca Sarjana Universitas Indonesia

Setelah penyerangan dan penembakan terhadap majalah satirCharlie Hebdodi Paris yang menewaskan Stephane Charbonnier, pemimpin redaksimajalah tersebutdan 3 kartunis serta beberapa pekerjanya,sehingga total korban tewas mencapai 12 orang, diteruskan dengan penembakan terhadap polisi perempuan dan polisi bernama Ahmed yang beragama Islam bernama Ahmed, sehingga memunculkan solidaritas di sosial media, dilanjutnya dengan “siege” terhadap toko “Kosher” milik seorang Yahudi dimana 15 orang disandera, 4 diantaranya terbunuh termasuk salah satu tersangka penyanderaan.

Rangkaian teror yang terpotret di media massa terus berlanjut. The Washington Post 12 Januari 2014 memuat berita berjudul “U.S. military social media accounts apparently hacked by Islamic State sympathizers”The self-declared Cybercaliphate“is already here, we are in your PCs, in each military base,” the hackers wrote on the seized Twitter feed for Centcom, which oversees the US-led air war against the group in Iraq and Syria. Akun twitter US Central Command/Komando Pusat AS dibajak oleh pihak yang mengaku mendukung kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Foto cover akun @centcom tersebut disusupi gambar seorang pejuang berkain penutup. Pembajak juga menyelipkan kata-kata 'CyberCaliphate' dan'I love you ISIS'menggantikan banner US Centcom. Selain itu si pembajak juga menuliskan tweet yakni'ISIS is already here, we are in your PCs, in each military base'. Sesaat kemudian, akun twitter Centcom disuspend. Komando Pusat AS berada di Tampa, Florida yang dijadikan markas untuk mengawasi pasukan AS di kawasan Timur Tengah. Para pejabat AS mengatakan mereka sedang menyelidiki pembajakan ini. Namun belum ditemukan adanya dokumen rahasia yang dikirim oleh pembajak.

Blokir dan Waspadai

Di awal Januari 2015 di New Delhi, Pemerintah India memblokir 32 situs yang diduga kontennya berisi dukungan terhadap kelompok ISIS, diantaranya Vimeo, Weebly, DailyMotion, Archive.org dan GitHub. Pemblokiran tersebut, menyusul penangkapan Mehdi Masroor Biswas pada Desember 2014, yang mengaku mengoperasikan akun Twitter pro-ISIS. Sebelumnya, Pemerintah India mengeluarkan kebijakan yang menolak dan melarang keberadaan paham ISIS karena dinilai menyebarkan kebencian terhadap kelompok lain.

Situs beritacnn.comtanggal 12 Januari 2014 menampilkan berita berjudul “NYPD, other law enforcement on alert after ISIS threat resurfaces” dimana Kepolisian New York, Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman ISIS pasca munculnya pesan pada September 2014 yang intinya “serangan teror akan meningkat dan membunuh aparat intelijen, aparat kepolisian, tentara dan masyarakat sipil” terutama dengan sasaran mereka yang berasal dari Amerika Serikat, Perancis, Australia dan Kanada.

Sementara itu, websitewww.news.com.autanggal 13 Januari 2014 menulis berita berjudul “Government issues warning over ISIS email scam” yang intinya lembaga bernamaThe Australian Communications and Media Authoritymengingatkan agar masyarakat tidak membuka email dengan subyek“ISIS attacks in Sydney?”.Lembaga ini juga memperingatkan bahwa Australia terutama Sydney akan diserang oleh ISIS di tahun 2015.

Pengaruh “simplifikasi” pemberitaan media massa yang menyoroti masalahhacker cyberdan pemberitaan aktivitas ISIS sebenarnya malah menguntungkan ISIS dan merugikan pihak lainnya. Menguntungkan ISIS karena tujuan mereka meneror mendapatkan respon yang meluas dan itu yang dicita-citakan oleh mereka, termasuk munculnya opini yang malah “mendukung” ISIS misalnya dengan menyatakan apa benar ISIS memusuhi Israel, Amerika Serikat dan Inggris, karena sejauh ini ISIS tidak pernah menyerang Israel. Bahkan ada yang menilai bahwa keberadaan ISIS menjadi “justifikasi” kehadiran AS di Timur Tengah, termasuk merupakan proxy war dan false flag yang menyudutkan pihak lainnya terutama Islam dengan “penyebarluasan”outrageousdanatrocities(kekejaman) yang menimbulkan “penyebutan penghinaan” sepertimoronic(tolol) dansavages(biadab) yang merugikan kelompok lainnya.

Oleh karena itu, langkah majalah Jerman yaitu Bilddi Berlin, dan 50 orang terkemuka di Jerman menyerukan penghentian aksi-aksi sentimen anti Islam (Islamofobia) yang akhir-akhir ini meningkat di Jerman. Seruan itu disampaikan usai ribuan pengunjuk rasa di beberapa kota di Jerman (Berlin dan Koln) pada hari yang sama menggelar aksinya dalam menentang eksistensi imigran muslim di Jerman (Islamophobia dan Xenofobia) yang disuarakan oleh PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamization of the Occident).Sementara, aksi-aksi tandingan menentang aksi-aksi yang dilakukan oleh PEGIDA digelar di Berlin dan Koln dalam jumlah yang lebih besar. Mereka menuding PEGIDA memanas-manasi rasisme dan intoleransi.

Langkah yang tepat menghadapinya adalah blokir media yang membela kelompok teror, waspadai langkahnya dan media massa tidak perlu memihak terhadap kelompok-kelompok seperti ini.Semoga!***

Related posts