APBN-P 2015 Jadi Penentu Pintu Masuk Investor di Indonesia

APBN-P 2015 Jadi Penentu Pintu Masuk Investor di Indonesia Sejauh ini perekonomian di Indonesia bisa dibilang masi stabil, mulai dari investasi tanah, properti, saham, dan pertambangan yang saat ini prospeknya sangat bagus. Hal ini lah yang di lihat para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia NERACA Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Muhammad Hanif mengatakan, kondisi investasi tahun ini lebih pasti ketimbang tahun lalu. Tahun lalu tergolong sangat dinamis karena ada peristiwa politik selama sepuluh bulan sampai inflasi tinggi dari pemotongan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal tersebut ditambah juga dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang tinggi sampai 7,75 persen. "Tahun ini akan lebih certain dibanding tahun lalu, kebijakan ekonomi kita bisa dilaksanakan yang fokus ke infrastruktur," ujar Hanif dalam acara Tantangan dan Peluang Investasi 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (14/1/2015). Sejauh ini investasi di saham masih menarik walaupun harus jangka panjang. Jenis investasi jangka panjang yang seharusnya digenjot adalah reksadana. "Kalau jangka pendek, karena tingkat bunga relatif tinggi, bagi pemilik modal yang besar dan special rate yang besar di reksadana pasar uang jadi menarik," tutur Hanif. Tahun ini, kata dia, reksadana industri akan tumbuh 25 persen, menurun ketimbang tahun lalu yang mencapai 27 persen. Berkaitan dengan normalisasi suku bunga The Fed, dia mengatakan memang akan berpengaruh pada reksadana saham. Tahun ini, lanjut Hanif pengaruhnya pada target pertumbuhan eps (nilai kelola investasi) reksadana saham yang akan berada di 11-13 persen. Berkaitan dengan dana asing yang diperkirakan akan pulang kampung ke Amerika Serikat, Hanif menanggapinya dengan optimis. "Kalau memang dia harus pergi dulu ya pergi tapi nanti kembali lagi. Setiap ada action pasti ada impact nya," ucap Hanif. Pertumbuhan ekonomi Tanah Air diprediksinya akan lebih baik di kepala 5 persen yakni sekitar 5,3-5,5 persen. Besaran tersebut menurutnya masih baik. Laporan terkini Global Economic Prospects 2015, World Bank menyebutkan Indonesia bertumbuh tidak lebih dari 5,5 persen sepanjang 2016-2017. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum meningkatnya ekonomi Tiongkok dan nilai tukar mata uang yang masih bergejolak. Anggaran APBN-P Pintu Investasi Penentuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 diyakini dapat menentukan sentimen pasar dalam mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menetapkan APBN-Perubahan tanpa masalah. "APBN-P penting sekali karena adanya persetujuan dari DPR. Untuk Investor asing lebih melihat ke sini terkait dengan kebijakan subsidi dan tambahan untuk perusahaan BUMN," tutur Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Budi Hikmat di Jakarta pekan lalu. Budi menjelaskan, jika APBN yang banyak direvisi seperti tahun lalu, maka dapat berpengaruh terhadap penurunan kredibilitas pemerintah. "Kalau APBN enggak banyak direvisi kan enggak banyak ketemu dengan DPR. Jadi waktu kerjanya lebih banyak," ungkapnya. Lebih lanjut Budi mengatakan, dengan dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) maka akan melonggarkan ruang fiskal negara, dan dapat dialihkan ke subsidi yang lebih produktif. "Dari subsidi barang jadi subsidi orang itu lebih efektif. Seperti yang diketahui Pemerintah sekarang sedang menggenjot infrastruktur," ucap dia. Budi menjelaskan, jika pemerintah dapat menyusun APBN secara baik, maka ekonomi Indonesia dapat tumbuh 7 persen, sesuai dengan target pemerintahan saat ini. "Sistem subsidi tetap, hindari tradisi revisi APBN. Saat ini ruang fiskal dipersempit oleh penurunan pendapatan pajak migas yang sejalan dengan jatuhnya harga minyak. Pemerintah perlu memacu penerimaan pajak pendapatan, penjualan, dan bea cukai," imbuhnya.J

Sejauh ini perekonomian di Indonesia bisa dibilang masi stabil, mulai dari investasi tanah, properti, saham, dan pertambangan yang saat ini prospeknya sangat bagus. Hal ini lah yang di lihat para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia

NERACA

Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Muhammad Hanif mengatakan, kondisi investasi tahun ini lebih pasti ketimbang tahun lalu. Tahun lalu tergolong sangat dinamis karena ada peristiwa politik selama sepuluh bulan sampai inflasi tinggi dari pemotongan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal tersebut ditambah juga dengan tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang tinggi sampai 7,75 persen. "Tahun ini akan lebih certain dibanding tahun lalu, kebijakan ekonomi kita bisa dilaksanakan yang fokus ke infrastruktur," ujar Hanif dalam acara Tantangan dan Peluang Investasi 2015 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (14/1/2015).

Sejauh ini investasi di saham masih menarik walaupun harus jangka panjang. Jenis investasi jangka panjang yang seharusnya digenjot adalah reksadana.

"Kalau jangka pendek, karena tingkat bunga relatif tinggi, bagi pemilik modal yang besar dan special rate yang besar di reksadana pasar uang jadi menarik," tutur Hanif.

Tahun ini, kata dia, reksadana industri akan tumbuh 25 persen, menurun ketimbang tahun lalu yang mencapai 27 persen.

Berkaitan dengan normalisasi suku bunga The Fed, dia mengatakan memang akan berpengaruh pada reksadana saham. Tahun ini, lanjut Hanif pengaruhnya pada target pertumbuhan eps (nilai kelola investasi) reksadana saham yang akan berada di 11-13 persen.

Berkaitan dengan dana asing yang diperkirakan akan pulang kampung ke Amerika Serikat, Hanif menanggapinya dengan optimis. "Kalau memang dia harus pergi dulu ya pergi tapi nanti kembali lagi. Setiap ada action pasti ada impact nya," ucap Hanif.

Pertumbuhan ekonomi Tanah Air diprediksinya akan lebih baik di kepala 5 persen yakni sekitar 5,3-5,5 persen. Besaran tersebut menurutnya masih baik.

Laporan terkini Global Economic Prospects 2015, World Bank menyebutkan Indonesia bertumbuh tidak lebih dari 5,5 persen sepanjang 2016-2017. Hal tersebut dipengaruhi oleh belum meningkatnya ekonomi Tiongkok dan nilai tukar mata uang yang masih bergejolak.

Anggaran APBN-P Pintu Investasi

Penentuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 diyakini dapat menentukan sentimen pasar dalam mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menetapkan APBN-Perubahan tanpa masalah.

"APBN-P penting sekali karena adanya persetujuan dari DPR. Untuk Investor asing lebih melihat ke sini terkait dengan kebijakan subsidi dan tambahan untuk perusahaan BUMN," tutur Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Budi Hikmat di Jakarta pekan lalu.

Budi menjelaskan, jika APBN yang banyak direvisi seperti tahun lalu, maka dapat berpengaruh terhadap penurunan kredibilitas pemerintah. "Kalau APBN enggak banyak direvisi kan enggak banyak ketemu dengan DPR. Jadi waktu kerjanya lebih banyak," ungkapnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan, dengan dinaikkannya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) maka akan melonggarkan ruang fiskal negara, dan dapat dialihkan ke subsidi yang lebih produktif. "Dari subsidi barang jadi subsidi orang itu lebih efektif. Seperti yang diketahui Pemerintah sekarang sedang menggenjot infrastruktur," ucap dia.

Budi menjelaskan, jika pemerintah dapat menyusun APBN secara baik, maka ekonomi Indonesia dapat tumbuh 7 persen, sesuai dengan target pemerintahan saat ini.

"Sistem subsidi tetap, hindari tradisi revisi APBN. Saat ini ruang fiskal dipersempit oleh penurunan pendapatan pajak migas yang sejalan dengan jatuhnya harga minyak. Pemerintah perlu memacu penerimaan pajak pendapatan, penjualan, dan bea cukai," imbuhnya.

Related posts