Harga Premium Diprediksi Turun di Bawah Rp 7.000

NERACA

Jakarta – Terus menurunnya harga minyak dunia hingga ke level US$ 45 per barel, menjadi kabar gembira bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, dampak hal tersebut, pemerintah berencana kembali menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Kabarnya, kebijakan pemerintah untuk penyesuaian harga itu akan dilakukan paling lambat akhir pekan ini.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengatakan, pemerintah pada pekan ini akan kembali menyesuaikan harga BBM seiring terus menurunnya harga minyak dunia,”Sebagai bocoran, dalam satu dua hari akan me-review harga BBM karena situasi harga minyak menurun terus," ujarnya di Jakarta, Rabu (14/01).

Sudirman belum mau membeberkan besaran penurunan harga tersebut. Dia hanya bilang pemerintah akan melakukan evaluasi setiap dua pekan sekali dalam menyikapi harga minyak dunia. Periode evaluasi itu berbeda dengan yang ditetapkan sebelumnya yakni setiap satu bulan sekali. Untuk itu, kata Sudirman pihaknya akan merevisi Peraturan Menteri ESDM No 39 Tahun 2014 yang menetapkan perubahan harga BBM. "Nantinya kami akan kaji dalam dua minggu sekali. Kalau harus menunggu sampai akhir bulan, sepertinya harga akan terus jatuh," ujarnya.

Harga BBM jenis Premium yang dijual saat ini sebesar Rp 7.600 per liter. Sedangkan harga BBM jenis Solar sebesar Rp 7.250 per liter. Harga tersebut disesuaikan pemerintah terhitung sejak 1 Januari 2015 pukul 00.00 WIB.

Sementara itu, Pertamina memprediksi harga premium bakal turun hingga di bawah Rp 7.000 per liter. "Dengan kecenderungan harga yang ada, premium bisa turun lebih dari Rp 600 per liter atau menjadi di bawah Rp 7.000 per liter," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang, pekan ini.

Menurut dia, sejak 25 Desember 2014, harga minyak sekitar US$ 50 per barel dan produk BBM di Singapura sesuai patokan MOPS sekitar US$ 60 per barel,”Setiap penurunan MOPS sebesar satu dolar per barel, harga BBM bisa turun Rp 50. Tapi, tergantung pergerakan kursnya," katanya.

Sesuai Peraturan Menteri No 39 Tahun 2014, pemerintah per 1 Januari 2015 menurunkan harga premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter. Perhitungan harga tersebut mengacu MOPS sebesar US$ 73 per barel dan kurs Rp 12.380 per dolar pada periode 25 November-24 Desember 2014.

Bagi ekonom PT Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, rencana pemerintah yang bakal kembali menurunkan harga BBM akan memberikan sentiment positif bagi laju pertumbuhan ekonomi di tengah inflasi Januari 2015 yang masih berpotensi tinggi, mengingat faktor musim paceklik. Terlebih lagi pemerintah tampaknya tidak banyak melakukan upaya mengendalikan kenaikan harga, seperti operasi pasar.

Namun penurunan harga bahan bakar minyak yang akan diikuti dengan penurunan tarif angkutan diperkirakan akan meredam kenaikan harga tersebut. Sehingga inflasi bulan ini diperkirakan tidak berbeda jauh dengan inflasi bulanan yang sama akhir tahun lalu.

Sementara itu inflasi laju bulanan pada Januari 2014 sekitar 1,07%. Sehingga inflasi tahunan pada bulan ini diperkirakan masih bertahan di sekitar 8,4%. Dari sisi eksternal tekanan inflasi diperkirakan relatif terjaga. Karena harga komoditas diperkirakan akan relatif stabil sampai akhir tahun 2015.

Purbaya memperkirakan harga minyak 2015 sebesar US$ 82 hingga US$ 86 per barel,”Dengan perkembangan itu, maka inflasi sepanjang tahun 2015 akan relatif stabil. Bahkan menurun tajam pada November 2015 menjadi sekitar 5 persen di akhir tahun 2015," ujar dia.

Dia menambahkan, kebijakan pemerintah mengenai harga BBM pada 1 Januari 2015 lalu membuat ruang fiskal pemerintah longgar. Hal itu disebabkan fluktuasi harga minyak dunia maupun kurs rupiah hanya berpengaruh pada besarnya subsidi minyak tanah. "Penghematan subsidi dapat dialokasikan pada pengeluaran pemerintah yang lebih produktif," ucapnya.

Akan tetapi, pemerintah harus mengingat bahwa penurunan harga minyak dunia menyebabkan penghematan yang didapat tidak sebesar yang diprediksi semula. Karena penerimaan dari migas akan menurun seiring dengan penurunan harga minyak dunia. "Dengan kebijakan tersebut maka tren laju inflasi jangka panjang diperkirakan juga akan menuju level yang lebih rendah,"jelasnya. bani

Related posts