Bakrie Brothers Lancarkan Negosiasi Utang - Konversi Jadi Saham Rp 4,5 Triliun

NERACA

Jakarta - PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berencana merestrukturisasi utang perseroan. Saat ini, perseroan tengah bernegosiasi dengan para pihak dalam rangka restrukturisasi utang tersebut. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (14/1).

Direktur & Corporate Secretary BNBR, R.A. Sri Dharmayanti mengatakan, saat ini perkiraan nilai utang yang akan dikonversi menjadi saham adalah sebesar Rp4,5 triliun sampai dengan Rp5,2 triliun. Di mana perkiraan waktu pelaksanaan rencana konversi utang menjadi saham adalah pada tahun ini,”Selain itu, sumber pendanaan pelunasan utang adalah melalui pinjaman bank (refinancing) dan/atau dengan cara penjualan sejumlah aset perseroan,”ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini tidak ada informasi fakta dan kejadian penting lainnya yang harus segera diumumkan kepada public,”Informasi ini menunjuk surat BEI perihal permintaan penjelasan atas pemberitaan di media massa, sehingga kami, PT Bakrie & Brothers Tbk dengan ini menyampaikan penjelasan tersebut," ucap dia.

Sebagai informasi, saham perusahaan-perusahaan grup Bakrie yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) terlihat semakin memburuk dari waktu ke waktu. Presiden dan Pendiri PT Astronacci International Gema Merdeka Moeryadi pernah bilang, hal tersebut terjadi dikarenakan masing-masing perseroan tidak menerapkan tata kelola perusahaan dengan baik,”Para pemimpin perusahaan yang tergabung dalam grup Bakrie merupakan penyebab utama hilangnya kepercayaan investor dan bukan karena sektor atau bisnis yang dijalankannya,”ujarnya.

Menurutnya, seharusnya jika emiten mencari modal darimarketjagalah kepercayaan masyarakat dan jangan membuatcorporate governanceyang tidak benar. Oleh karena itu, dirinya berharap seluruh direksi yang ada di perusahaan grup Bakrie diganti oleh orang-orang yang lebih mampu membangun kepercayaan investor.

Dia menilai, hilangnya kepercayaan investor terlihat dari aksi korporasi yang dilakukan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) saat melakukan penerbitan saham baru, tetapi tidak ada yang membeli saham tersebut,”Investor kurang percaya dengan BUMI. Sekarang tuh investor sudah terkoneksi dengan dunia luar. Mereka sudah bisa menilai. Jadi, harus ada transformasi besar-besaran,”tandasnya.

Sementara menurut Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan, anjloknya saham Group Bakrie dipicu karena dari anjloknya saham PT Bumi Resources Tbk. Pasalnya, saham sektor pertambangan ini merupakan motor penggerak saham-saham perusahaan Group Bakrie lainnya yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI),”Jika saham BUMI mengalami pelemahan, akan berimbas pada kinerja saham perusahaan lainnya,”ungkapnya.

Tercatat, beberapa saham group Bakrie saat ini berada di level Rp 50 per saham, seperti PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (UNSP), PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), PT Darma Henwa (DEWA). Sementara, saham BUMI saat ini di level Rp 78 per saham. (bani)

Related posts