Danareksa Prediksi Rupiah Bakal Rp 11.750

NERACA

Jakarta –Rencana pemerintah yang bakal kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan sentiment positif dari Eropa, menjadi alasan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bakal menguat. PT Danareksa (Persero) memprediksi rata-rata posisi dolar AS ada di kisaran Rp 11.750 dan nilai tukar rupiah masih berada di titik yang rendah, sehingga masih ada ruang untuk menguat.

Menurut ekonom dari Danareksa, Purbaya Yudhi Sadewa, nilai tukar rupiah akan berada pada level Rp11.700-Rp11.800,”Saya menyakini tahun ini, rupiah akan menguat secara perlahan,”ungkapnya di Jakarta, Rabu (14/1).

Dia menjelaskan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS disebabkan kemampuan pemerintah mengendalikan inflasi. Laju inflasi diperkirakan pada angka 5,04% pada tahun ini atau turun dibandingkan tahun sebelumnya 7,42%.

Untuk Januari 2015, inflasi masih berpotensi cukup tinggi. Mengingat faktor musim paceklik, artinya harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan yang cukup tinggi. Terlebih lagi pemerintah tampaknya tidak banyak melakukan upaya mengendalikan kenaikan harga, seperti operasi pasar.

Namun penurunan harga bahan bakar minyak yang akan diikuti dengan penurunan tarif angkutan diperkirakan akan meredam kenaikan harga tersebut. Sehingga inflasi bulan ini diperkirakan tidak berbeda jauh dengan inflasi bulanan yang sama tahun lalu.

Sementara itu inflasi laju bulanan pada Januari 2014 sekitar 1,07%. Sehingga inflasi tahunan pada bulan ini diperkirakan masih bertahan di sekitar 8,4%. Dari sisi eksternal tekanan inflasi diperkirakan relatif terjaga. Karena harga komoditas diperkirakan akan relatif stabil sampai akhir tahun 2015. EIA memperkirakan harga minyak tahun 2015 sebesar US$ 82 hingga US$ 86 per barel,”Dengan perkembangan itu, maka inflasi sepanjang tahun 2015 akan relatif stabil. Bahkan menurun tajam pada November 2015 menjadi sekitar 5 persen di akhir tahun 2015," ujar dia.

Purbaya menjelaskan, kebijakan pemerintah mengenai harga BBM pada 1 Januari 2015 lalu membuat ruang fiskal pemerintah longgar. Hal itu disebabkan fluktuasi harga minyak dunia maupun kurs rupiah hanya berpengaruh pada besarnya subsidi minya tanah. "Penghematan subsidi dapat dialokasikan pada pengeluaran pemerintah yang lebih produktif," ucapnya.

Akan tetapi, pemerintah harus mengingat bahwa penurunan harga minyak dunia menyebabkan penghematan yang didapat tidak sebesar yang diprediksi semula. Karena penerimaan dari migas akan menurun seiring dengan penurunan harga minyak dunia. "Dengan kebijakan tersebut maka tren laju inflasi jangka panjang diperkirakan juga akan menuju level yang lebih rendah,"jelasnya.

Danareksa memaparkan faktor yang dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah, yakni proses neraca transaksi berjalan yang lebih baik karena didukung ekspor yang membaik. Serta upaya pemerintah mendorong pertumbuhan industri perkapalan dan asuransi. Selain, memberikan insentif fiskal bagi investor asing yang menanamkan labanya di Indonesia. (bani)

Related posts