BI Rate Wajib Turun

NERACA

Jakarta - Pengamat ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa, menuturkan bahwa penurunan harga BBM pada awal Januari mampu menekan inflasi ke angka yang lebih rendah. "Jadi, tidak ada alasan BI kembali menaikan BI Rate, bahkan harusnya turun, meski inflasi setelah kenaikan BBM sebelumnya cukup tinggi," katanya di Jakarta, Rabu (14/1).

Purbaya mengungkapkan, pengambilan keputusan BI untuk menetapkan besaran suku bunga harus didasari pada perkiraan ke depan. "Dengan inflasi yang akan menurun pada bulan-bulan berikutnya, maka BI Rate tidak perlu berubah," ucapnya.

Purbaya berpendapat, langkah Federal Reserve AS menaikkan Fed funds rate akan sangat mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Meski demikian, kebijakan eksternal tersebut tidak perlu serta merta dibarengi dengan keputusan BI untuk menaikkan BI Rate pula. "Kondisi ekonomi kita berbeda dengan AS, jadi tidak perlu serta-merta menaikkan bunga," ujarnya.

Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, perekonomian Indonesia yang tengah melambat seharusnya ditanggapi oleh BI dengan menurunkan suku bunga. "Harus cerdas dalam mengambil tindakan ke depan. Kalau naikkan bunga, tentu akan mengganggu pertumbuhan ekonomi dan Rupiah," imbuhnya.

Dia memprediksi, jika sepanjang 2015 BI Rate masih berpeluang untuk turun ke level 7,5 persen. Sementara, pertumbuhan ekonomi akan berada di kisaran 5,3-5,4 persen. "Inflasi di akhir tahun (2015) akan menjadi sekitar 5 persen," tandasnya.

Hal sama juga pernah disampaikan oleh Pengamat pasar modal dan perbankan Adler Haymans Manurung menilai tingkat suku bunga acuan (BI rate) harus turun jika inflasi pada 2015 terkendali untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. “Suku bunga itu harusnya turun, bukan naik. Ini tiba-tiba pemerintah naikin harga BBM, BI langsung naikin tingkat bunga,” ujar Adler.

Guru Besar Universitas Bina Nusantara itu menuturkan tingkat suku bunga yang relatif tinggi saat ini menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi sektor riil. Ia berharap tahun depan BI rate dapat turun perlahan sehingga sektor riil dapat lebih bergairah. “Semua orang pusing atas tindakan BI menaikkan suku bunga, makanya sudah waktunya turun,” kata Adler.

Selain tingginya tingkat suku bunga, lanjut Adler, marjin perbankan di Indonesia yang masih cukup lebar juga menjadi beban pelaku industri yang terkena suku bunga kredit yang tinggi, terlebih sektor UMKM. Hal tersebut menjadi tantangan lainnya bagi sektor riil itu sendiri.

“Marjin yang diambil bank-bank ini terlalu tinggi. 5 persen rata-rata marjinnya, bahkan lebih. Coba anda lihat bank-bank di luar tidak lebih dari 5 persen, 3 persen pun tak sampai,” ujar Adler.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia Faisal Basri juga menilai tindakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga pascakenaikan BBM sebagai tindakan yang terlalu responsif.

Faisal menilai, potensi stabilitas makro ekonomi Indonesia pada 2015 mendatang akan relatif positif dan laju inflasi juga diperkirakan akan relatif terkendali.

Ia juga mengharapkan BI rate dapat lebih rendah dibandingkan saat ini yang berada di level 7,5 persen.

“Kita akan memiliki inflasi sekitar 4-4,5 persen pada tahun depan dan semoga membuat suku bunga tidak seperti ini lagi. Suku bunga mudah-mudahan akan ada di level 5 persen saja. Kita punya potensi baik di stabilitas makro ekonomi,” kata Faisal. [agus]

Related posts