Mandiri Investasi Incar NAB Rp 27 Triliun

NERACA

Jakarta – Meskipun pertumbuhan ekonomi dalam negeri mengalami perlambatan, namun tidak mempengaruhi ekspansi bisnis dan target kinerja PT Mandiri Investasi. Pasalnya, tahun ini perseroan menargetkan nilai aktiva bersih (NAB) sebesar Rp 24 triliun atau tumbuh 27% dari total tahun lalu sebesar Rp 19,3 triliun.

Direktur Utama PT Mandiri Investasi, Muhammad Hanif mengungkapkan, pihaknya optimis target NAB tahun ini bisa tercapai, meskipun belum ada produk reksa dana baru yang akan diluncurkan tahun ini,”Kita belum ada, hanya paling reksa dana proteksi yang jatuh tempo kita perpanjang. Yang ada saja, saham juga begitum mau apa lagi, semua tema kita sudah punya. Reksa dana saham syariah punya, medium small cap, tematik, kalau dikaitkan infrastruktur ada di reksa dana berbasis syariah, nanti orang bingung banyak banget mau pilih yang mana,”ungkapnya di Jakarta, Rabu (14/1).

Dia menjelaskan, prospeknya tidak bisa dilihat hanya satu jenis reks dana saja karena memiliki karakter yang berbeda,”Semuanya unggul, kalau untuk reksa dana obligasi bagus di bidang infrastruktur, edukasi, yang berkaitan dengan infrastruktur, perbankan juga baik, biayai infrastruktur," jelasnya.

Untuk penambahan agen penjual reksa dana, dia akan mengkaji terlebih dulu. Karena menurutnya melatih agen itu tidak mudah,”Kita liat dulu, kalau agen nambah seribu kalau belum siap gimana mau jualan. Kan mereka harus dididik, butuh waktu,”kata Hanif.

Menurut Chief Investment Officer Mandiri Investasi, Priyo Santoso, produk investasi yang menarik serta patut dilirik investor pada tahun ini adalah reksa dana saham. Namun demikian, investor dibutuhkan kejelian dalam memilih produk tersebut,”Reksa dana saham return-nya 25-30% di 2014. Tahun ini mencapai 16-18%. Paling besar dibanding produk investasi saham yang lain,”ungkapnya.

Selain reksa dana saham, beber dia, reksa dana campuran juga memiliki return sebesar 10-15% di tahun ini. Adapun return untuk reksa dana saham di tahun ini, dinilainya sudah cukup ideal. Kemudian untuk obligasi, lanjutnya agak sulit karena return-nya sebesar delapan sampai sembilan persen sudah bagus. Tahun lalu memang return obligasi besar di level 13-14%, angka sudah cukup fantastik, karena US treasury (Kementerian Keuangan AS) sedang bagus," jelas Priyo.

Di sisi lain, ungkap Priyo, Mandiri Investasi saat ini belum berencana mengeluarkan produk baru tahun ini. Sebab, menurut dia, tahun lalu produknya cukup agresif dibandingkan produk tahun ini,”Tahun ini kita belum memiliki rencana mengeluarkan produk. Produk tahun ini enggak ada yang baru, tahun lalu cukup agresif. Instrumen investasi kita sudah cukup, jadi belum punya keinginan mengeluarkan produk baru," ungkap dia.

Kemudian soal rencana Mandiri Investasi akan masuk ke ranah reksa dana berbasis efek luar negeri (LN). Dia menjelaskan, jikalau permintaan cukup besar, maka perusahaan akan membuat produk tersebut dengan baik,”Kami udah punya Mandiri Investasi 5 plus, investasi di ruang lingkup ASEAN. Kenapa pilih ASEAN, demografi, usia pertumbuhan produktif. Jadi ada di lima negara, Indonesia, Singapura, Thailand, Filipina, dan Malaysia. Itu lima plus reksa dana berbentuknya saham,”kata Priyo. (bani)

Related posts