Riset Perguruan Tinggi Tentukan Kemenangan di MEA

NERACA

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dapat menjadikan malapetaka bagi bangsa Indonesia bila pemerintah dan parastakeholderseperti Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) tidak bekerjasama untuk meningkatkan daya saing dan produktifitas bangsa Indonesia.

APTISI yang mewakili 90% dari perguruan tinggi di Indonesia dengan melayani lebih dari 70% mahasiswa di Indonesia dan mengkaryakan lebih dari 70% dosen di Indonesia siap untuk memberi kontribusi bagi pemerintah dalam tugas pemerintah menyiapkan sumber daya manusia Indonesia agar mempunyai daya saing yang kuat untuk menghadapi tantangan MEA serta meraih peluang yang maksimal dari MEA sehingga nilai tambah pembangunan dapat di raih oleh Bangsa Indonesia.

Dalam konteks menghadapi tantangan MEA bagi Civitas Akdemika di seluruh Indonesia, beberapa waktu lalu APTISI menyelenggarakan “Higher Education Stakeholder Dialog” dengan tema “Solusi Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Tercapainya Daya Saing Bangsa Indonesia di Era MEA, bertempat di Hotel Century Park.

Tujuan dari dialog tersebut adalah untuk menerima masukan dari pimpinan perguruan tinggi swasta serta mengajukan saran bagi para pengambil kebijakan di pemerintahan baik di eksekutif, legislatif maupun stakeholder lainnya yang terkait dengan pendidikan tinggi.

Dalam dialog ini Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M Nasir mengatakan akan terus mendorong hasil riset perguruan tinggi, baik dari negeri dan swasta yang dilanjutkan dengan publikasi riset tersebut ke dalam jurnal-jurnal. Untuk itu para generasi bangsa itu akan dibina, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas daya saing dengan negara lainnya.

Saat ini, porsi belanja penelitian dan pengembangan (litbang) pemerintah masih paling besar mencapai 74%, sedangkan pihak swasta hanya 26%. Kondisi ini mendorong Menristek-Dikti Muhammad Nasir untuk meningkatkan dana riset dari 0,09% menjadi 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) di periode 2015-2016 bersumber dari gabungan pemerintah dan swasta.

Menristek berkomitmen untuk mengucurkan dana riset yang bermanfaat langsung kepada masyarakat. Ini sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo, dengan berbasiskan based of market riset difokuskan untuk menemukan teknologi yang lebih hemat, ramah lingkungan.

"Kita juga akan melakukan lebih banyak riset teknologi pangan untuk mencapai berbagai swasembada yang telah ditargetkan pemerintah," kata Nasir.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Edy Suandi Hamid menuturkan, seiring meningkatnya anggaran dan pengelolaan anggaran riset yang terkelola dengan baik, maka akan bisa berkotribusi positif bagi bangsa.

"Makin besar dana untuk riset memungkinkan untuk untuk mengembangkan berbagai riset yang akan menjadi pemecahan masalah riil yang dihadapi bangsa ini," kata dia

Related posts