Lagi BBM Turun, IHSG Kembali Menguat

NERACA

Jakarta – Mengikuti bursa saham Asia yang ditutup terkoreksi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan saham Rabu sore (14/1) ikut terkoreksi. IHSG ditutup melemah 54,691 poin (1,05%) ke level 5.159,668. Sementara Indeks LQ45 menukik 10,618 poin (1,18%) ke level 886,936.

Menurut analis dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, pelemahan indeks BEI cenderung dipicu faktor bursa saham global yang berada di area negatif,"Sebagian pelaku pasar mengambil posisi lepas saham seraya menanti data penjualan ritel Amerika Serikat yang akan diumumkan,”ujarnya di Jakarta, Rabu (14/1).

Diproyeksikan data ekonomi AS itu membaik sehingga membuat sebagian investor khawatir kenaikan suku bunga AS (Fed rate) bisa lebih cepat dari jadwal. Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar saham di dalam negeri juga sedang menanti realisasi proyek infrastruktur pemerintah.

Dia menambahkan, adanya perbaikan sektor infrastruktur dapat menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akhirnya meningkatkan status peringkat investasi Indonesia menjadi "investment grade,”Peringkat investasi Indonesia yang membaik akan mengkis sentimen kenaikan Fed rate yang selama ini dikhawatirkan investor,”ungkapnya.

Sementara analis HD Capital, Yuganuir Wijanarko menambahkan bahwa aksi jual pelaku pasar mendorong IHSG kembali bergerak di bawah level 5.200 poin. Namun, menurut dia, penurunan indeks BEI itu dapat dimanfaatkan untuk mengakumulasi saham berkapitalisasi besar karena potensi IHSG BEI meningkat masih terbuka seiring dengan rencana pemerintah yang akan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium di bulan Februari tahun ini,”Sentimen terkait BBM itu dapat memberikan angin segar nantinya dan menahan penurunan lebih lanjut," katanya.

Pada perdagangan Rabu sore kemarin, saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual. Investor asing semakin semangat melepas saham sehingga tak satu pun sektor yang bisa menguat. Transaksi investor asing hingga sore melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 623,24 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler sebesar Rp 396,936 miliar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 246.564 kali dengan volume 7,667 miliar lembar saham senilai Rp 5,439 triliun. Sebanyak 79 saham naik, 219 turun, dan 86 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia kompak berjatuhan ke zona merah jelang penutupan perdagangan. Tak satu pun pasar saham yang bisa menguat.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 400 ke Rp 14.975, Blue Bird (BIRD) naik naik Rp 400 ke Rp 11.100, Inti Bangun (IBST) naik Rp 260 ke Rp 3.265, dan SMART (SMAR) naik Rp 100 ke Rp 6.900. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Astra Agro (AALI) turun Rp 1.000 ke Rp 24.900, Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 650 ke Rp 3.255, Solusi Tunas (SUPR) turun Rp 600 ke Rp 7.100, dan Lippo Insurance (LPGI) turun Rp 475 ke Rp 4.500.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup naik tipis 0,687 poin (0,01%) ke level 5.213,672. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 0,599 poin (0,07%) ke level 898,153. Investor asing masih terus melepas saham. Sejak awal tahun ini pemodal asing sudah mencatat penjualan bersih senilai Rp 268,7 miliar.

Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual. Empat sektor masih bertahan positif, yaitu pertambangan, konsumer, finansial, dan manufaktur. Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 131.486 kali dengan volume 3,416 miliar lembar saham senilai Rp 2,47 triliun. Sebanyak 111 saham naik, 134 turun, dan 99 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia bergerak mix hingga rehat siang. Sentimen rendahnya harga minyak dunia masih membayangi pergerakan pasar. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Tambangraya (ITMG) naik Rp 1.100 ke Rp 15.675, Gudang Garam (GGRM) naik Rp 425 ke Rp 60.425, Blue Bird Tbk naik naik Rp 375 ke Rp 11.075, dan Bukit Asam (PTBA) naik Rp 350 ke Rp 11.550.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Maskapai Reasuransi (MREI) turun Rp 650 ke Rp 3.255, Mayora (MYOR) turun Rp 375 ke Rp 21.025, Siloam (SILO) turun Rp 275 ke Rp 13.225, dan Solus Tunas (SUPR) turun Rp 200 ke Rp 7.500.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat 2,84 poin atau 0,05% menjadi 5.217,20 dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 0,71 poin (0,08%) ke level 898,27. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan bahwa sentimen dari dalam negeri menjadi salah satu katalis bagi pasar saham berkenaan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan Bank Pembangunan Asia,”ADB memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 bisa mencapai 5,6%,”ujarnya.

Dia menambahkan bahwa indeks bursa saham Indonesia akan menguji kembali pola anomali pergerakannya di tengah tekanan yang terjadi terhadap bursa Amerika Serikat yang melemah dan indeks bursa Asia yang dibuka bervariasi. Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar juga akan menyikapi kondisi politik di Yunani berkenaan dengan berlangsungnya Pemilihan umum (Pemilu) yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pergerakan indeks saham di kawasan Eropa.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menambahkan bahwa IHSG BEI melanjutkan penguatan meski tipis di tengah pergerakan bursa regional dan global yang bergerak bervariasi,”IHSG dalam jangka pendek masih berada pada jalur tren penguatan dan belum berubah arah, dan setiap terjadi tahapan koreksi dapat dijadikan peluang untuk melakukan akumulasi pembelian," katanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka menguat 99,36 poin (0,41%) ke 24.315,33, indeks Bursa Nikkei turun 162,67 poin (0,94%) ke 16.926,59, dan Straits Times menguat 3,34 poin (0,11%) ke posisi 3.344,81. (bani)

Related posts