Harga Minyak Dunia Anjlok, Emas Kian Digandrungi

NERACA

Emas sebagai barang investasi diyakini kebal terhadap inflasi. Investasi emas yang paling baik adalah investasi untuk emas yang masih batangan (belum diolah menjadi perhiasan). Dewasa ini berat emas batangan sudah sangat bervariasi, mulai dari hanya memiliki berat beberapa gram saja hingga yang mencapai berat satuan kilogram.

Walaupun tantangan investasi emas berbeda dengan investasi properti atau saham di pasar modal, tentunya seorang investor emas juga dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan kondisi ekonomi dalam negeri dan juga global. Hal ini dilakukan agar investasi emas dapat berjalan dengan lancar.

Untuk saat ini, meski harga emas mengalami koreksi cukup besar terhadap dollar akhir-akhir ini, probabilitas untuk naik masih tinggi bagimasa depan emas. Selama 3 hari berturut-turut, hingga 14 Januari 2015 lalu emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik, meskipun pemulihan pasar ekuitas dan dolar AS yang lebih kuat membatasi keuntungannya.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Februari naik US$1,6 atau 0,13%, menjadi menetap di US$1.234,4 per ounce. Kontrak emas Februari sempat naik hingga mencapai US$1.244,5, tingkat tertinggi sejak 23 Oktober 2014, karena harga minyak melanjutkan aksi jual mereka, menambah kekhawatiran tentang prospek pertumbuhan global dan inflasi.

Kenaikan emas juga didukung sebuah laporan Departemen Perdagangan AS pada Senin yang menunjukkan angka penjualan kendaraan bermotor lebih lemah dari yang diperkirakan. Ini adalah yang pertama investor lihat pada permintaan di tahun baru. Penjualan mobil dan truk ringan buatan Amerika turun 700.000 ke tingkat tahunan 13,3 juta pada Desember. Ini jauh di bawah tingkat November sebesar 14 juta.

Namun demikian, keuntungan emas dipangkas oleh saham-saham AS yang melambung kembali dengan kuat dan dolar AS mencapai tingkat tertinggi sembilan tahun terhadap euro pada Selasa lalu. Emas dan dolar/saham biasanya bergerak berlawanan arah.

Emas berjangka naik lebih dari empat persen sejak awal 2015 karena investor mencari perlindungan dari gejolak di pasar ekuitas global menyusul jatuhnya harga minyak mentah ke dekat terendah enam tahun. Beberapa pedagang mengatakan mereka pada dasarnya berhati-hati mengenai pasar secara umum, selama harga minyak tidak stabil.

Sementara ini masih jauh turun dari posisi tertingginya dalam sejarah, beberapa analis mengatakan emas masih mahal. Mereka memperkirakan Fed mulai menaikkan suku bunganya pada tahun ini.

Perak untuk pengiriman Maret naik 59,2 sen atau 3,57%, menjadi ditutup pada US$17,156 per ounce. Platinum untuk pengiriman April naik US$6,8 atau 0,55%, menjadi ditutup pada US$1.247,8 per ounce.

BERITA TERKAIT

Dunia Politik: Ketidakpastian Sumber Keresahan

Oleh: Erros Djarot, Budayawan Segala sesuatu yang tidak ada kepastiannya, pasti menimbulkan keresahan. Hal ini berlaku di seluruh lini kehidupan,…

Pengawasan Perbankan dan Harga Komoidtas

Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis Pengawasan perbankan berkaitan erat dengan harga komoditas, apalagi jika negaranya…

Waspada Inflasi, Harga Telur Tembus Rp30 Ribu Per Kilogram

  NERACA   Jakarta – Salah satu penyumbang angka inflasi adalah sektor pangan. Telur juga menjadi satu diantara bahan pangan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…