DEBET MATA AIR CIKUNDUL CIANJUR BERKURANG Warga Sukabumi Selatan Membeli Air Bersih ke Kota

Sukabumi - Warga Kabupaten Sukabumi khususnya di Sukabumi selatan, mulai mengalami krisis air bersih. Mayoritas warga yang menggunakan air sumur untuk keperluan mandi cuci kakus (MCK), kini mulai mengering.Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga dengan amat terpaksa menempuh jarak ratusan kilometer guna mendapatkan air bersih.

NERACA

Seperti yang diungkakan Anis (39) warga Surade kepada Harian Ekonomi Neraca, Minggu (12/9) lalu, dia mengaku terpaksa harus meminta kiriman air dari saudaranya yang tinggal di Kota Sukabumi. Selama musim kemarau ini, kata dia , sumur warga di daerahnya mengelami kekeringan. Sedangkan mata air yang berada di dekat hutan yang dikelola Perum Perhutani, juga sudah mulai menepis akibat di serbu warga setiap hari.

"Untuk kebutuhan air bersih, terpaksa saya meminta dari saudara yang ada di Kota Sukabumi. Sekali kirim sekitar 20 jerigen. Cukup untuk seminggu. Air jadi mahal di Sukabumi selatan. Kalau dihitung antara nilai air dan nilai transportasi, memang lebih mahal biaya transportasinya. Tetapi karena sangat dibutuhkan, kami tak lagi memikirkan biaya transoprtasi. Olehkarenanya, warga sangat mengharapkan adanya bantuan air bersih dari Pemerintah" papar dia..

Bukan hanya di Surade, warga di wilayah Kec. Sagaranten juga mengalami nasib serupa. Bahkan warga disana sudah semenjak dua pekan ini membeli air dari wilayah Kota Sukabumi. Satu jerigennya ukuran 25 liter, kata Saepulloh (48), warga Cibaregbeg Sagaranten Rp 5.000.

Menurut dia, warga sudah melaporkan krisis air ini keapda pihak pemerintah melalui kecamatan. Memang ada bantuan dari PDAM. Namun bantuan air itu tidak mencukupi. "Hampir setiap hari kami antri di bak penampungan air bersih yang disediakan oleh pemerintah. Namun karena volume airnya yang tidak mencukupi, terpaksa kami membeli dari luar wilayah Sagaranten" papar dia.

Sementara di wilayah Kec. Gunungguruh, khususnya warga Desa Mangkalaya, sudah semenjak sebulan ini mengalami kekeringan sumur. Namun belum mengakibatkan warga harus keluar daerah untuk mengambil bersih, apalagi membeli. Sebab salahsatu sumur didaerah itu khususnya yang berada di Komplek Mesjid setempat, air sumur tidak pernah kering.

Hanya saja, antrian untuk mengambil air di sumur mesjid itu terlihat setiap pagi, sore dan malam hari. Selain sumur mesjid, sejumlah sumur warga yang masih memiliki debit air juga sangat membantu masyarakat yang tidak memiliki air, " Kami disini memang sudah mengalami kesulitan air bersih. Banyak warga yang sumurnya mengalami kekeringan. Tetapi anehnya sumur mesjid serta sumur beberapa warga tidak berhenti mengeluarkan debit air. Mereka dengan ikhlas memberikan kepada warga yang membutuhkan. Itu sebabnya kita tak harus keluar desa untuk mencari air bersih" ungkap Parman (42), warga Perum Mangkalaya.

Sementara, Assisten Bidang Ekonomi (Assda II) Pemkab Sukabumi, Dadang Budiman mengatakan, Pemkab Sukabumi, sudah meminta PDAM dan pihak perusahaan untuk turut memberikan sumbangsih air besih kepada warga yang membutuhkan. Hingga kini, kata dia PDAM telah menyalurkan sedikitnya 50.000 kubik liter air di daerah yang rawan air bersih. Selain itu, lanjut dia, bupati telah meminta para camat untuk tanggap air bersih.

Debit Mata Berkurang

Sedang Neraca di Cianjur melaporkan, seiring datangnya musim kemarau debit air di mata air sungai Cikundul Kec. Cipanas Kab. Cianjur, menurun yang biasanya debit air mencapai 2.000 liter per detik, kini menurun menjadi 40 liter per detik. Akibatnya, sumber air yang didistribusikan PDAM Tirta Mukti, khususnya untuk masyarakat Cipanas yang jumlahnya mencapai 5.400 pelanggan, menjadi sedikit terhambat. Demikian dikemukakan Kepala Bagian Umum PDAM Tirta Mukti Kab. Cianjur H.Budi Karyawan, kemarin.

Menurut dia, akibat menurunnya debit air di Cipanas dan sekitarnya, pasokan air saat ini menggunakan pola bergiliran, artinya pelanggan di Ciapanas tidak bisa menikmati pasokan air bersih selama 24 jam, kita atur pola distribusi agar air tetap mengalir kepada pelanggan, walaupun kondisinya agak berkurang.

Dikatakan, selain karena faktor musim kemarau, faktor penyebab menurunya debit air di sungai Cikundul diakibatkan karena adanya kerusakan dan alih fungsi lahan di wilayah Cipanas dan sekitarnya. Padahal, Kawasan Cipanas dan sekitarnya merupakan wilayah resapan air. Kalau musim hujan tiba, permukaan air sungai Cikundul akan melimpah, tetapi disaat kemarau panjang seperti ini, debit air pasti menurun drastis.

Untuk itu pihaknya menghimbau, kepada warga masyarakat atau pelanggan agar menghemat air PDAM dengan tidak menghambur-hamburkannya untuk kebutuhan yang tidak penting. Seperti mencuci mobil atau menyiram tanaman, manfaatkan air bersih yang ada saat ini untuk keperluan minum, masak, atau mandi.

Related posts