Dampak BI Rate Tinggi - PELEMAHAN DUNIA USAHA INDONESIA

Jakarta –Perlambatan dunia usaha yang sekarang dirasakan oleh kalangan pengusaha domestik, ternyata selain terpengaruh oleh faktor inflasi dan penurunan imbal hasil sektor usaha tertentu, juga disebabkan oleh tingginya suku bunga acuan (BI Rate). Hal ini terkonfirmasi oleh Bank Indonesia yang mengungkapkan adanya penurunan nilai saldo bersih tertimbang dari 11,25% triwulan III-2014 menjadi 11,13% pada triwulan IV-2014.

NERACA

Hasil survei BI itu membuktikan perlambatan dunia usaha ada kaitannya dengan tingginya inflasi pada triwulan IV-2014. Selain itu, pengaruh kenaikan BI Rate pada Nov 2014 juga membuat pengusaha mengerem kegiatan usahanya.

Menurut guru besar ekonomi UGM Prof Dr Sri Adiningsih, suku bunga acuan (BI Rate) yang masih tinggi dapat membuat tekanan pada dunia usaha semakin meningkat. BI Rate yang tinggi ini bisa menekan investasi dan memberatkan dunia usaha.

"Tingkat suku bunga yang relatif tinggi saat ini menjadi salah satu tantangan yang cukup berat bagi sektor riil di negeri ini. Selain tingginya tingkat suku bunga, marjin perbankan di Indonesia yang masih cukup lebar juga menjadi beban pelaku usaha industri yang terkena suku bunga kredit yang tinggi, terlebih bagi sektor usaha kecil," ujarnya kepada Neraca, Selasa (13/1).

Dia pun menuturkan lingkungan bisnis yang kondusif sangat penting diciptakan supaya bisa mendorong pertumbuhan usaha yang amat menentukan roda perekonomian, kemudian kebijakan juga harus produnia usaha. Jangan sampai kesulitan dalam memperkuat serta meningkatkan daya saing membuat banyak usaha berguguran atau turun level.

"Tanpa dukungan atau proteksi dari pemerintah, dunia usaha makin memburuk. Kondisi demikian tak boleh dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut, karena bisa menjadi prahara bagi perekonomian nasional," ujarnya.

Menurut Sri, potensi stabilitas makro ekonomi Indonesia pada 2015 akan relatif positif dan laju inflasi juga diperkirakan akan relatif terkendali. Tahun ini, inflasi bisa rendah dibandingkan tahun lalu dan bisa membuat suku bunga tidak seperti ini lagi. Suku bunga mudah-mudahan akan ada di level yang wajar bagi pelaku usaha.

"Dengan turunnya suku bunga itu diharapkan investasi naik. Langkah tersebut juga harus diikuti dengan turunnya bunga kredit pihak perbankan kepada nasabah, khususnya terhadap dunia usaha (sektor swasta lainnya)," ujarnya.

Dia juga menambahkan tanpa respon dari perbankan untuk menurunkan sukubunga kreditnya, maka tidak ada arti turunnya BI Rate itu. Tujuan dari penurunan BI Rate untuk memperkuat pertumbuhan perekonomian ditengah-tengah krisis keuangan global. Turunnya suku bunga itu diharapkan investasi naik.

Sri menjelaskan dengan adanya potensi baik di stabilitas makro ekonomi sehingga akan mengatasi permasalah perlambatan ekonomi. Pada tahun ini, apabila pemerintah bisa meningkatkan mendongkrak pertumbuhan ekonomi sehingga upaya percepatan pertumbuhan sektor riil, khususnya dunia usaha akan tercapai.

"Perlambatan dunia usaha ini diharapkan tidak berlangsung lama seiring mendongkraknya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi sehingga membuat sektor dunia usaha tumbuh dan berkembang, serta nilai investasi bisa naik," ungkap dia.

Sulit Bersaing

Pengamat ekonomi yang juga Kepala LP3E Kadin Prof Dr Didiek J. Rachbini mengatakan, tingginya BI Rate diakui menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia sulit bersaing dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pasalnya, efisiensi dalam transaksi perdagangan menjadi syarat penting untuk memenangi persaingan.

"Tingginya suku bunga acuan berdampak pada tingginya cost of money dari kredit. Hal ini membuat pelaku usaha dalam negeri sulit bersaing dengan pelaku usaha di negara ASEAN lainnya," ujarnya, kemarin.

Didiek mengatakan, jika hal ini tidak segera dilakukan, dalam MEA nantinya pelaku usaha khususnya perbankan Indonesia tidak akan mendapat manfaat dari MEA karena pembiayaan dari negara tetangga yang akan mendominasi. "Sampai kapan BI menaikkan terus. Jangan sampai mengorbankan sektor riil,” ujarnya.

Secara umum, sambung Didiek Indonesia harus menyelesaikan persiapan menuju implementasi MEA . Hingga akhir tahun nanti. Pembenahan yang paling penting untuk dilakukan adalah di sektor jasa.

Dia mengakui untuk memperbaiki sektor jasa memang tidak mudah karena cukup kompleks dan bermacam-macam bidang. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan standardisasi dan sertifikasi, selain untuk barang juga untuk profesi.

Guru besar ekonomi Unpad Prof Dr Ina Primiana menilai, BI Rate yang tinggi telah membuat sektor dunia usaha semakin sulit untuk berkembang. Karena ruang gerak palaku usaha dari sisi pendanaan semakin terbatas karena BI Rate yang tinggi. “Ya itu memang berjalan beriringan. Ketika suku bunga tinggi, maka pertumbuhan pelaku usaha semakin sedikit sementara ketika suku bunga bersahabat maka pertumbuhan dunia usaha bisa ikut meningkat,” ucapnya.

Ina mengatakan Bank Indonesia perlu mempertimbangkan setiap situasi yang terjadi dan dampaknya terhadap sektor rill ketika BI Rate yang ditetapkan itu tinggi. “Harus dipertimbangkan situasi dan dunia usaha saat ini. Jika industri tumbuh, berapa pun bank mematok suku bunga, pasti akan dibayar. Persoalannya, kondisi saat ini cukup berat bagi sektor riil. Belum lagi rentetan beberapa kenaikan seperti harga LPG dan listrik,” ujarnya.

Dia mengatakan pada tahun ini akan menjadi tahun yang berat bagi sektor riil jika perbankan tidak menunjukkan keberpihakannya dengan menyalurkan kredit. Lebih jauh ia khawatir, jika sektor riil tersendat akan berpengaruh terhadap rasionalisasi tenaga kerja. “Ini yang tidak kita inginkan. Oleh karena itu, perbankan harus memahami peran utamanya, yakni menyalurkan kredit. Dunia usaha masih memilih untuk menunggu dan melihat apakah mereka akan bergerak tumbuh,” katanya.

Pengamat ekonomi UI Telisa Aulia Falianty mengatakan, adanya penurunan dunia usaha di Indonesia memang terjadi karena bebrapa faktor diantaranya yaitu daya beli masyarakat rendah akibat kenaikan harga BBM subsidi, rupiah yang terdepresiasi, cuaca buruk, dan suku bunga acuan (BI Rate) yang tinggi sehingga dunia usaha sulit dalam mencari pembiayaan ekspansi usahanya. “Tingginya BI Rate merupakan faktor utama penurunan dunia usaha, karena sulit dalam mencari pembiayaan terbentur dengan bunga kredit yang tinggi,” katanya.

Dia meminta Bank Indonesia bisa menurunkan BI Rate untuk memberikan angin segar para pengusaha lebih mudah memperoleh pembiayaan. Apalagi jika dilihat nantinya di Januari dan Februari jika inflasi terjaga, maka sudah waktunya menurunkan BI Rate. “ Kita lihat inflasi Januari dan Februari kalau rendah maka BI harus menurunkan BI Rate minimal 25 bps, sehingga suku bunga menjadi 7,5%,” ujarnya.

Menurut dia, alangkah baiknya menurunkan dulu BI Rate, baru nanti kalau memang The Fed menaikan suku bunga boleh menaikan kembali. Karena jika tidak, maka tidak menutup kemungkinan BI Rate bisa tembus di level 8% bahkan lebih, itu akan sangat menyulitkan dunia usaha,” tandasnya. agus/iwan/bari/mohar

Related posts