Indonesia Butuh 34 LNG Receiving Terminal

NERACA

Jakarta – Perubahan penggunaan energi dari minyak ke gas mesti direspon serius oleh pemerintah, mengingat penggunaan gas untuk keperluan domestik semakin meningkat sehingga perlu dibarengi dengan penyediaan infrastruktur pendukungnya. Salah satu pendukung infrastruktur gas yaitu LNG Receiving Terminal. Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur mengungkapkan bahwa saat ini era minyak mulai ditinggalkan dan kini mulai saatnya gas menjadi sektor terpenting di sektor energi nasional.

“Negara-negara lain mulai memanfaatkan gas untuk kepentingan energi nasionalnya. Indonesia juga tidak ingin ketinggalan dalam memanfaatkan gas akan tetapi sangat disayangkan infrastruktur gas tidak memadai. Padahal, saat ini Indonesia butuh sekitar 34 LNG Receiving Terminal yang bisa ditempat di seluruh provinsi yang ada di Indonesia,” ungkap Natsir saat ditemui di kantornya, Selasa (13/1).

Ia menyebutkan jika satu provinsi mempunyai LNG receiving terminal maka itu akan banyak manfaatnya. Misalnya bisa digunakan untuk listrik dan mampu menjadi energi untuk cold storage (gudang pendingin). “Jika LNG receiving terminal dibangun setiap daerah maka daerah tersebut akan berkembang,” ujarnya. Agar bisa tercapai membangun LNG receiving terminal di setiap daerah, Natsir menyebutkan setidaknya membutuhkan dana sebesar US$10 miliar.

Sejauh ini, kata dia, cukup banyak investor yang berminat untuk membangun LNG receiving terminal. Hanya saja yang menjadi persoalan pengusaha adalah suplai gasnya. “Percuma saja kita (pengusaha) membangun LNG receiving terminal akan tetapi pasokan gas nya nihil. Maka dari itu, perlu peran pemerintah untuk menginisiasi pasokan gas untuk LNG receiving terminal,” jelasnya.

Natsir mengatakan pengusaha perlu komitmen dari pemerintah untuk penyediaan gas. Kebutuhan LNG dalam negeri pada 2014 diperkirakan mencapai 10 juta metrik ton atau separuh dari LNG yang diekspor. Saat ini Indonesia sendiri baru memiliki dua receiving terminal LNG. Padahal, Indonesia merupakan salah satu penghasil gas terbesar di dunia. “Tiongkok, Turki, Jepang punya banyak. Padahal, tidak punya gas banyak. Kalau sudah jadi, nanti ada namanya DKI LNG Receiving Terminal, Aceh Receiving Terminal, dan lain-lain,” jelasnya.

Dia menyebutkan, Indonesia hanya memiliki tiga unit Floating Storage Eegastification Unit (FSRU). Sehingga, ketika kemarin ada salah satu FSRU yang rusak, pemerintah pun panik. “Kita punya energi banyak tapi infrastruktur enggak cukup. Kita banyak bangun SPBG tapi sarana terminalnya tidak ada. Oleh karena itu kami berpandangan bahwa ini perlu kita lakukan membangun beberapa receiving terminal di daerah,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Perusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Edi Prasodjo, mengatakan bahwa ke depannya produksi gas nasional harus mengutamakan konsumsi domestik. Soalnya, demand akan terus bertumbuh yang, jika tidak disesuaikan, akan terganggu. Artinya, jika kebutuhan domestik telah terpenuhi, baru gas tersebut bisa diekspor.

Dia menyebutkan empat perusahaan telah menyampaikan total kebutuhan gasnya hingga tahun 2030, yakni sebesar 2.525,40 mmscfd. Artinya, dalam beberapa tahun ke depan, dengan peningkatan pertumbuhan industri dalam negeri, maka kebutuhan gas dari industri juga akan meningkat. “Sebagai pemerintah, kami mendukung program hilirisasi, dan salah satunya ialah menghendaki agar ekspor gas segera dikurangi,” kata dia.

Kepala Divisi Gas dan Bakar Bakar Minyak PLN, Suryadi Mardjoeki, mengatakan bahwa pembangunan LNG receiving terminal juga penting untuk melancarkan proses kerja PLN menuju tahun 2016. Dia menyebutkan target PLN ialah pada tahun 2016 di seluruh wilayah Indonesia akan menggunakan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), bukan lagi menggunakan BBM.

LNG di Bali

Pertamina lewat anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas) telah membangun LNG receiving terminal di Kawasan Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali. President Director Pertagas Hendra Jaya mengungkapkan kehadiran LNG receiving terminal tersebut akan mampu mengatasi ancaman krisis listrik di Pulau Dewata. “Pertumbuhan listrik (di Bali, red) tiap tahunnya mencapai 14 persen, tertinggi di Indonesia. Dengan tersedianya pasokan LNG, akan memungkinkan tersedianya energi primer untuk menggerakkan pembangkit listrik di Bali,” ujarnya.

Hendra menjelaskan, terminal LNG kini sedang dalam persiapan pembangunan dan diperkirakan akan beroperasi tahun 2016. Pasokan LNG dari infrastruktur tersebut nantinya akan mensuplai kebutuhan energi pembangkit listrik milik PT Indonesia Power, anak perusahaan PLN yang terletak di Pesanggaran, Bali.

Di mana pembangunan Terminal LNG ini adalah bentuk sinergi antar BUMN, antara Pertamina yang diwakili Pertagas, Pelindo III, dan Indonesia Power sebagai user LNG, dan dengan Pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah. “Pembangkit listrik ini merupakan salah satu dari tiga pembangkit yang ada di Bali selain di Gilimanuk dan Pemaron. Pembangkit yang ada di Pesanggaran merupakan pembangkit terbesar di antara ketiganya,” sebutnya.

Related posts