Gejolak dan Ekspektasi Ekonomi Global

Oleh: Mohammad Reza Hafiz Akbar

Peneliti Indef

Kondisi ekonomi global yang semakin jauh dari kata aman dalam beberapa bulan terakhir menjadi potret proyeksi bagaimana ekonomi dunia akan berlangsung di tahun 2015. Setidaknya ketiga institusi internasional mengamini hal tersebut lewat analisisnya masing-masing.

IMF dalam laporan World Economic Outlook 2015 merangkum keadaan ekonomi dalam tiga kata, yaitu warisan masalah (legacies), kondisi yang suram (clouds), dan ketidakpastian (uncertainty).

World Economic Forum melalui The Outlook on the Global Agenda 2015 memetakan sepuluh persoalan ekonomi yang dihadapi dunia. Pertama, semakin dalamnya kesenjangan antara kaya dan miskin. Kedua, kenaikan tingkat pengangguran.

Ketiga, lemahnya kepemimpinan. Keempat, meningkatnya tensi persaingan kekuatan strategis dunia. Kelima, demokrasi yang kian melemah. Keenam, peningkatan kadar polusi di negara-negara berkembang. Ketujuh, peningkatan kerawanan bencana alam akibat cuaca ekstrem.

Kedelapan, meningkatnya sentimen nasional dalam pengelolaan ekonomi. Kesembilan, meningkatnya kelangkaan air bersih, dan kesepuluh pentingnya aspek kesehatan dalam penanggulangan wabah penyakit beserta dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan.

Lebih lanjut, dalam laporan terbarunya Global Economic Prospects 2015, World Bank menyatakan ada empat hal yang harus diantisipasi khususnya oleh negara-negara berkembang. Pertama, pentingnya kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kedua, dampak turunnya harga minyak dunia dan bagaimana negara-negara berkembang mencari celah untuk mengambil manfaat dari keadaan tersebut. Ketiga, dampak dari turunnya perdagangan internasional akibat pemulihan ekonomi di negara-negara maju yang belum menunjukkan perbaikan. Keempat, urgensi kiriman uang para pekerja di luar negeri ke negara asalnya (remitansi) di saat lesunya penanaman modal asing.

Setelah lebih dari satu dekade perekonomian tumbuh dengan istimewa, kini negara BRIC (Brazil, Rusia, India, China) sebagai representatif kekuatan ekonomi negara berkembang dalam mengimbangi negara maju, mulai tertekan ekonominya pasca krisis finansial global.

Kondisi itu ditandai dengan melemahnya nilai tukar mata uang dan anjloknya ekspor karena penurunan harga komoditas. Istilah BRIC pun terancam kandas terutama jika Brasil dan Rusia tidak mampu menyehatkan perekonomiannya.

Lesunya pertumbuhan pasar negara berkembang dan BRIC sebenarnya merupakan anomali di tengah ekspansi ekonomi Brasil dan Rusia yang sebagian mulai pulih sehingga membantu pertumbuhan rata-rata BRIC 6% per tahun dalam satu dekade terakhir.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Melihat optimisme Kabinet Kerja dengan mematok angka pertumbuhan 5,8% di 2015 dan mencapai 8% di 2019 Indonesia berpotensi untuk menjadi “playmaker” ekonomi di negara berkembang asalkan pemerintah mau serius dan bekerja keras.

Pemerintah harus mengantisipasi segala kemungkinan gejolak ekonomi global dengan memperkokoh fundamental dan membangun kerangka kelembagaan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Jika tidak, optimisme tersebut hanya akan berupa harapan yang tak pernah kesampaian.

Related posts