Tiga Sektor Intensif Jajaki Rencana IPO

NERACA

Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melihat ada tiga sektor usaha yang intensif melakukan penjajakan penawaran Umum Perdana (Initial Public Offring/IPO) saham pada tahun ini,”Sektor pertambangan, manufaktur dan sektor jasa," kata Direktur Utama BEI, Ito Warsito di Jakarta, Selasa (13/1).

Namun, ketiga sektor tersebut dirinya tidak dapat memastikan hingga akhir tahun ini, apakah menjadi sektor yang mendominasi atau tidak dalam pelaksanaan IPO 2015. Menurut Ito, tahun ini semua sektor usaha berminat untuk IPO dalam rangka untuk meningkatkan modal ekspansi.

Maka diharapkan dengan maraknya perusahaan yang bakal menjajaki IPO, target

BEI menambah jumlah emiten saham di industri pasar modal Indonesia sebanyak 32 perusahaan akan tercapai, atau lebih baik dari 2014 yang hanya sebanyak 23 perusahaan, di bawah target sebanyak 30 perusahaan.

Dalam rangka pendalaman pasar untuk menarik minat calon emiten dan meningkatkan jumlah saham emiten yang beredar di publik (floating shares), Ito Warsito mengatakan bahwa pihaknya juga telah menerbitkan peraturan I-A.1. tentang pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang diterbitkan oleh perusahaan di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara,”Perubahan dan penambahan detail peraturan pencatatan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan likuiditas pasar modal Indonesia sekaligus memberikan semakin banyak pilihan saham bagi para investor," katanya.

Kata Ito, dengan semakin terjangkaunya saham perusahaan tercatat, serta semakin bertambahnya jumlah investor domestik yang berpartisipasi di pasar modal diharapkan dapat semakin mengukuhkan pendukung perekonomian nasional.

Pada tahun ini, Ito Warsito juga mengatakan bahwa aksi perusahaan melakukan penawaran umum terbatas atau "right issue" pada tahun ini akan marak di tengah tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) dinilai cukup tinggi oleh pasar,”Kebutuhan 'right issue' akan tetap ada. BUMN infrastruktur kan sudah merencanakan untuk melakukan 'right issue'. Obligasi kemungkinan stagnan karena tingkat bunga masih tinggi. Kalau misalnya BI menurunkan suku bunga dan inflasi diperkirakan tidak akan sebesar sebelumnya. Diperkirakan mendorong penerbitan obligasi,”ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen pernah bilang, sebanyak tiga perusahaan siap mencatatkan sahamnya (listing) di Bursa Efek Indonesia pada kuartal I – 2015. Tiga perusahaan tersebut yakni PT Bank Yudha Bhakti, PT Mitra Keluarga, dan PT Mitra Energi Persada.

Hoesen menjelaskan, kedatangan Mitra Energi sebenarnya merupakan pencatatan kembali (relisting). Perusahaan distribusi batubara, minyak, dan gas itu sempat delisting pada 2007,”Saat ini, BEI sedang mengkaji kelayakan Mitra Energi untuk kembali ke bursa. Pada saatnya nanti, Mitra Energi dapat kembali memperdagangkan sebanyak 11% sahamnya di bursa,” kata Hoesen. (bani)

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak  NERACA Bandung - DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi capaian pendapatan dari sektor…

Depok Intensif Jadikan Sampah Usaha Potensi Ekonomis - Darurat Suplay 1200 Ton/Hari Sampah

Depok Intensif Jadikan Sampah Usaha Potensi Ekonomis Darurat Suplay 1200 Ton/Hari Sampah NERACA Depok - Pemerintah Kota Depok makin intensif…

APEI: Perlu Ada Kesiapan Anggota Bursa - Rencana Perubahan Lot Saham

NERACA Jakarta – Rencana direktur utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi bersama tim menurunkan jumlah satu lot jadi…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…