Hadapi MEA, Menjadi Pemenang Adalah Pilihan - Menakar Bisnis Logistik Nasional

NERACA

Jakarta – Indonesia sebagai negara maritim dengan populasi masyarakat terbesar di Asia Tenggara, menjadi daya tarik bagi pelaku asing untuk menanamkan modalnya untuk mengarap bisnis logistik. Tak ayal, kondisi ini menjadi peluang karena bakal kebanjiran dana asing yang diharapkan mampu mendongkrak ekonomi dalam negeri dan sekaligus menjadi ancaman bagi pelaku usaha logistik lokal jika tidak mampu bersaing.

Menurut Budi Paryanto, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), Indonesia sebenarnya punya posisi strategis di pasar logistik kawasan karena punya populasi dan perdagangan yang sangat besar. Namun, masih banyak hambatan dan tantangan untuk bisa menggali potensi tersebut,”Memasuki MEA 2015, kita tidak punya pilihan untuk menghindar. Siap atau tidak siap, suka atau tidak suka itu harus kita hadapi," katanya.

Oleh karena itu bila tidak ingin Indonesia menjadi pasar, lanjutnya, pembenahan infrastruktur untuk efisiensi, pelayanan dan regulasi menjadi kunci keberhasilan. Langkah yang mendesak saat ini dilakukan antara para pengusaha dan pemerintah adalah duduk bareng bersama mencari solusi untuk segera membenahi sistem logistik Indonesia. Terutama menyangkut kendala infrastruktur dan regulasi. "Potensi logistik kita selama ini luput dari perhatian, tetapi sebenarnya sudah jadi incaran invesror," ucapnya.

Asal tahu saja, pasar logistik Indonesia dan transportasi yang menyebar di sekitar 17 ribu pula di Indonesia pada tahun ini diprediksi tumbuh 14,7% dengan estimasi nilai mencapai Rp 1.849 triliun. Angka tersebut merupakan nilai yang sangat besar, namun ironisnya belum semuanya digarap serius dari pengusaha lokal.

Sementara Freddy Chang, Vice President Singapore Post menambahkan, industri logistik Indonesia punya potensi sangat besar untuk berkembang. Hal iu tercermin dari pertumbuhan pesat perdagangan online seiring dengan meningkatnya penggunaan internet dan penggunaan gadget,”Indonesia punya peluang bagus karena daya beli kelas menengahnya tumbuh terutama untuk e-commerce,”ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Supphakit Roopsuwankun, Assitent General Manager Nippon Express mengatakan, kawasan ekonomi Asia Tenggara ini punya potensi pasar logistik yang cukup besar seiring dengan pertumbuhan produksi dan konsumsi,”Indonesia adalah negara terbaik untuk investasi dalam waktu satu sampai tiga tahun ke depan dari sekarang," ujarnya.

Selanjutnya, keseriusan pemerintah baru menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, memberikan harapan baru bagi pelaku usaha logistik dalam pembenahan infrastruktur di pelabuhan. Selama ini, masalah klasik bisnis logistik adalah infrastruktur di pelabuhan yang tidak efisien dan memakan biaya besar, diperparah dengan perizinan dan pungutan liar (pungli).

Pelayanan Satu Pintu

Disamping itu, komitmen pemerintah memperbaikan sistem logistik nasional (Sislognas) dengan begitu implementasi pelayanan terpadu satu pintu (PTSP), diyakini bakal meningkatkan daya saing industri nasional. Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawadi mengakui, permasalahan utama dalam sistem logistik nasional selama ini ada pada perizinan dan pungutan liar (pungli), “Selama ini pengusaha mengeluhkan adanya pungutan administrasi tidak jelas baik dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) dan pengurus barang. Jika pungutan tidak legal tersebut tidak dibayar maka barang tidak akan diurus,”ungkapnya.

Menurut Edi, pungutan-pungutan liar yang membebani tersebut baru didapatkan di pelabuhan Ibukota. Keluhan lain yang paling banyak dibicarakan yakni terkait perizinan. Perizinan yang masuk dalam regulasi dan birokrasi tersebut dilihat terlalu banyak sehingga memperlambat logistik nasional. Padahal secara desain sudah baik, hanya tinggal pengurangan jumlah regulasi dan birokrasinya,”Kalau di hitungan kita saja sektor logistik, ada lebih 2.500 regulasi dari mulai tingkat undang-undang sampai kebawahnya," kata Edy.

Regulasi-regulasi tersebut dikatakannya akan dipotong dan disatukan terutama yang menghambat.

Penyelesaian regulasi dilanjutkan Edy hanya salah satu dari enam kunci penggerak pembenahan sektor logistik. Logistik yang akan menjadi sektor terintegrasi ASEAN akan dibenahi infrastruktur transportasinya.

Meskipun demikian, sejauh ini kemajuan logistik Indonesia telah beranjak dari ranking 59 menjadi ranking 53 pada tahun lalu,”Biaya logistik pun berkurang dari 24% menjadi 21% di logistik dalam tiga tahun terakhir," tutur Edy.

Kesiapan dalam memenangi persaingan bisnis logistik di pasar bebas ASEAN, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang menjadi salah satu ikon industry pengiriman Indonesia saat ini terus terus meningkatkan mutu dan pelayanannya di bidang logistik dan distribusi dengan memperkuat infrastrukrturnya di seluruh Indonesia.

Tahun ini, JNE telah melakukan strategi melalui perluasan operasi bisnis dan analisis pasar luar negeri. Direktur Operasional PT Tiki JNE Edi Santoso mengatakan dalam pengembangan bisnis logistik, JNE telah membangun sistem dan fasilitas yang meliputi pergudangan hingga kesiapan transportasi baik laut maupun darat,”JNE melihat adanya peluang guna menawarkan sistem distribusi yang efisien dan sesuai standar korporasi internasional. Mulai dari membangun gudang dan pengadaan transportasi, sedang disiapkan,”ujarnya.

Menurutnya, perhitungan menguntungkan memang ada pada bisnis logistik, meski JNE harus bersaing dengan sedikitnya 2.000 perusahaan domestik yang telah ada. Saat ini pihaknya tengah membangun sistem kerja yang mengandalkan teknologi informasi canggih, sehingga mampu mengamankan pangsa domestik.

Selain itu, JNE terusmelakukan ekspansi dengan menambah gudang, armada dan peralatan, dan penamabahan tenaga kerja. Dari sektor bisnis utamanya ini, JNE berharap mencatat pendapatan sebesar Rp1,6 triliun. Penambahan gudang untuk meningkatkan kapasitas serta cakupan area mengingat potensi di tahun 2015 jasa pengiriman logistik akan semakin besar. (bani)

Related posts