Ambisi Besar, Mandiri Gelar Rights Issue - MEMBIDIK DANA BURSA RP 9 TRILIUN

NERACA

Jakarta –Untuk mewujudkan mimpi sebagai bank terbesar di ASEAN, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) terus berbenah diri mulai dari pelayanan, infrastruktur hingga peningkatan likuiditas. Setelah sukses menerbitkan saham baru pada 2011 dengan meraih dana via pasar modal Rp11,68 triliun (gross) tidak membuat puas bagi bank plat merah ini untuk terus memperkuat modal melalui rights issue Rp 9 triliun pada tahun ini.

Langkah yang sama juga bakal di lakukan perseroan dengan menerbitkan saham baru melalui mekanisme hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue, menurut Menteri BUMN Rini Soemarno, dana dari aksi korporasi ini mencapai target lebih dari Rp 9 triliun. Pemerintah akan mengeksekusi HMETD dengan nilai sekitar Rp 5,6 triliun,”Jadi bagian pemerintah kira-kira Rp 5,6 triliun, ditambah dengan rights issue-nya mungkin total Rp 9 triliun ya," kata Rini di Bandung, Senin (12/1).

Rini mengatakan, suntikan modal itu akan dberikan kepada bank BUMN lainnya secara bertahap. Tahun ini, Bank Mandiri. Tahun selanjutnya bisa PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan berikutnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

Menurut Rini, Bank Mandiri jadi prioritas karena pengeluaran dividennya cukup besar. Maka pemerintah merasa perlu meningkatkan kemampuannya dengan memberi suntikan modal. Dijelaskan, hal ini lakukan agar pasar tidak jenuh.

Sebagai informasi, tahun ini pemerintah akan menyuntikan dana sebanyak Rp 48 triliun ke beberapa perusahaan pelat merah. Tujuannya supaya BUMN-BUMN ini bisa berkembang dan memberikan pelayanan lebih baik lagi kepada masyarakat.

Sebelumnya, Direktur Keuangan Bank Mandiri Pahala Mansury pernah mengatakan, guna mewujudkan cita-cita menjadi bank terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020, perseroan harus merogoh kocek sebesar Rp 200 triliun,”Tahun 2020, Bank Mandiri butuh modal sekitar Rp200 triliun, sekarang kan Rp90 triliun. mudah-mudahan bisa tumbuh sampai Rp200 triliun,”ujarnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa modal sebesar itu tidak hanya didapat dari pemerintah, tetapi melalui strategi-strategi lain yang sudah disiapkan perusahaan. Dijelaskan, butuh modal sebesar Rp 200 triliun belum termasuk suntikan dari pemerintah.

Nantinya, pada tahun tersebut, ditargetkan market share Bank Mandiri bisa mencapai di atas 20% atau lebih tinggi jika dibandingkan saat ini yang hanya 17-18% dengan total aset hingga kuartal III-2014 mencapai Rp798 triliun.

Sebagai catatan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tengah masuk dalam program transformasi ketiga periode 2015-2020. Dalam proses transformasi ini, perseroan akan memperkuat lini bisnisnya termasuk di sektor pembiayaan mikro.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Riswinandi mengatakan menyambut era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang dimulai pada 2015, bagi perbankan sendiri baru akan dimulai pada 2020 nanti, ”Periode 2015-2020, kami masuk ke periode transformasi ketiga. Transformasi pertama dilakukan pada 2005-2009 saat kami mempunyai masalah kualitas kredit. Kemudian transformasi kedua di 2010 dan tahun 2014 transformasi terakhir untuk tahap kedua," ujarnya.

Dia menjelaskan, transformasi ketiga fokus pada penajaman posisi di era MEA dan memperkuat persaingan yang semakin meningkat,”Indonesia akan menjadi sasaran perbankan asing dan industri keuangan lain. Makanya kami antisipasi dengan persiapan organisasi, meningkatkan peran di kantor wilayah dan lainnya," kata Riswinandi.

Dia mengakui bisnis kredit mikro ke depan akan terus digenjot. Pasalnya, pasar usaha kecil dan menengah di Indonesia masih sangat luas sehingga menjadi pasar empuk bagi perbankan nasional yang sahamnya dimiliki asing. Pada tahun 2015 ini, perseroan menyakini kredit masih akan tumbuh lebih tinggi karena situasi politik mulai stabil dari pemerintahan yangbaru.

Dia berharap, kestabilan politik ini berimbas pada kestabilanpertumbuhan ekonomi. Misalnya, pertumbuhan kredit Bank Mandiri sebesar 14%-16% di tahun 2014, maka akan ada pertumbuhan 15%-17% di tahun2015. “Akan ada kenaikan kredit sebesar 1%-2%,”kata Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri. bani

Related posts