Perikanan Budidaya Dukung Ketahanan Pangan dan Gizi

NERACA

Jakarta – Produksi Perikanan budidaya terus ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan baik dalam maupun luar negeri. Di samping produksi yang meningkat, perikanan budidaya juga di tuntut untuk lebih mandiri, memiliki daya saing dan berkelanjutan sehingga mampu bersaing di pasar global.

“Mandiri dalam arti tidak tergantung dari produk impor, baik itu bahan baku pakan ataupun sarana produksi, dengan tetap memperhatikan kualitas sesuai standar yang telah ditetapkan. Disamping itu juga perlu memanfaatkan dan memelihara sumberdaya alam secara bijak sehingga dapat terus berproduksi secara berkelanjutan. Dengan tiga hal tersebut maka perikanan budidaya akan mampu mendukung dan menjadi bagian dari ketahanan pangan dan sekaligus meningkatkan pendapatan. Hal ini sesuai dengan kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, yang menuntut perikanan budidaya meningkatkan kemandirian, tidak tergantung dari produk impor,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Jakarta, dikutip dari siaran pers yang sampai ke meja redaksi Neraca, Senin (12/1).

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa selama periode 2010 – 2014, produksi perikanan budidaya telah mengalami peningkatan produksi sebesar 23,75 % yaitu dari 6,3 juta ton pada 2010 menjadi 14,5 juta ton (data sementara). “peningkatan produksi yang terjadi selama lima tahun terakhir telah memberikan dampak positif bagi pembudidaya maupun perekonomian nasional secara umum” kata Slamet.

Untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan dalam upaya mendukung ketahanan pangan nasional, perikanan budidaya telah mendorong peningkatan produksi komoditas – komoditas tertentu khususnya komoditas air tawar seperti Nila, Mas, Lele, Gurame dan Patin. “Komoditas air tawar telah mampu berkontribusi sebesar 60% dari total produksi perikanan budidaya (diluar rumput laut). Hal ini membuktikan bahwa perikanan budidaya telah berkontribusi dalam ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat seriring dengan pertumbuhan penduduk Indonesia,” tambah Slamet

Saat ini pemerintah tetap mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya dengan diikuti dengan peningkatan kemandirian. Peningkatan kemandirian ini salah satunya dengan menggunakan bahan baku local dan memanfaatkan sumberdaya alam yang cukup melimpah di tanah air.

“Melalui peningkatan kemandirian, maka pendapatan pembudidaya akan meningkat karena biaya produksi usaha budidaya perikanan tidak terlalu tergantung dari nilai tukar dollar yang bersifat fluktuatif. Ini akan kita fokuskan pada budidaya komoditas air tawar yang merupakan komoditas yang mendukung ketahanan pangan. Berdasarkan hasil sensus pertanian tahun 2013 oleh BPS, pendapatan rumah tangga perikanan untuk budidaya komoditas air tawar adalah 29 juta – 34 juta per tahun. Dengan peningkatan kemandirian, diharapkan pendapatan ini akan meningkat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Slamet.

Berdasarkan hasil sensus pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, disamping di peroleh data pendapatan pembudidaya, juga ditemukan bahwa jumlah rumah tangga pembudidaya ikan (RTP) mengalami peningkatan kurang lebih 20%.

“Pada tahun 2013, jumlah rumah tangga pembudidaya ikan mencapai 1,2 juta (RTP), atau meningkat kurang lebih 20 % dibanding tahun 2003. Di lain pihak terjadi penurunan jumlah RTP petani yang mengalami penurunan kurang lebih 16%,” terang Adi Lumaksono, Deputi Bidang Statistik Produksi BPS.

Adi juga menambahkan bahwa sebagian besar RTP budidaya tersebut melakukan usaha budidaya di kolam air tawar. “Sebanyak 844,2 ribu orang melakukan usaha budidaya air tawar yang sebagian besar melakukan usaha budidaya Nila, Lele, Mas dan Gurame,” tambah Adi.

Hal ini menunjukkan bahwa upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) untuk meningkatkan kemandirian pembudidaya khususnya pembudidaya komoditas air tawar sudah selaras dengan hasil sensus BPS tersebut.

“Dengan peningkatan jumlah RTP Budidaya dan upaya peningkatan kemandirian pembudidaya, maka kebijakan sub sector perikanan budidaya dalam mendukung ketahanan pangan dan peningkatan gizi masyarakat sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat akan dapat tercapai seiring dengan peningkatan produksi perikanan budidaya yang ditargetkan meningkat dua kali lipat pada tahun 2019,” tukas Slamet.

Pada keterangan resmi sebelumnya, Slamet juga menyampaikan bahwa saat ini perikanan budidaya harus menuju ke arah yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan. “Salah satu yang perlu digalakkan antara lain melalui swasembada induk dan benih unggul maupun penggunaan bahan baku pakan local untuk mengurangi impor bahan baku pakan ikan. Gerakan Kemandirian Pakan Ikan Nasional dan Swasembada induk dan benih unggul sangat penting untuk dilakukan sehingga kita tidak tergantung dari Negara lain untuk mengembangan usaha perikanan budidaya. Hal ini akan meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat yang terlibat dalam usaha perikanan khususnya perikanan budidaya,” tambah Slamet.

Related posts