Industri Garmen Perlu Solusi Bahan Baku Lokal - Menperin dan Pelaku Usaha TPT Berdialog di Bandung

NERACA

Bandung – Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional merupakan industri strategis yang memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja, pemenuhan kebutuhan sandang dalam negeri, serta sebagai penghasil devisa ekspor non migas dengan nilai yang cukup signifikan. Industri TPT juga memiliki keunggulan, dimana struktur industrinya telah terintegrasi dari hulu ke hilir. Demikian disampaikan Menteri Perindustrian Saleh Husin dalam sambutannya pada acara Dialog dengan Industri Tekstil dan Produk Tekstil di Bandung, Senin (12/1).

Dapat disampaikan, hingga saat ini nilai ekspor industri TPT mencapai US$ 12,68 miliar dengan surplus neraca perdagangan mencapai US$ 4,21 miliar. Dengan nilai ekspor tersebut, produk TPT mampu memberikan kontribusi ekspor sebesar 11,22% terhadap total ekspor industri nasional. Meskipun neraca perdagangan nasional mengalami defisit sejak tahun 2012, industri TPT mampu mempertahankan surplus rata-rata senilai US$ 4,3 miliar dan kontribusi ekspornya di atas 10% terhadap total ekspor industri nasional.

Selanjutnya, kontribusi produk tekstil terhadap PDB industri pengolahan non migas sebesar 8,67% serta mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 10,6% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Oleh karena itu, Pemerintah telah menetapkan untuk meningkatkan ekspor sebanyak 3 kali lipat pada lima tahun ke depan, hal ini berarti nilai ekspor industri TPT diharapkan akan mencapai lebih dari US$ 36 miliar pada tahun 2019. “Saya mengharapkan para pengusaha industri TPT bersama pemerintah dapat bekerjasama dalam mewujudkan target ekspor tersebut sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing,” tegas Menperin.

Sementara itu, produk garmen nasional telah diakui dunia sebagai produk berkualitas baik yang diminati di manca negara, dan bagi negara merupakan salah satu penyumbang devisa ekspor tertinggi. Nilai surplus perdagangan dalam beberapa tahun terakhir mencapai lebih dari US$ 6 miliar. Pada triwulan II tahun 2014, ekspor industri garmen mencapai US$ 3,7 miliar atau berkontribusi sebesar 58% dari total ekspor Industri Tekstil dan Produk Tekstil Nasional.

Di sisi ketenagakerjaan, industri garmen memberi kontribusi penyerapan tenaga kerja dalam jumlah yang besar, mencapai 800 ribu orang dan setiap tahunnya memberikan tambahan penyerapan tenaga kerja baru hingga 30 ribu orang. Dengan jumlah tenaga kerja sebesar itu, 52% dari SDM industri TPT diserap oleh industri garmen. Hal tersebut mencerminkan bahwa industri garmen berpotensi sebagai penggerak utama perekonomian nasional.

Namun demikian, ekspor produk garmen yang cukup tinggi, belum diintegrasikan dengan kemampuan supply bahan baku kain dari dalam negeri. Kebutuhan kain saat ini diperkirakan hingga 2,1 juta ton per tahun, sementara kapasitas produksi industri kain mencapai 2,5 juta ton per tahun. Dengan jumlah kapasitas produksi tersebut, seharusnya kebutuhan produk kain dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, namun pada kenyataannya impor kain mencapai 615 ribu ton yang diperkirakan setara dengan 1,53 miliar meter atau sebesar 29 % dari kebutuhan kain domestik.

“Tingginya impor kain tersebut, menurut saya penting untuk dicari tahu penyebab yang sebenarnya. Apabila link and match supply-demand bahan baku terjadi, maka value added yang maksimal dapat dipetik oleh industri dalam negeri,” tegas Menperin.

Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan industri TPT yang telah berlangsung selama delapan tahun, industri TPT Nasional seharusnya telah memiliki kemampuan yang memadai. “Koordinasi dan komunikasi yang terbuka mungkin dapat menjawab permasalahan yang terjadi, walau akan memakan waktu, tapi saya berkomitmen akan mendukung untuk terwujudnya industri TPT yang jaya di pasar dalam negeri maupun luar negeri,” tegas Menperin.

Related posts