ADHI Garap Bisnis Pembangkit Listrik - Miliki Porsi 49% Saham

NERACA

Jakarta – Ekspansi bisnis PT Adhi Karya Tbk (ADHI) terus menggurita, setelah sukses mengarap bisnis properto, kali ini perseroan terjun mengelola pembangkit listrik. Salah satunya dengan mendirikan perusahaan patungan bersama PT Terminal Teluk Lamong. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Disebutkan, dalam pembentukan perusahaan patungan tersebut, PT Adhi Karya Tbk bersama PT Terminal Teluk Lamong menandatangani pendirian perusahaan patungan bernama PT Lamong Energi Indonesia pada 7 Januari 2015. Komposisi kepemilikan saham perusahaan patungan itu antara lain PT Adhi Karya Tbk sebesar 49%, dan PT Terminal Teluk Lamong sebesar 51%.

Kata Sekretarus Perusahaan PT Adhi Karya Tbk, Ki Syahgolang Permata menegaskan, bidang usaha perusahaan patungan ini mengelola pembangkit listrik berbahan bakar gas dan utilitas kawasan. Adapun modal dasar pembentukan perusahaan patungan ini sebesar Rp 36,40 miliar dengan modal disetor mencapai Rp 9,1 miliar.

Tahun ini, perseroan mengincar laba bersih sebesar Rp 440,1 miliar dengan perolehan laba bersih diharapkan dapat mendongkrak pendapatan menjadi Rp 13,2 triliun. Kontribusi terbesar keuangan perseroan akan disumbangkan dari anak usaha perseroan yaitu PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Persada Realti.

Sebagai informasi, tahun lalu kontrak baru PT Adhi Karya Tbk (ADHI), lantaran perseroan berhasil membukukan kontrak baru Rp 10,5 triliun atau melesat dari target Rp 9,2 triliun. Dimana perolehan kontrak lebih didominasi dari swasta sebesar 52% dan sisanya 24% dari proyek BUMN dan BUMD dan proyek APBN serta APBD sebesar 24%.

Kemudian dari jenis pekerjaan, persentase terbesar adalah proyek-proyek gedung sebesar 43%, jalan dan jembatan 19% dan sisanya merupakan proyek infrastruktur lainnya. Dari sisi lini bisnis, perolehan kontrak baru untuk lini bisnis jasa konstruksi dan EPC sebesar Rp8,2 triliun, lini bisnis properti-realti sebesar Rp913,2 miliar dan untuk lini bisnis precast concrete sebesar Rp74,3 miliar.

Adapun, realiasi kontrak baru persreoan sepanjang tahun lalu, di antaranya adalah proyek EPC pembangunan pabrik Ammonia-Urea II di Gresik, Jawa Timur milik PT Petrokimia Gresik dengan nilai kontrak sebesar Rp1,1 triliun (porsi ADHI), di mana proyek tersebut merupakan proyek joint operation bersama Wuhuan China.

Selain itu, construction services–work unit rate (CS-WUR) Next G Pack A sebesar Rp855,6 miliar; pembangunan gedung New Spare Part Centre Astra di Karawang, Jawa Barat milik PT Astra Honda Motor sebesar Rp237,3 miliar; dan pembangunan jembatan Tono Arch di Timor Leste dengan nilai kontrak sebesar Rp181,8 miliar.

Untuk tahun ini, perseroan menargetkan perolehan kontrak baru mencapai Rp15,2 triliun, di mana lini bisnis jasa konstruksi ditargetkan meraih perolehan kontrak baru sebesar Rp12,5 triliun, lini bisnis EPC sebesar Rp460,1 miliar, pada lini bisnis properti realti sebesar Rp1,7 triliun, dan lini bisnis precast concrete Rp479,6 miliar.

Direktur Adhi Karya, Giri Sudaryono pernah bilang, perolehan laba bersih yang ditargetkan Rp 440,1 miliar tersebut didominasi anak perusahaan, dengan kontribusi mencapai 66,6%,”Dari total perolehan laba bersih yang direncanakan tersebut, anak perusahaan yang dominan memberikan kontribusi adalah PT Adhi Persada Properti dan PT Adhi Persada Realti sebesar 66,6% melalui perkembangan bisnis properti realti,”ujarnya. (bani)

Related posts