Berharap Kemanjuran Kartu Sakti Menuntaskan Anjal - Oleh: Ari Saputra, Mahasiswa Fakultas Teknik UMSU dan Alumni Pers Mahasiswa Teropong

“... Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu, Dipaksa pecahkan karang, lemas jarimu terkepal...”

Sepenggal lirik lagu Iwan Fals berjudul “Sore Tugu Pancoran” dipopulerkan pada tahun 1985. Menceritakan bagaimana seorang Anak Jalanan (Anjal) yang bekerja keras dalam hidup. Tak terasa, di penghujung 2014 ini, hampir 20 tahun silam usia lagu tersebut, menariknya kejadian lirik lagu tersebut masih saja banyak terjadi di bumi Indonesia.

Sebagai negara sedang berkembang, tentu harus mempersiapkan generasi penerus pelanjut tongkat estafet bangsa. Salah satu karya nyatanya menurut penulis adalah paling tidak melihat semua anak - anak Indonesia disibukkan dengan kegiatan belajar dan bermain, bukan bekerja atau hal pengumpul rupiah lainnya.

Tapi, itulah kenyataan di kota besar seperti Medan yang belum bisa lepas dari semakin menjamurnya bocah - bocah kecil lusuh “bekerja” mencari seperak uang. Kehadiran mereka menghiasi persimpangan traffict light, tempat ibadah, tempat makan, taman, dan di tempat umum lainnya. Saat ditanya, sebagian besar bocah itu mengatakan masih sekolah, sebagian lagi sudah putus sekolah.

Berbagai aktivitas ekonomi seperti mengamen atau menjual koran pun mereka lakoni. Jalanan bak rumah kedua, padahal di situ, bocah-bocah kecil itu menghirup udara yang bercampur dengan asap knalpot, menantang sinar matahari, dan terkadang hujan.

Itu belumlah seberapa, bahaya lebih serius lagi dihadapi Anjal di mana sebenarnya jalanan itu rentan akan tindakan kekerasan, eksploitasi oleh preman, polusi udara, kecelakaan lalu lintas, perdagangan anak, seks bebas, dan obat terlarang.

Seharusnya anak di bawah 15 tahun itu harus giat belajar, atau bermain menikmati masa anak-anak di tempat yang nyaman dan aman. Namun apa dikata, semua hal dilakukan karena uang yang begitu penting untuknya agar dapat menyambung hidup, meskipun tak seharusnya anak sekecil itu memikirkannya.

Undang-undang Dasar yang merupakan aturan bangsa Indonesia, pada pasal 34 ayat 1 mengingatkan bahwa “ Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara ”. Namun kenyataan jauh api dari panggang.

Masalah Klasik

Anjal merupakan persoalan klasik, selalu berdampingan dengan krisis ekonomi dan angka kemiskinan, belakangan masalah keluarga juga berperan.

Berdasarkan catatan Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada tahun 2008 ada 8 ribu anak jalanan. Jumlah ini meningkat 50% pada tahun 2009 menjadi 12 ribu anak. Tahun 2010 terdapat 5,4 juta anak terlantar sebanyak 232 ribu diantaranya merupakan anak jalanan yang terbagi atas 3 kelompok yakni kelompok anak-anak yang seluruh hidupnya di jalanan, kelompok anak yang 4-5 jam di jalanan dan kelompok anak yang mendekati jalanan. (Komnas PA, 2010). Riset Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) tahun 2004 menunjukkan, 133 dari 255 Anjal adalah pemakai obat-obatan, penghirup lem, dan peminum alkohol.

Hal-hal inilah yang harus diwaspadai pemerintah, Anjal juga generasi penerus bangsa yang harus diperhatikan, tak ada yang tahu, satu diantara mereka nantinya menjadi apa, yang pasti negara tak boleh diam membiarkah hal negatif terjadi kepada mereka.

Kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu membuat sejumlah harga bahan pokok ikut naik, begitu juga dengan ongkos angkutan umum, dan lain-lain. Pada intinya, semakin besar pula kebutuhan keluarga miskin yang harus mereka tunjang. Dampaknya tak hanya kepada orang tua, namun juga semakin kuatnya tekat anak-anak ini untuk lebih giat membantu orang tuanya mencari uang.

Bahkan, saat kompetitifnya dunia ini dalam memperoleh penghasilan, mengharuskan anak-anak mencari uang tak hanya di jalan, terkadang membawa mereka pada posisi yang tidak pada tempatnya, menjadi pembantu rumah tangga, kuli bangunan, sopir, perkebunan ataupun pekerjaan dewasa lainnya.

Meskipun banyak fakta inspiratif, ketika Si Anak Miskin setelah besar menjadi orang sukses, namun kenyataan juga lebih banyak anak miskin yang menjadi terlantar. Kehadiran mereka merupakan suatu pembuktian buruknya Indonesia mengelola ataupun mempersiapkan para sumber daya manusianya.

Anak adalah generasi penerus bangsa, tak peduli ia miskin, cacat, dan terlantar. Terlebih mereka dilindungi UUD yang katanya dipelihara. Sudah menjadi tugas pemerintah untuk bekerja keras menyiapkan program, sistem, dan anggaran untuk tujuan paling tidak mengembalikan Anjal ke dalam lingkungan di mana seharusnya.

Kartu “Sakti”, Manjurkah ?

Pada 3 November 2014 lalu, pemerintah meluncurkan program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat. Sebahagian orang menyebutnya “Kartu Sakti”. Kartu – kartu ini bertujuan untuk memudahkan masyarakat miskin dalam mengakses fasilitas pendidikan, kesehatan, dan meningkatkan kesejahteraan.

Namun persoalannya adalah bagaimana kriteria masyarakat miskin itu?, maklum saja, orang Indonesia banyak yang berpura-pura miskin. Sudah bukan menjadi rahasia umum, berbicara uang bantuan pemerintah terkenal rawan penyelewengan dan tidak tepat sasaran. Rasa tamak, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih lekat menggerogoti bangsa.

Jumlah dari Si Miskin sendiri selalu tidak pernah akurat. Hampir dapat dipastikan banyak di antara Si Miskin justru tidak mendapatkan Kartu Sakti tersebut. Jangan sampai pemerintah hanya pandai membuat program-program saja, namun realisasi dan pengawasannya tidak baik. Sehingga dana APBN itu terhambur oleh orang yang tak berhak.

Kartu – kartu sakti itu adalah keseluruhan program yang merupakan era baru dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat kurang mampu, melalui kegiatan produktif berupa rekening simpanan, keberlanjutan pendidikan anak, serta pemberian jaminan kesehatan yang lebih luas.

Simpanan Keluarga Sejahtera adalah bantuan tunai bagi keluarga kurang mampu yang diberikan dalam bentuk rekening simpanan sebagai bagian dari strategi nasional keuangan inklusif. Pemberian bantuan yang ditujukan untuk mendorong akses terhadap sistem keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemerataan pendapatan serta menjaga stabilitas sistem keuangan.

Maka dari itu, betapa pentingnya bantuan pemerintah ini. Apabila kartu-kartu sakti ini terealisasi dengan baik dan tepat sasaran, paling tidak dapat menenggarai biaya pendidikan serta kehidupan yang lebih baik masyarakat miskin serta secara otomatis akan menekan angka Si Anjal. Dan, yang terpenting Indonesia tak membiarkan anak – anak ini memilih antara bekerja dan belajar. Khawatirnya dapat menghilangkan kemungkinan potensi Si Anak ini dalam memajukan bangsa.

Fokus Pendidikan

Ada yang mengatakan pendidikan di Indonesia adalah jalan sukses yang dipunyai oleh orang yang berduit. Orang berduit dapat lebih fokus hanya belajar, sedangkan orang miskin pikirannya terbelah karena harus bekerja dan memikirkan hari ini makan apa. Alhasil, tak jarang mereka lebih memilih meninggalkan pendidikan.

Fakta yang penulis lihat pun menunjukkan demikian, dari sekian banyak anak miskin yang berhasil, sepertinya jauh perbandingannya dengan anak berduit yang berhasil. Contoh, ketika di mana hampir semua anak kecil ditanya akan cita-citanya, Si Anak selalu berujar ingin menjadi pilot, dokter atau lainnya. Namun, semua orang tahu, biaya pendidikan untuk dokter dan pilot sangatlah mahal. Mungkin ada beasiswa, akan tetapi tetap saja satu banding sepuluh orang miskin yang berhasil meraih cita-cita tersebut.

Dunia pendidikan, sejatinya adalah kunci bahwa negara akan maju suatu saat nanti. Banyak para orangtua dan anak itu sendiri pun berlomba-lomba menempuh pendidikan tinggi. Karena memang di Indonesia sertifikat jauh lebih penting daripada skill, kerja keras, dan mental. Buktinya, rata-rata lowongan pekerjaan di Indonesia saja mencantumkan syarat minimal ijazah S1 sebagai syarat awal.

Penulis berdoa semoga dengan adanya berbagai “Kartu Sakti” di kepemerintahan baru ini dapat manjur untuk merangkul dan mengasuh Anjal hingga pintu gerbang pendidikan tinggi. Masa depan mereka masihlah sangat panjang.

Di tahun 2015 diharapkan Indonesia adalah negara bebas Anjal, tiada lagi anak yang mengejar waktu karena tuntunan hidupnya. Belajar, belajar dan belajar untuk anak Indonesia ini. (analisadaily.com)

Related posts