Indonesia Tengah Dihantui Krisis Pangan

NERACA

Jakarta - Ketua Asosiasi Pengusaha Tepung Terigu Indonesia, Fransiscus Welirang, menegaskanIndonesia tengah dihantuiancamankrisis pangan. Ini membuat program swasembada pangan diusung Presiden Joko Widodo (Jokowi) terancam gagal. Untuk itu, pemerintah harus mewaspadai acaman krisis pangan yang sudah ada di depan mata.

“Indikator krisis pangan yaitu perubahan iklim sudah terjadi belakangan ini. Dimana musim hujan musim panas bergeser, ini harus bisa diantisipasi. Jika tidak sulit bisa swasembada pangan," kata Franky, di Jakarta, Sabtu (9/1), pekan lalu.

Menurut dia, perlu ada penciptaan benih atau bibit tanaman yang bisa menyesuaikan dengan iklim. "Kalau benih yang sama dengan kondisi yang berbeda pasti produktifitasnya turun artinya harus punya benih yang bisa menyesuaikan dengan alam itu," ujarnya.

Hal serupa pernah dilontarkan oleh Bustanul Arifin, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung, menyebutkan Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2030 mendatang, dengan usia produktif jauh lebih banyak dibandingkan yang tidak produktif. Harusnya kondisi ini memberikan keuntungan untuk negara. Tapi bila tidak dipersiapkan dengan matang, maka justru bisa menjadi masalah baru. Karena apa, selama ini minat generasi muda untuk menjadi petani menurun, ini akan mengakibatkan Indonesia bakal mengalami krisis pangan.

Franky menegaskan, masalah ini akan muncul dari sektor pertanian. Seiring dengan tren penurunan jumlah petani sejak 10 tahun terakhir. "Kalau jumlah petani terus berkurang dan mereka terus ke kota, yang akan memproduksi pangan siapa? Bagaimana kita makan, ini bisa berpotensi kita masuk krisis pangan," katanya.

Manusia usia produktif, lanjut Bustanul, membutuhkan banyak asupan pangan. Tidak hanya sebagai kebutuhan pokok, tapi juga gaya hidup. Sehingga harus ada kepastian ketersediaan pasokan pangan dengan cukup. "Masa semuanya mau dipenuhi dari impor? Kan tidak mungkin," tegas Bustanul.

Masalah diperkirakan semakin pelik pada 2050, saat manusia usia produktif di Indonesia menginjak masa tua. Menurut Bustanul, pangan yang dibutuhkan bisa dua kali lipat dari sebelumnya. "Orang lansia hidupnya harus ditanggung. Kebutuhan pangannya akan jauh lebih besar dari saat produktif. Tidak cuma kuantitas tapi kualitas pangannya juga. Sehingga harus dipersiapkan," paparnya.

Optimis

Sementara itu, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengaku optimistis dalam tiga tahun ke depan Indonesia akan mampu swasembada pangan. "Sejumlah upaya telah kami siapkan untuk mencapai target tersebut diantaranya terkait irigasi, benih, pupuk dan alsintan (alat dan mesin pertanian)," ujarnya.

Terkait irigasi, menurut dia, Kementerian Pertanian telah mempersiapkan perbaikan jaringan irigasi yang rusak pada satu juta hektare lahan pada 2015. "Perbaikan irigasi itu akan terus dilaksanakan selama tiga tahun ke depan, masing-masing untuk satu juta hektare lahan pertanian setiap tahun," ucapnya.

Dia menyebutkan dengan perbaikan irigasi itu saja, produksi beras nasional diperkirakan bisa naik hingga dua juta ton per tahun. "Jika tanpa irigasi, petani hanya bisa menanam satu kali setahun. Dengan diberikan irigasi diharapkan bisa melakukan dua kali tanam dalam setahun sehingga produksi bisa naik," tuturnya.

Persoalan benih juga menjadi persoalan nasional dan menjadi perhatian Kementerian Pertanian. Demikian juga halnya dengan pupuk yang sering terlambat sampai ke petani. "Distributor pupuk yang tidak bisa bekerja maksimal dan merugikan petani, dicabut saja izinnya," pungkas Amran. [agus]

Related posts