Subsidi BBM Dipangkas Rp220 Triliun

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan melalui draf usulan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2015 memangkas subsisi bahan bakar minyak (BBM, bahan bakar nabati (BBN), liquid petroleum gas (LPG) tabung 3 kilogram dan liquid gas for vehicle (LGV) dari semula Rp276 triliun menjadi Rp56 triliun atau turun Rp220 triliun.

Menteri Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro menyatakan, jika nantinya dewan perwakilan rakyat (DPR) menyetujui usulan pemerintah tersebut, maka akan ada pemangkasan sekitar 79%.

“Subsidi kami pangkas menjadi Rp81 triliun termasukcarry overke PT Pertamina (Persero) Rp25 triliun menjadi subsidi murninya Rp56 triliun,” katanya di Jakarta, pekan lalu.

Bambang merinci, dari dana subsidi Rp56 triliun tersebut, Rp23 triliun di antaranya untuk subsidi Elpiji (liquid petroleum gas) 3 kilogram, sisanya untuk subsidi minyak tanah Rp6 triliun dan subsidi solar sebesar Rp17 triliun.

Bambang mengatakan pemerintah telah menambah ruang fiskal hingga Rp230 triliun (belum termasuk pembayaran utang subsidi ke Pertamina Rp25 triliun) dari penghapusan subsidi BBM jenis premium (RON 82) mulai awal tahun ini.

Selain untuk membayarcarry overPT Pertamina (Persero), ruang fiskal tersebut juga rencananya akan digunakan untuk membayar tunggakan utang subsidi listrik ke PT PLN (Persero), subsidi benih, dan subsidi pupuk.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan Djalil mengatakan, pemerintah berkomitmen tetap tidak memberikan subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM) meski harga minyak akan kembali naik. Langkah itu dilakukan agar masyarakat terbiasa sehingga subsidi digunakan ke sektor produktif. "Insya Allah. Supaya masyarakat terbiasa. Karena apa? Subsidi yang lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Subsidi yang bagus untuk produktif sehingga lebih lebih ciptakan manfaatnya," kata.

Sofyan juga menuturkan, pemerintah akan kembali menghitung besaran harga BBM yang akan kembali diturunkan mengingatharga minyak duniaterus merosot, dan sisi lain nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). "Kombinasinya harga minyak dan rupiah. Jadi kalau harga minyak turun, rupiah tetap harga akan turun. Kalau harga minyak turun, rupiah melemah akan terkompensasi. Kami akan kembali menghitung," ujar Sofyan.

Selain itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar yang masih tertekan ini memang di luar kontrol pemerintah Indonesia. Ekonomi Amerika Serikat kembali membaik telah memperkuat dolar terhadap mata uang lainnya termasuk Rupiah. "Ekonomi AS bagus sekali. Di luar perkiraan menyebabkan nilai tukar hampir semua mata uang melemah terhadap dolar AS. Tapi rupiah menguat terhadap mata uang lain, artinya ekonomi Indonesia bagus," pungkasnya. [agus]

Related posts