Investor Mulai Tertarik Bangun Pabrik Gula di Indonesia Timur

NERACA

Jakarta - Rencana pemerintah untuk mencapai program swasembada pangan mulai mendapatkan dukungan dari para investor. Bahkan pemerintah berhasrat untuk membangun 10 pabrik gula guna memenuhi kebutuhan gula nasional. Salah satu pengusaha nasional Dewi Caroline mengaku akan membangun pabrik gula sebanyak 4 pabrik. Nantinya pabrik-pabrik tersebut akan berada di Indonesia bagian Timur.

Dewi yang juga mempunyai beberapa perusahaan di luar negeri ini mengatakan sejauh ini pihaknya masih dalam proses pembebasan lahan di daerah Sulawesi. Ia pun berharap agar proses tersebut bisa segera selesai dan pabriknya bisa mulai dibangun. "Kalau rencana, kita inginnya bangun 4 pabrik. Namun saat ini baru bangun 1 pabrik dahulu untuk sebagai pilot project," ungkap Dewi saat ditemui di Kantor Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Jakarta, Kamis (8/1).

Dengan dana investasi yang ia siapkan mencapai Rp1,5 triliun, Dewi merasa yakin proses perizinan untuk membangun pabrik gula akan tercapai. Terlebih saat ini Presiden Jokowi menginginkan swasembada gula dalam waktu 3 tahun. Ia juga beralasan dengan memanfaatkan lahan di Indonesia Timur maka akan membuat ekonomi di Indonesia Timur semakin bergerak tumbuh. “Kalau di Jawa, lahannya susah sekali dicari dan mahal,” katanya.

Menurut dia, satu pabrik gula dapat menghasilkan 10 ribu ton cane per day (TCD). Pihaknya juga akan menerapkan sistem plasma kepada petani-petani gula. “Jadi nanti kita akan mengajarkan dan memberikan pelatihan kepada para petani tebu untuk menanam tebu dengan baik dan benar dan hasilnya nanti bisa kita ambil. Sehingga petani tidak perlu susah-susah karena semuanya sudah ada yang mengatur,” tambahnya.

Dana investasi sebesar Rp1,5 triliun, lanjut Dewi, merupakan dana khusus untuk pabrik saja. Namun untuk investasi perkebunan, belum termasuk. Ia juga akan mendatangkan alat-alat yang canggih dalam mengelola tebu sehingga nanti hasilnya juga cukup bagus. Tak hanya itu, Dewi juga akan berjanji membuatkan suatu perumahan khusus buat para petani-petani tebu sehingga nantinya hal itu akan mendukung program transmigrasi yang diusung oleh pemerintah.

Dapat Insentif

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin berjanji akan memberikan insentif bagi investor yang mau membangun pabrik gula baru dan membuka lahan perkebunan tebu di Indonesia. Alasannya, selama ini yang menjadi penyebab Indonesia bergantung gula impor karena rendahnya produksi daripada kebutuhan akibat pabrik-pabrik tua.

Saleh Husin berharap ke depan, percepatan pembangunan pabrik gula segera dilaksanakan. Untuk menstimulusnya berupa insentif pajak seperti tax holiday dan tax allowance. “‎Kita berupaya agar ke depan, industri gula dalam negeri itu bisa memproduksi raw sugar (bahan baku industri gula rafinasi), harus mempunyai kebun tebu,” tutur Saleh.

Selain pabrik, tentu dibutuhkan tambahan perkebunan tebu yang luas untuk memasok kebutuhan bahan baku kepada pabrik gula tersebut. Saleh menyebut, setidaknya untuk 1 pabrik gula dibutuhkan lahan minimal 10.000 hektar. “Untuk satu industri gula rafinasi, itu minimal punya 10.000 hektar lahan. Saya sempat lihat sudah ada di Lamongan, pabriknya juga hampir jadi,” tuturnya.

Oleh karena itu, Saleh menuturkan, pemerintah bakal menyiapkan‎ insentif bagi perusahaan yang mau membangun pabrik dan membuka perkebunan tebu. Kementerian Perindustrian akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan dalam hal ini. “Kita selalu dorong, tentu kita berikan insentif macam-macam misalnya tax holiday, tax allowance nanti dibicarakan. Terutama untuk industri yang berorientasi ekspor,” tutupnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Natsir, dana investasi yang dibutuhkan untuk bisa membangun 10 pabrik gula mencapai Rp 42,5 triliun. “Meski berisiko tinggi, pembangunan pabrik gula mendesak. Sebab, dari 52 yang ada, hanya sepuluh yang beroperasi dengan baik,” kata Gamal.

Gamal menuturkan sepuluh pabrik gula tersebut akan berada di daerah pengembangan tebu nasional, antara lain Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Papua. Setiap pabrik diharapkan mampu berproduksi hingga 30 ribu ton tebu per hari (TCD).

Gamal berjanji akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga lain dalam membangun pabrik ini. Koordinasi yang dilakukan, antara lain, berupa kemudahan perizinan, penyediaan modal usaha lahan tebu, penyediaan kredit program, pemberian modal usaha dan insentif, serta pengaturan zonasi bahan baku.

Selain membangun pabrik baru, Kementerian Pertanian juga berencana merevitalisasi 42 pabrik gula yang saat ini berproduksi di bawah standar 6.000 ton tebu per hari. Gamal bahkan berniat menggabungkan 33 pabrik tua menjadi sepuluh pabrik gula besar dengan rendemen minimal 9 persen. “Kebanyakan pabrik gula dibangun sejak zaman kolonial dan tidak pernah direvitalisasi,” ujarnya.

Adapun pembangunan ini, kata Gamal, bertujuan meningkatkan produktivitas tebu dari prediksi 2.950.099 ton gula hablur pada 2015 menjadi 3.038.684 ton gula hablur pada 2017. Gamal berharap produksi dapat mencapai taraf swasembada gula pada 2017.

Pada kesempatan sebelumnya juga, Wakil Presiden Jusuf Kalla berjanji akan memberikan insentif kepada pabrik gula milik BUMN serta membatasi ruang gerak pabrik gula rafinasi. Jusuf Kalla langsung memerintahkan Menteri Perdagangan Rahmat Gobel untuk memperhatikan berbagai kendala yang dihadapi pabrik gula BUMN.

“Pak Rahmat, anda harus memberikan insentif kepada pabrik gula sesuai dengan peningkatan rendemennya. Itu kita lihat saja nanti seperti apa,” ujar Wapres, seperti dikutip Antara, belum lama ini.

Related posts