KKGI Serap Biaya Eksplorasi US$ 1,2 Juta

NERACA

Jakarta – Hingga bulan Desember 2014, perusahaan tambang PT Resources Alam Indonesia Tbk (KKGI) mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar US$1.285.385. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (8/1).

Lenny S.C, Sekretaris Perusahaan PT Resources Alam Indonesia Tbk mengatakan, kegiatan eksplorasi dilakukan di Handil Bakti dan Tanjung Barokah dan dilakukan oleh anak perusahaan perseroan PT Insani Baraperkasa.

Rencananya, aksi untuk blok Loajanan akan terus dilakukan pemetaan geologi dan pembebasan lahan untuk menetapkan sub blok yang potensial di tambang. Untuk blok Separi masih dipelajari untuk dilakukan bor. Seluruh blok dalam PKP2B PT Insani Baraperkasa, untuk tahap produksi sudah mendapatkan persetujuan Menteri ESDM.

Masih melemahnya harga batu bara tahun lalu dan berlanjut hingga tahun ini, tidak menyurutkan perseroan untuk mendongkrak produksi batubara. Di tahun ini, PT Resources Alama Indonesia Tbk membidik produksi batubara sebanyak 5,3 juta metrik ton (MT). Target tersebut tumbuh 39,47% dibandingkan produksi batubara tahun 2014 yang diprediksi KKGI mencapai 3,8 juta MT.

Perseroan sangat optimis target produksi bisa tercapai mengingat kapasitas keseluruhan infrastruktur yang sudah lengkap. Disamping itu, perseroan juga memastikan pencapaian target tahun 2015 menjadi salah satu fokus usaha KKGI. Emiten ini juga akan berusaha meningkatkan imbah hasil ekuitas (ROE) dengan cara mendongkrak produktifitas dan efisiensi operasional.

Selain menggarap penambangan batubara, KKGI juga mulai melakukan diversifikasi usaha dengan merambah bisnis pembangkit listrik. Belum lama ini, KKGI sudah mengemukakan rencana mengakuisisi perusahaan pembangkit listrik mini hidro (PLTM) bernama PT Katulistiwa Hidro Energi (KHE).

Perusahaan ini akan diakuisisi dari pemilik lama, yaitu PT Bumi Raya Utama (BRU) dan perorangan bernama Hendro Martowardojo. Khatulistiwa Hidro adalah sebagai pemegang saham 95% di PT Bias Petrasia Persada (BPP), yang tak lain pengembang listrik mikro hidro di Cicatih, Jawa Barat.

Pembangkit di Cicatih ini berkapasitas 6.400 Kilo Watt Hours (kWh). Nah, Pada 9 Juli 2012, Bias Petrasia membuat perjanjian jual beli listrik ke PLN. Namun, besarnya nilai dari transaksi tersebut masih menunggu selesainya penghitungan nilai wajar (fair value) dan penilaian kewajaran (fairness opinion) dari penilai independen.

Rencana KKGI merambah bisnis pembangkit listrik didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, kondisi industri batubara yang menjadi domain utama bisnis KKGI memang sedang lesu. Akuisisi ini dianggap bisa mendongkrak laba dan pendapatan sumber penghasilan kemudian hari.

Kedua, KKGI ingin mendukung program pemerintah untuk pengembangan bisnis energi terbarukan. Pertimbangan ketiga, secara komersial, saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Permen ESDM Nomor 12/2014, telah menaikkan harga jual listrik tenaga air dari Rp 656 per Kwh menjadi maksimal Rp 1.075 per Kwh.

Bila rencana akuisisi ini berhasil, KKGI akan siap mengembangkan pembangkit sejenis di beberapa daerah yang punya airnya berlimpah. Sebelumnya manajemen KKGI menyebut, lantaran pasar batubara sedang loyo, KKGI berpikir ulang untuk melakukan proses produksi batubara di anak usahanya, PT Loa Haur di Kalimantan Tengah.

Pertimbangan lain, jarak tempuh hauling road di Loa Haur mencapai 20 kilometer (km). Jarak ini terlalu jauh ini tentu sehingga beban biaya tinggi. Karena itu, saat ini KKGI memilih mendiamkan konsesi ini.Semula perusahaan berencana memulai produksi pada di konsesi Loa Haur sebanyak 1,5 juta ton sampai 2 juta ton batubara per tahun. Adapun Luas lahan konsesi Loa Hour mencapai 4.810 hektare (ha). (bani)

Related posts