Stabilitas Ekonomi, Subsidi BBM Tetap Diperlukan - Kupang, NTT

NERACA

Kupang - Subsidi tetap bahan bakar minyak pada 2015 yang merupakan salah satu terobosan bidang ekonomi dan keuangan, diperlukan untuk pemantapan stabilisasi pasar dan perekonomian nasional.

"Selain untuk kepentingan stabilisasi, subsidi tetap yang telah ditetapkan Rp1.000 per liter hanya untuk BBM jenis solar itu, ketika ada gejolak minyak mentah dunia misalnya harga minyak dunia naik, daya beli ataupun dampak lain dari kenaikan BBM tidak mengganggu pasar," kata Dosen Universitas Widaya Mandira Kupang, Thomas Ola Langoday, di Kupang, NTT, kemarin.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Widaya Mandira Kupang itu, mengatakan hal tersebut terkait dengan penghapusan subsidi premuim dan memberikan subsidi tetap pada BBM jenis solar sebesar Rp1.000 per liter.

Selain mengatasi gejolak dan kepastian terhadap pasar, menurut Langoday, subsidi tetap akan memberi kepastian ihwal seberapa besar alokasi anggaran dari sisi fiskalnya.

Sebelumnya, kalangan ekonom menengah ke atas sudah mengetahui bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan untuk menerapkan subsidi tetap BBM, namun setelah adanya sosialisasi dan pencermatan lebih mendalam, hal itu dapat dimaklumi "Jadi ada 'minus malum-nya' kebijakan itu, tetapi lebih banyak atau besar manfaatnya di antaranya ketika bahan bakar minyak dunia naik atau turun sudah ada antisipasi walaupun tidak signifikan tetapi sudah ada semacam talangan khusus untuk jenis solar," katanya.

Selain itu, katanya, dapat dipastikan bahwa pemerintah masih memberikan subsidi terhadap BBM, walaupun nilainya berkurang.

Menurut Langoday, alokasi subsidi sebesar itu masih menyisakan sedikit dana (besaran tentatif) dan merupakan penghematan dari harga BBM dan akan lebih baik bila dialokasikan untuk kesejahteraan masyarakat, seperti lebih banyak alokasi anggaran untuk program sosial bagi masyarakat miskin dan membantu peningkatan daya beli.

Langoday juga mengatakan dengan lebih banyak alokasi anggaran untuk program sosial bagi masyarakat miskin, daya beli masyarakat dapat terbantu.

"Dengan alokasi anggaran kepada pertanian, UMKM, produksi pertanian bisa ditingkatkan dan produksi UMKM bisa ditingkatkan," kata dia. Langoday mengakui kebijakan itu sudah pasti berdampak inflasi, tetapi itu risiko dari suatu keputusan meskipun dampaknya akan dirasakan untuk jangka menengah dan panjang pada suatu saat.

Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo pernah bilang, penurunan harga sekaligus pencabutan subsidi BBM jenis Premium, bakal mendorong pembangunan nasional.

Pertumbuhan infrastruktur bakal semakin cepat karena pengalihan anggaran subsidi ke belanja modal. "Negara bisa mempersiapkan belanja infrastruktur dan dapat dicairkan kalau APBN-P cepat efektif," katanya.

Agus Marto juga meyakini, penghilangan subsidi untuk premium tidak mengganggu stabilitas perekonomian nasional. Justru sebaliknya, anggaran negara lebih sehat, pembangunan lebih cepat.

"Kalau ada perubahan harga minyak dunia menjadi tinggi, tidak jadi beban, tidak jadi momok anggaran kita akibat subsidi energi berlebih. Sekarang jadi bisa lebih terukur," jelasnya. [ant]

Related posts