BUMN Perbankan Paling Besar Terkena Pemotongan - Pangkas Setoran Dividen Rp9 Triliun

NERACA

Jakarta - Pemerintah memastikan akan memangkas kewajiban setoran dividen bagi perusahaan BUMN pada tahun ini sebesar Rp9 triliun. Dari total pemangkasan setoran dividen tersebut, sektor perbankan akan menjadi perusahaan yang paling besar jumlah pemotongannya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Sofyan Djalil mengaku, ada beberapa hal yang mendasari pemerintah melakukan pemangkasan dividen yang cukup besar untuk industri perbankan.

"Itu karena dia loan to deposit ratio (LDR) mereka di atas 90%. Kalau tidak ditambah equity yang lebih banyak, bank tidak bisa berkembang," kata Sofyan di Istana Kepresidenan, Rabu (7/1).

Menurut dia, dengan bertambahnya equity tersebut diharapkan perbankan dapat melakukan ekspansi lini bisnisnya baik di dalam negeri atau di luar negeri. ‎"Karena kalau misalnya modal bertambah Rp1 triliun, maka mereka (perbankan) bisa tambah salurkan kredit sampai dengan Rp10 triliun," tegasnya.

Namun demikian, Sofyan mengungkapkan, jumlah pemotongan dividen perusahaan pelat merah ini dinilai masih kurang. Menurut Sofyan, seharusnya pemotongan dividen kepada perusahaan-perusahaan BUMN tersebut bisa lebih besar.

Dia berdalih karena perusahaan-perusahaan tersebut perlu melaju lebih kencang dalam membangun ekonomi Indonesia di tahun ini. ‎"Ya benar. Angka Rp9 triliun itu kecil. Seharusnya lebih banyak lagi BUMN bisa dipotong dividennya," jelasnya.

Meski begitu, pihaknya akan melakukan pembahasan lebih lanjut dengan beberapa menteri terkait mengenai keputusan penetapan dividen BUMN yang nantinya akan dituangkan dalam APBN P‎erubahan 2015.

Senada, Menteri BUMN Rini Soemarno memaparkan, sektor yang paling besar mendapat pemotongan dividen adalah perbankan. "Salah satunya perbankan yang cukup lumayan (pemotongannya). Setelah itu asuransi, kemudian BUMN Karya karena kami mau mendorong sektor infrastruktur," kata Rini.

Ekspansi ke luar negeri

Hanya saja, Rini masih belum bisa mengungkapkan berapa total pemotongan dividen di sektor perbankan yang dipotong tersebut. Sebelumnya, Pemerintah dan DPR sepakat mematok target dividen BUMN di RAPBN 2015 menjadi Rp43,73 triliun. Namun, Rini menjelaskan setoran itu akan diturunkan sebesar Rp1,5 triliun menjadi Rp42,23 triliun.

Tidak hanya itu, salah satu sektor yang juga akan dipotong dividennya adalah sektor energi, seperti salah satunya PT Pertamina (Persero). "Di Pertamina juga (kena potong) karena kami mau Pertamina makin dorong usaha mereka termasuk di kilang dan tangki-tangki penyimpanan‎," kata Rini.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memberikan ‘lampu hijau’ kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara untuk memangkas setoran dividen bagi perusahaan pelat merah. Presiden menjelaskan, tujuan semula setoran dividen perusahaan-perusahaan BUMN tersebut untuk menambah penerimaan negara.

Namun, kewajiban bagi perusahaan-perusahaan pelat merah tersebut ternyata memberikan dampak buruk ke perusahaan-perusahaan tersebut. Penarikan dividen tersebut justru penghambat berkembangnya perusahaan tersendiri. "‎Kalau dividennya tidak diambil mereka bisa berkembang," ungkapnya, akhir tahun lalu.

Dengan diizinkannya perusahaan BUMN mengurangi setoran dividennya, otomatis penerimaan negara akan berkurang. Namun, Jokowi memastikan hal itu tidak akan menjadi masalah. Untuk menutup hal itu, Jokowi mengaku akan meningkatkan penerimaan dari sektor pajak dan penerimaan bukan pajak.

‎"Konsentrasi kami memang ke arah sana (penguatan pajak), bukan dari pembayaran dividen BUMN-BUMN. Kami ingin mereka berkembang. Biarkan dividen-dividen itu dipakai untuk mereka ekspansi yang lebih besar,” tegasnya.

Melalui cara tersebut, Presiden berharap BUMN menjadi motor penggerak ekonomi negara dengan cara mengembangkan lini bisnisnya tidak hanya di dalam negeri, namun juga ke pasar internasional. Keinginan Presiden tersebut didasarkan saat ini masih ada segelintir perusahaan BUMN yang baru merambah dunia internasional. Untuk menghadapi pasar bebas ASEAN, kemajuan BUMN menjadi hal yang sangat penting. [ardi]

Related posts