Pemerintah Diminta Tak Asal Pilih - Seleksi Direksi Bank BUMN

NERACA

Jakarta -Pemerintah diminta untuk tidak asal memilih kandidat direktur utama bank BUMN, namun memiliki visi dan komitmen yang kuat terhadap konsolidasi perbankan atau pro konsolidasi. Chief Economist Samuel Sekuritas Indonesia,Lana Soelistianingsih mengatakan, konsolidasi perbankan amat dibutuhkan untuk menghadapi liberalisasi perbankan MEA 2020 di mana nanti bank-bank berstatus Qualified ASEAN Banks (QAB) akan bebas berekspansi ke berbagai negara ASEAN.

Menurut Lana, sebagai pemegang saham, pemerintah memiliki wewenang untuk mengatur aset dan pengelolaan bank-bank milik negara. Untuk itu, pemerintah harus mencari kandidat dirut bank BUMN yang mampu menjawab tantangan zaman dalam 10 tahun ke depan."Saya yakin pemerintah tentu akan memilih orang yang sesuai dengan visi konsolidasi perbankan," ujarnya di Jakarta, Rabu (7/1).

Untuk menghadapi MEA 2020, sambung Dosen FEUI ini, bank-bank BUMN harus melakukan konsolidasi dan itu dapat dimulai dari bank-bank BUMN. Tantangannya adalah bank-bank nasional menghadapi bank-bank ASEAN yang memiliki modal besar, jika tidak dapat menambah modal, satu-satunya cara adalah melalui konsolidasi.

"Dapat kita bandingkan dengan Maybank yang memiliki modal hingga 50 miliar dolar AS atau setara sekitar Rp500 triliun. Bandingkan dengan Bank Mandiri yang modalnya hanya Rp100 triliun," kata Lana. Dia jugamenambahkan, pemerintah harus dapat menyuntik modal bank-bank BUMN untuk mengatasi persaingan dengan bank-bank asing. Namun, jika konsolidasi dilakukan, misalnya Bank Mandiri dengan Bank BNI, maka dapat menambah modal sekitar Rp200-300 triliun. [ardi]

Related posts