Pertumbuhan Ekonomi Tak Capai Target - Sepanjang 2014

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mencapai target sesuai yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2014. Pemerintah awalnya menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,5%, tetapi realisasinya hanya di angka 5,1%. Menurut Menteri Keuangan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, tidak tercapainya pertumbuhan ekonomi dikarenakan turunnya kinerja ekspor seiring lemahnya permintaan dunia dan turunnya harga komoditas di pasar internasional.

Akibatnya, capaian pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 5,1%, lebih rendah dari asumsi yang ditargetkan APBN-P 2014 sebesar 5,5%. Kemudian Bambang menuturkan, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi berdampak terhadap harga komoditas di dalam negeri.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga ikut meningkatan harga barang impor. Kedua faktor ini menyebabkan tingkat inflasi naik mencapai 8,3% di sepanjang 2014. "Tingkat inflasi ini lebih besar dari asumsi di APBNP sebesar 5,3%," kata BambangdiJakarta, Rabu (7/1).

Dia mengatakan untuk realisasi rata-rata nilai tukar rupiah di 2014 mencapai Rp11.878 per dolar AS, atau mengalami pelemahan dibandingkan target sebesar Rp11.600 per dolar AS. Depresiasi nilai tukar rupiah antara lain dipengaruhi oleh faktor internal seperti tingginya defisit neraca pembayaran dan faktor eksternal khususnya rencana kenaikan suku bunga AS.

Kemudian Bambang menuturkan, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.537,2 triliun, atau mencapai 94% dari target sebesar Rp1.635,4 triliun. Dari jumlah realisasi pendapatan negara tersebut, realisasi penerimaan perpajakan mencapai Rp1.143,3 triliun, atau 91,7% dari target yang ditetapkan sebesar Rp1.246,1 triliun. Lalu, untuk realisasi rata-rata suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan sebesar 5,8% di bawah asumsi APBNP 2014 sebesar 6%.

"Ini dipengaruhi masih tingginya permintaan akan surat berharga negara meskipun likuiditas global relatif ketat," kata Bambang.

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi Farial Anwar mengatakan melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga level Rp12.900 per dolar AS memang akan berdampak terhadap angka pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tak heran jika target pemerintah untuk angka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan dari 5,5% menjadi 5,1% di tahun lalu.

Dia mengatakan pelemahan nilai tukar mata uang akan menyebabkan ketidakpastian bagi para investor untuk mengembangkan investasinya. "Apalagi diperkirakan, Amerika Serikat juga akan meningkatkan suku bunganya sehingga para investor melarikan dananya dari Indonesia ke luar," kata Farial.

Dia menambahkan, meski pemerintah sudah menjaminkan kepada investor dengan kemudahan prosedur birokrasi satu atap dan pembangunan infrastruktur, hal itu tidak akan menjamin para investor akan kembali datang ke Indonesia. Menurutnya para investor tidak mungkin langsung berinvestasi sebab para investor cenderung melakukan observasi terlebih dulu.

"Apakah pembangunan infrastruktur dalam satu tahun bisa tercapai, kan tidaklah mudah. Investor kan tidak mungkin langsung masuk, pasti akan observasi lebih dulu. Apa betul janji-janji pemerintah," pungkasnya. [agus]

Related posts