Menkeu Tetap Optimistis - Pertumbuhan Ekonomi 2015

NERACA

Jakarta -Menteri Keuangan, Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, mengaku masih optimis atas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 yang diperkirakan pada kisaran 5,5-5,8 persen, karena pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk mendukung pembangunan investasi.

"Target saya 5,5%-5,8% dengan kecenderungan pada batas atas," ujarnya di Jakarta, kemarin. Dia menjelaskan pemerintah memiliki ruang fiskal sebesar Rp230 triliun, yang akan dialokasikan bagi Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Pertanian untuk mendukung iklim investasi.

"Kementerian Pekerjaan Umum akan membangun infrastruktur dasar, Kementerian Perhubungan membangun pelabuhan dan rel kereta api, serta Kementerian Pertanian akan memberikan pupuk, benih, alat mesin pertanian, dan perbaikan irigasi," ujarnya.

Selain pembenahan dalam segi anggaran, pemerintah yakin investasi akan mendukung pertumbuhan ekonomi, karena telah memperbaiki birokrasi perijinan dengan mendirikan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

"PTSP akan mulai efektif pada Januari ini, dengan adanya perbaikan prosedur tentu akan meningkatkan daya tarik yang tidak hanya investor asing, tapi juga domestik. Jadi, tidak ada lagi perizinan yang lama dan investasi bisa mendorong pertumbuhan ekonomi," katanya.

Bambang menambahkan pemerintah juga masih bergantung pada konsumsi domestik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, karena sektor ekspor pada 2015, diperkirakan masih mengalami kelesuan dan tidak bisa memberikan kontribusi.

"Untuk menjaga peluang, kita harus menjaga daya beli masyarakat agar konsumsinya stabil, karena ekspor tidak bisa menjadi motor pertumbuhan. Kita tidak bisa tahu, apalagi banyak ketidakpastian terkait perekonomian Tiongkok, tapi kita upayakan tahun ini lebih baik dari tahun lalu," jelasnya.

Namun, menurut dia, masih ada sejumlah tantangan eksternal yang bisa mengganggu pencapaian target pertumbuhan ekonomi tersebut, salah satunya pemulihan ekonomi di Amerika Serikat yang dapat mempercepat kenaikan suku bunga The Fed.

"Kondisinya tidak mudah, yang pasti ketidakpastian global masih tetap tinggi. Kalau AS tumbuh, mereka harus mengurangi biaya moneter sehingga tingkat bunga naik. Konsekuensinya, pada 2015 sedang diupayakan pengurangan defisit (anggaran) untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan dari asing," ujarnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Infrastruktur Pondasi Ekonomi

Fakta pengalaman pembangunan di sejumlah negara yang berkembang pesat, pembuat kebijakan memahami bahwa pembangunan yang sukses memerlukan komitmen selama beberapa…

OECD : Ekonomi Negara Berkembang Asia Stabil

    NERACA   Jakarta - Laporan proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terbaru menyatakan perekonomian di…

Pertumbuhan Kredit Juni Double Digit

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 masih di…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerataan Harus Jadi Mainstream Strategi Pembangunan - Mindset Pembangunan Perlu Diubah

    NERACA   Jakarta - Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengatakan pemerataan tidak boleh lagi dilhat sebagai efek…

Serikat Pekerja Dukung Pemberantasan Korupsi Di PLN

      NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Dirut PLN Syofyan Basir terkait dengan OTT…

Peserta Gerakan OK Oce Lampaui Target

      NERACA   Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan peserta gerakan One Kecamatan One…