Pembangunannya Bakal Dikaji Ulang - Tanggul Laut Raksasa

NERACA

Jakarta - Pemerintah tengah mengkaji kembali pembangunan mega proyek tanggul laut raksasa atau giant sea wall di Pantai Utara Jakarta. Hal ini lantaran banyak pertimbangan-pertimbangan terkait kelanjutan proyek tersebut, sehingga memunculkan dua opsi, dilanjutkan atau tidak.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Mudjiadi mengatakan, pembangunan mega proyek ini rentan terhadap dampak lingkungan, terutama soal kondisi Teluk Jakarta, salah satunya karena banyaknya limbah sampah, sehingga harus dikaji ulang.

"Ada 13 sungai yang mengalir ke arah Utara Jakarta. Kalau ke-13 aliran sungai ini membawa banyak sampah maka menjadi masalah. Karena kalau tetap dibangun bisa menjadi ‘septic tank raksasa’”, katanya di Jakarta, Rabu (7/1).

Dia mengatakan berdasarkan keputusan rapat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian beberapa waktu lalu, menghasilkan putusan berupa pembentukan Badan Penanggulangan Masalah Banjir di Jakarta.‎

Dengan mempertimbangan dampak lingkungan, dua tahapan dari total tiga tahap yang ada dalam pelaksanaan mega proyek ini terancam tidak dilanjutkan.

"Yang tahap A adalah peninggian tanggul di sepanjang garis pantai dan ini adalah hal yang wajib. Kalau nggak nanti Jakarta banjir oleh air laut. Tapi, untuk tahap B dan C termasuk proses reklamasi di dalamnya itu yang masih belum tahu (dilanjutkan atau tidak)," katanya.

‎Berdasarkan dokumen National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN), pembangunan tanggul raksasa di utara Jakarta dibuat dalam tiga tahap:

Pertama atau tahap A. Yaitu penguatan garis pantai Jakarta sudah dimulai pada 2014 lalu. Rencananya dilakukan hingga 2018 atau empat tahun ke depan. Pada fase ini mencakup penguatan tanggul dan pemasangan stasiun pompa. Total investasinya mencapai US$1,9 miliar.

Kedua atau tahap B‎. Pembangunan tanggul laut luar dan reklamasi laut (pulau buatan) seluas 1.250 hektar - 4.000 hektar untuk periode 2018-2022. Pada fase ini juga akan dikembangkan jalan tol dari Tangerang dan Bekasi. Termasuk pembangunan mass rapid transit (MRT) dari pusat kota ke Jakarta.

Pada fase ini, selain pembangunan tanggul laut luar, juga ada pembangunan stasiun pompa, pintu air, pemindahan jaringan pipa, restorasi hutan bakau dengan perkiraan biaya US$ 4,8 miliar.

Ketiga alias tahap C‎. Fase ini merupakan fase pembangunan tanggul luar di sisi timur Jakarta, namun sampai saat ini belum bisa ditentukan apakah tanggul laut di sisi luar bagian timut diperlukan. Alasannya penurunan muka tanah di kawasan timur masih relatif lambat dan sungai-sungai utama masih mengalir bebas.

Konsep tanggul laut 'Garuda Raksasa' di perairan Teluk Jakarta dianggap sebagai opsi terbaik untuk mencegah Jakarta Utara tenggelam pada 2050 mendatang. Konsep ini banyak punya manfaat seperti adanya tanggul dan waduk raksasa di Teluk Jakarta. Proyek ini sempat di-groundbreaking pada 9 Oktober 2014. Diperkirakan butuh anggaran hingga Rp500 triliun (pemerintah dan swasta) untuk menyelesaikan proyek ini secepatnya pada 2022 atau paling lambat 2030 mendatang. [agus]

Related posts