Pemerintah Butuh US$463 juta - Survei dan Pengangkatan Kapal Tenggelam

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) , Sudirman Saad, mengungkapkan saat ini ada sekitar 463 kapal yang tenggelam di laut Indonesia. Sedangkan untuk bisa survey dan mengangkat kapal itu dibutuhkan US$ 10 juta per kapal, maka dari itu pemerintah membutuhkan sekitar US$ 463 juta untuk bisa mengangkat kapal itu. “Selama ini isu ini tidak terlalu banyak di angkat, tapi ternyata muatan ekonominya sangat tinggi, sehingg kini sedang ramai dibicarakan,” ,” katanya kepada Wartawan di Jakarta, Rabu (7/1).

Mengingat, jika satu kapal saja bisa diangkat maka nilai ekonomisnya bisa sekitar US$ 80 juta, maka dari itu, saat ini tengah ramai dan banyak menyedot perhatian baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Nilai ekonominya sangat tinggi, makanya dapat mendapat perhatian,” ujarnya.

Dan selama ini, sambung dia sudah ada sekitar 10 kapal yang sudah diangkat. Namun demikian skemanya ada kerjasama dengn investor dengan pembagian hasil setengah-setengah. Tapi menurutnya, langkah itu jika memang pemerintah punya anggaran lebih baik bisa di takeover semua oleh pemerintah. “Yang sudah-sudah kerjasanma dengan investor karena memang selain pembiayaan, kita juga belum punya tekhonloginya. Harapannya ke depan bisa diambil alih semua oleh pemerintah,” tuturnya.

Menurutnya, jika dibiayai oleh pemerintah maka ada beberapa keuntungan diantaranya keutungan pengetahuan, dan nilai secara ekonomi, tapi kalau dibiarkan tidak bermanfaat sama sekali.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pesisir dan Lautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Eko Rudianto, mengatakan untukiaya pengangkatan harta karun yang disebut cagar budaya dari kapal tua yang tenggelam di laut Indonesia memakan biaya yang tidak sedikit. Sekali angkat, pemerintah butuh US$ 7 juta atau sekitar Rp 84 miliar. "Sekali angkat sampai US$ 7 juta," katanya.

Biaya ini belum ditambah pembuatan fasilitas sementara di atas laut untuk penempatan harta karun yang baru diangkut. Karena keterbatasan dana, pemerintah pun angkat tangan. "Namun saat ini pemerintah tidak punya uang, makanya masih bekerjasama dengan pihak ke-3" ujar Eko.

Mengingat, sambung Eko, tingginya biaya pengangkatan kapal tua dan ketidakmampuan pemerintah menyebabkan aktivitas ini harus melibatkan pihak swasta asing. Contohnya harta karun senilai US$ 80 juta (Rp 960 miliar) yang berhasil diangkat dari kapal Tiongkok dari dasar laut Cirebon yang dilakukan sejak Februari 2004 hingga Oktober 2005.

Hasil pelelangan benda berharga saat itu dibagi rata antara pemerintah dan perusahaan yang melakukan eksplorasi. Pengangkatan benda berharga muatan kapal tenggelam di Cirebon itu dilakukan oleh PT Paradigma Putra Sejahtera bekerja sama dengan Cosmix Underwater Research Ltd dengan izin pemerintah Indonesia.

"Yang di Cirebon US$ 80 juta sudah dilelang. Salah satunya caranya memang diangkat sehingga bisa dipelajari dan disimpan sebagai barang cagar budaya," jelasnya. [agus]

Related posts