Pergerakan IHSG Dihantui Aksi Ambil Untung

NERACA

Jakarta – Menguatnya bursa saham di Asia pada penutupan perdagangan saham kemarin, berhasil mengerek laju pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ikut menguat. IHSG seharian berada di zona hijau, setelah sebelumnya tertekan aksi ambil untung. Kali ini, IHSG pada penutupan perdagangan saham Rabu (7/1) ditutup tumbuh 38,058 poin (0,74%) ke level 5.207,118. Sementara Indeks LQ45 ditutup maju 9,303 poin (1,05%) ke level 897,506.

Selain itu, menguatnya saham-saham unggulan dan di ikuti aksi buru saham oleh investor domestik makin membut IHSG terus perkasa. Ada tujuh sektor saham berhasil menguat, kecuali sektor agrikultur, infrastruktur, dan perdagangan,”IHSG BEI menguat didorong aksi spekulan atau investor yang berorientasi jangka pendek, situasi itu terlihat dari kenaikannya yang masih terbatas," ujar Director of Investment PT Valbury Asia Asset Management, Andreas Yasakasih di Jakarta (7/1).

Dia mengemukakan bahwa penguatan IHSG BEI yang terbatas itu karena belum didukung oleh data ekonomi domestik yang positif. Data yang telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada awal bulan Januari 2015 menunjukan bahwa perekonomian Indonesia masih melambat,”Ekspektasi ekonomi Indonesia juga belum cukup positif. Inflasi Januari 2015 diperkirakan masih tinggi, neraca perdagangan Indonesia juga masih defisit ditambah nilai tukar rupiah yang masih terdepresiasi terhadap dolar AS. Sehingga, potensi IHSG BEI bergerak berbalik arah atau mengalami penurunan cukup terbuka," katanya.

Di sisi lain, lanjut dia, kinerja laporan keuangan emiten pada 2014 yang sedianya akan dirilis pada Februari-Maret 2015 mendatang diekspektasikan belum sesuai dengan harapan karena terkena dampak negatif dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi,”Dampak negatif jangka pendek dari kenaikan BBM subsidi akan terasa bagi kinerja emiten, namun untuk jangka panjangnya tetap akan positif,”paparnya.

Berikutnya, indeks BEI Kamis diproyeksikan rawan terkoreksi akibat aksi ambil untung. Pada perdagangan kemarin, dana asing masih terus keluar dari lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 2,979 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 282.753 kali dengan volume 8,369 miliar lembar saham senilai Rp 5,571 triliun. Sebanyak 196 saham naik, 119 turun, dan 69 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia kompak menguat di zona hijau menutup perdagangan sore hari. Pasar saham Hong Kong menguat paling tinggi. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.075 ke Rp 63.525, Unilever (UNVR) naik Rp 650 ke Rp 33.125, SMART (SMAR) naik Rp 450 ke Rp 7.300, dan Indocement (INTP) naik Rp 400 ke Rp 24.625.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 1.400 ke Rp 12.500, Multi Prima (LPIN) turun Rp 1.200 ke Rp 5.000, Inti Agri Resources (IIKP) turun Rp 835 ke Rp 2.505, dan Tigaraksa (TGKA) turun Rp 500 ke Rp 2.400.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup menguat 29.549 poin (0,57%) ke level 5.198,608. Sementara Indeks LQ45 melaju 5,931 poin (0,67%) ke level 894,134. Indeks berhasil menghindari zona merah sampai siang. Posisi tertinggi yang bisa diraih Indeks sampai saat ini ada di 5.201,367.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 153.597 kali dengan volume 4,124 miliar lembar saham senilai Rp 2,719 triliun. Sebanyak 177 saham naik, 89 turun, dan 73 saham stagnan. Bursa-bursa regional akhirnya mengikuti penguatan Bursa Efek Indonesia. Semuanya kompak menguat di zona hijau.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Unilever (UNVR) naik Rp 525 ke Rp 33.000, SMART (SMAR) naik Rp 450 ke Rp 7.300, Indocement (INTP) naik Rp 425 ke Rp 24.650, dan Sinar Mas (SMMA) naik Rp 340 ke Rp 4.000. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Samudera Indonesia (SMDR) turun Rp 900 ke Rp 13.000, Tigaraksa (TGKA) turun Rp 500 ke Rp 2.400, ABM Investama (ABMM) turun Rp 405 ke Rp 2.645, dan Buana Finance (BBLD) turun Rp 210 ke Rp 850.

Pembukaan perdagangan, IHSG dibuka menguat sebesar 6,49 poin atau 0,13% ke posisi 5.175,55. Sementara itu indeks 45 saham unggulan (LQ45) naik sebesar 1,64 poin atau 0,18% ke posisi 889,84. Kata analis Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya, IHSG BEI bergerak menguat setelah dalam dua hari terakhir mengalami koreksi, pelaku pasar mulai kembali mengakumulasi saham-saham yang harganya relatif rendah,”Investor kembali masuk ke pasar mencari saham dengan harga yang dianggapnya murah untuk investasi,”ujarnya.

Kendati demikian, menurut dia, tetap perlu untuk mewaspadai efek bursa global yang sebagian bergerak melamah dan menurunnya harga komoditi, karena kondisi itu turut mempengaruhi gerak IHSG BEI yang dapat memberikan sentimen negatif meski kondisi di dalam negeri sentimennya positif.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko mengatakan bahwa secara teknikal IHSG BEI masih berpotensi untuk menuju level batas atas ke 5.251 poin. Secara fundamental, lanjut dia, sentimen dari penurunan minyak dunia hingga di kisaran US$ 50 per barel, akan berdampak positif bagi sektor konstruksi BUMN karena dapat membuka ruang lebih untuk anggaran dana infrastruktur.

Bursa regional, di antaranya indeks Bursa Hang Seng dibuka melemah 78,14 poin (0,33%) ke 23.407,27, indeks Bursa Nikkei naik 56,63 poin (0,38%) ke 16.947,39, dan Straits Times menguat 21,24 poin (0,65%) ke posisi 3.303,82. (bani)

Related posts