Antisipasi Ekonomi Global

Terpuruknya perekonomian Amerika Serikat, Eropa dan Jepang belakangan ini dapat memberikan implikasi yang kurang menguntungkan bagi perekonomian Indonesia sebagai akibat dari, pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan di tiga kawasan tersebut, yang sulit menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong pendapatan masyarakatnya.

Masalahnya, menurut data BPS, Amerika dan Jepang serta Eropa hingga kini tetap menjadi kawasan tujuan ekspor utama yang mampu menyerap 34,5% produk ekspor Indonesia, sehingga jelas implikasi negatif dari penurunan kinerja perekonomian ketiga kawasan itu akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia.

Kita melihat selama periode Juni– Juli 2011, ekspor Indonesia ke Eropa menurun sebesar US$88,1 juta, dan ke Jepang juga turun US$154,8 juta. Pada periode yang sama, ekspor Indonesia ke AS memang terjadi peningkatan US$19,5 juta. Namun angka peningkatan itu relatif lebih kecil ketimbang periode-periode sebelumnya.

Tidak hanya itu. Perekonomian Indonesia juga siap menerima dampak dari respon kebijakan yang diambil oleh tiga negara besar tersebut. Seperti stabilnya tingkat inflasi di AS yang baru mencapai level 3,6% (periode Januari– Juli) yang akan mendorong bank sentral AS kembali melanjutkan kebijakan quantitative easing (QE) untuk menstimulasi pertumbuhan ekonominya.

Hanya persoalannya, adalah suku bunga pinjaman yang dipatok The Fed relatif rendah (0,25%), maka tambahan likuiditas di pasar uang dari kebijakan QE akan mengalir deras masuk ke beberapa emerging markets, termasuk Indonesia. Derasnya capital inflow yang masuk ke negeri ini tentu mendorong berlanjutnya apresiasi nilai tukar rupiah terhadap US$, yang pada gilirannya penguatan nilai tukar rupiah ini secara relatif akan mengurangi daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global.

Jika pemerintah Indonesia terlena tidak mentransmisikan aliran capital inflow ke sektor riil, hal ini akan membuat uang yang beredar di pasar berpeluang dimanfaatkan oleh motif spekulasi semakin tinggi, dan berisiko uang tersebut dapat keluar secara tiba-tiba (sudden reversal) yang sulit dihindari dalam waktu yang singkat.

Karena itu, sejumlah langkah penyesuaian yang adaptif perlu mendapat prioritas pemerintah untuk menyiasati terpuruknya perekonomian tiga kawasan besar itu. Antara lain, perlunya diversifikasi pasar ekspor harus terus diupayakan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar ekspor AS, Jepang dan Eropa.

Selain itu, kita berharap negeri ini mampu kembali menghidupkan perekonomian domestik. Bagaimanapun, hidupnya perekonomian domestik akan bermanfaat besar terhadap upaya untuk mendorong produk Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri, yang bisa menjadi alternatif untuk menyiasati lesunya pasar ekspor di kawasan itu.

Nah, kunci untuk menghidupkan perekonomian domestik, pemerintah perlu konsisten melindungi pasar domestik dari masuknya barang impor selundupan, memberlakukan standard nasional Indonesia (SNI), mengantisipasi terjadinya kebijakan dumping yang dilakukan negara importir.

Pemerintah Indonesia sejatinya harus lebih kreatif untuk menciptakan beragam instrumen keuangan yang bisa mentransmisikan derasnya capital inflow sebagai sumber pembiayaan sektor riil dan pembangunan infrastruktur. Selain menerbitkan obligasi infrastruktur, pemerintah perlu terus mendorong BUMN dan perusahaan swasta melakukan IPO (initial public offer) lewat pasar modal.

Related posts