Februari Harga BBM Kembali Turun

NERACA

Jakarta - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Februari berpotensi kembali menurun. Sebab, harga rata-rata minyak dunia saat ini berada di bawah USD 50 per barel. Untuk itu, pemerintah berencana menurunkan kembali harga BBM pada Februari bulan depan.

"Bulan depan (Februari) ada kemungkinan harga BBM bisa kembali turun," ungkap Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, di Jakarta, Rabu (7/1).

Sebagai gambaran harga BBM bulan ini ditentukan berdasarkan harga rata-rata minyak dunia pada Desember berada di kisaran USD 50 per barel. Makanya, harga premium meski tak disubsidi lagi turun menjadi Rp 7.600 per liter dari sebelumnya Rp 8.500 per liter.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan, memang harga premium sebesar Rp 7.600 per liter termasuk menghitung pajak, biaya distribusi, dan margin (alpha) BBM. "(Harga Rp 7.600) Terlalu tinggi, karena di dalamnya ada pajak PPN 10 persen, ada pajak daerah 5 persen. Sudah termasuk alpha," katanya di Jakarta, Selasa (6/1).

Sedangkan harga keekonomisan premium, lanjut Sofyan, sangat dipengaruhi oleh harga MOPS dan mata uang. Sofyan menegaskan, pemerintah masih terus mengaji harga BBM subsidi, berpatokan pada harga minyak dunia yang masih turun. "Nanti bulan depan akan ditetapkan lagi. Tunggu saja akan ada penurunan berikutnya," tutur Sofyan.

Sementara itu, menurutIndonesia Corruption Watch (ICW) membeberkan fakta-fakta di balik penetapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan solar, serta harga gas elpiji 12 kg yang baru saja dinaikkan. Menurutya harga BBM jenis premium dan solar lebih mahal dari harga keekonomian.

Dari data yang dipaparkan ICW, meskipun pemerintah menurunkan harga BBM jenis premium maupun solar, sesungguhnya pemerintah memahalkan harga dua jenis BBM itu.

Koordinator Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran ICW, Firdaus Ilyas menjabarkan, untuk BBM jenis premium pada Januari 2015 harga keekonomiannya berada di angka Rp 7.013,67 per liter. Sedangkan pemerintah menjual dengan harga Rp 7.600 per liter."Sehingga penetapan harga premium versi pemerintah berpotensi lebih mahal sebesar Rp 586,33 per liter," kata Firdaus.

Untuk BBM jenis solar, kata Firdaus, harga keekonomian pada Januari 2015 Rp 6.607,53 per liter. Pemerintah menjual dengan harga Rp 7.250 per liter setelah menambahkan komponen PPN dan PBBKB.

Dari perhitungan ICW, subsidi solar yang diberikan pemerintah tidak Rp 1.000 per liter. "Beban subsidi BBM solar yang ditanggung oleh negara bukan Rp 1.000 per liter, tetapi hanya Rp 303,18 per liter," ucapnya

Sementara, berdasarkan analisa dari Partai Gerindra harga premium sebesar Rp 7.600 per liter. Idealnya harga BBM jenis Premium saat ini ialah Rp 5.714 per liter. Dengan harga yang sekarang pemerintah setidaknya meraup keuntungan Rp 1.886 per liter. Angka ini masih ditambah dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor sebesar Rp 707.

Menurutnya, pemerintah mendapatkan keuntungan besar dari penjualan BBM Premium dengan selisih keuntungan Rp 1.886 per liter," tulisnya.

Perhitungan Gerindra ialah harga BBM yang saat ini dijual sesuai mekanisme pasar sebesar USD 72,69 per barel dikalikan asumsi nilai tukar Rupiah saat ini Rp 12.500 maka didapat angka Rp 908.668 per barel. [agus]

Related posts