Inflasi 2012 Diprediksi Sulit Dikendalikan

NERACA

Jakarta----Kementerian Keuangan mengakui tak mudah menangani inflasi pada 2012 dalam jangka waktu yang pendek. Alasanya unsur infrastruktur Indonesia juga mempersulit dalam pengendalian angka inflasi ini. "Jadi untuk itu, kita belum bisa secara pengendalian, walaupun kita akan ada upaya maksimum dan berupaya dengan pemda dan BI untuk mengendalikan inflasi," kata Menteri Keuangan,. Agus Martowardojo kepada wartawan di Jakarta, (9/9)

Selain itu, kata mantan Dirut Bank Mandiri ini, faktor ketidakpastian harga komoditi global dan harga minyak dunia akan menjadi fokus utama pemerintah untuk mengambil langkah antisipasi dalam pengendalian inflasi. "Kalau ada koreksi harganya menurun tentu akan bisa membuat upaya pengendalian inflasi lebih mudah di 2012," terangnya

Sementara untuk komponen inflasi, seperti administered price dan volatile foods dan juga core inflation, Agus mengharapkan agar ada ruang yang cukup untuk penyesuaian agar kenaikan salah satu komponen ini tidak mempengaruhi inflasi secara nasional. "Kita mengharapkan ada ruang yang cukup sehingga tidak nanti dominasi utama hanya untuk core inflation dan sisanya untuk volatile food dan administered price,”tandasnya.

Hal ini sangat penting, lanjut Agus, mengingat bisa berpengaruh pada tekanan inflasi secara nasional. “Karena kalau kita perlu ada ruang untuk penyesuaian administered price jangan sampai itu mempengaruhi inflasi kita secara nasional," imbuhnya

Sementara itu, Gubernur BI Darmin Nasution memprediksi, angka inflasi inti (core inflation) sampai akhir tahun ini tidak akan melewati 5% dan akan berada di kisaran 4,8%-4,9%."Hal ini dikarenakan volatilitas harga makanan cenderung menurun dan didukung dengan harga-harga pangan cenderung terjaga dengan baik," ujarnya

Seperti diketahui, angka inflasi year on year sesuai APBN-P 2011 adalah sebesar 5,65%. Angka inflasi Januari- Agustus ini sendiri adalah 4,79%. "Tekanan inflasi inti dari bulan Januari-Agustus berasal kenaikan komoditas global, terutama emas yang mengalami peningkatan sejalan dengan faktor musiman seperti biaya pendidikan dan perhubungan udara," lanjut dia.

Lebih lanjut, Darmin juga optimistis bahwa angka inflasi inti di tahun depan akan menurun di plus minus satu, 4,5%. "Di tahun depan sendiri, inflasi inti (yoy) ditargetkan berada pada kisaran 3,5%-5,5%," lanjut dia.

Asal tau saja, pada Agustus ini inflasi berada pada angka 0,93%. Dengan demikian, inflasi inti bulan Agustus mencapai 1,09% dan inflasi year on year (yoy) inti adalah 5,15%. Inflasi tahun kalender year to date (ytd) Januari-Agustus mencapai 2,69%. **cahyo

BERITA TERKAIT

Defisit BPJS Kesehatan Tahun Ini Diprediksi Meningkat

      NERACA   Jakarta – Defisit BPJS Kesehatan pada tahun ini diprediksi semakin meningkat. Hal itu seperti dikatakan…

Investasi Industri Petrokimia Diprediksi Deras

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong struktur industri kimia di Indonesia agar semakin dalam dan berdaya saing seiring masuknya sejumlah…

Peningkatan Pasar Properti Jakarta Diprediksi Gradual

Peningkatan Pasar Properti Jakarta Diprediksi Gradual NERACA Jakarta - Konsultan properti Colliers International memperkirakan pasar properti di Jakarta pada 2019…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kebakaran Hutan Amazon Dikhawatirkan Picu Lonjakan Emisi Karbon Global

  NERACA Jakarta – Kebakaran hutan Amazon di Brazil, yang skala luasannya dapat terlihat dari luar angkasa membawa kekhawatiran yang dalam mengingat…

Pemerintah Pangkas Pajak Surat Utang Infrastruktur

  NERACA Jakarta – Pemerintah resmi memangkas tarif pajak penghasilan yang diterima investor atas bunga surat utang dari dana investasi…

Pemindahan Ibukota Tak Mampu Atasi Masalah Ekonomi

  NERACA Jakarta – Ekonom senior dari Intitute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan menyebut keputusan pemerintah…