Toba Bara Perbanyak Bebaskan Lahan - Genjot Produksi Batu Bara

NERACA

Jakarta– PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) bakal fokus membebaskan lahan untuk mencari cadangan baru batu bara tahun ini. Saat ini, perseroan memiliki tiga lokasi tambang (site) di Kalimantan Timur. Ekspansi tersebut merupakan lanjutan dari ekspansi pengembangan infrastruktur dan peningkatan produksi batu bara pada 2013 dan 2014.

Investor Relations Toba Bara Iwan Sanyoto mengatakan, untuk terus meningkatkan performa perusahaan pihaknya harus terus menambah cadangan batu bara. “Jadi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini salah satunya difokuskan pada pembebasan lahan,” ungkap Iwan di Jakarta, kemarin.

Dia melanjutkan, selain pembebasan lahan, perseroan juga akan membeli peralatan berat baru tahun ini. Perseroan juga bakal mengalokasikan capex untuk maintenance operasional. “Tapi belum ada angka pasti dari capex tahun ini yang dapat dipublikasikan,” jelasnya.

Tahun ini, Toba Bara akan fokus untuk menjaga tingkat profitabilitasnya. Pada 2014, di tengah turunnya harga komoditas batu bara, perseroan masih mampu mencatatkan performa keuangan yang cukup baik.

Menurut Iwan, hingga akhir 2014, pendapatan perseroan diperkirakan bakal mencapai US$ 499,2 juta atau sebesar Rp 5,9 triliun. Pendapatan perseroan pada 2014 meningkat 18,2% dibandingkan dengan 2013 sebesar US$ 422,8 juta.

Hingga akhir 2014, perseroan telah mencapai target produksi batu bara, yaitu sebanyak 7,8 juta ton. Harga jual rata-rata (average selling price/ASP) perseroan pada 2014 sebesar US$ 64 per ton. Sebelumnya dikabarkan, Toba Bara bakal mengakuisisi perusahaan pertambangan batu bara untuk meningkatkan kinerja dan profitabilitas perseroan pada 2015.

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Toba Bara Sejahtera, Pandu Sjahrir pernah mengatakan, tahun ini perseroan akan fokus melakukan akuisisi. Perusahaan yang dibidik perseroan diperkirakan berada di daerah Kalimantan Timur. “Paling enak daerah situ karena kita sudah mengerti,” kata Pandu.

Dia melanjutkan, perseroan masih memiliki plafon pinjaman bank sebesar US$ 35 juta dan kas internal sebesar US$ 64,3 juta yang siap digunakan untuk ekspansi. Apabila ada peluang yang bagus untuk mengakuisisi, perseroan akan mengambil inisiatif tersebut meskipun bernilai cukup besar.

Sebagai informasi, tahun ini rencana perseroan bakal membangun pabrik pengolahan minyak sawit mentah (palm oil mill). Biaya pembangunan pabrik tersebut diperkirakan mencapai US$ 10 juta, atau sekitar Rp 120 miliar.

Kata Pandu Sjahrir, untuk memenuhi kebutuhan biaya tersebut, perseroan masih memiliki plafon pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia (BRI)."Pinjaman tersebut didapatkan perseroan pada pertengahan tahun ini,"ujarnya.

Selain itu, perseroan bakal lebih fokus meningkatkan kinerja anak usahanya di sektor perkebunan sawit, yaitu PT Perkebunan Kaltim Utama (PKU). Namun, budget belanja modal (capital expenditure/ capex) untuk ekspansi di sektor perkebunan sawit tersebut belum bisa dipublikasikan. (bani)

Related posts