Jangan Jadi Bangsa "Merugi"

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Industri dan Perdagangan

Tahun 2014 telah berlalu, dan kita sudah berlayar kembali mengarungi samudera kehidupan yang cuacanya tidak cukup bersahabat. Di bidang ekonomi, banyak beban yang menggelayuti dan bahkan bisa dikatakan menjadi "benalu". Bangsa ini belum berhasil menjadi bangsa yang produktif dan berdaya saing, tetapi baru mampu menjadi bangsa yang konsumtif sehingga tingkat ketergantungan impor masih tinggi.

Sekitar 15 tahun yang lalu, pertumbuhan sektor produktif (biasa disebut sebagai sektor tradable) angkanya nyaris tidak pernah berubah, yaitu pada kisaran 4% per tahun. Sementara itu, sektor-sektor yang bersifat konsumtif (biasa disebut sebagai sektor non tradable) bisa tumbuh rata-rata antara 7-8% per tahun selama kurun waktu tersebut.

Pengeluaran belanja konsumsi masyarakat menyumbang rata-rata sekitar 56% terhadap PDB, sedangkan pengeluaran belanja investasi dan ekspor angkanya berada pada kisaran 30%, dan 24% per tahun terhadap PDB.

Nampaknya high cost economy masih tetap menjadi momok bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia karena cost doing business di negeri ini masih relatif tinggi. Ciri sebuah negara yang berpotensi dapat menjadi bangsa yang "merugi" antara lain adalah ongkos memproduksi barang dan jasa di dalam negeri adalah relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain karena high cost economy.

Secara makro indikasinya adalah angka inflasi yang cukup tinggi, nilai tukarnya tidak stabil, suku bunga tinggi, neraca transaksi berjalannya selalu dalam ancaman defisit, ketergantungan impor tinggi, infrstruktur buruk, dan cadangan devisanya terbatas (tidak bisa digunakan untuk membangun) kecuali hanya cukup untuk membiayai impor 4-5 bulan dan intervensi moneter.

Akhir tahun 2015, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan efektif berjalan. Hasil studi yang dilansir oleh Ditjen KII kemenperin beberapa waktu yang lalu cukup memprihatinkan karena daya saing produk manufaktur Indonesia masih lemah menghadapi MEA. Hanya 1% produk manufaktur yang kompetitif. Artinya kalau difahami secara matematis sederhana, publik sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa 99% produk manufaktur buatan Indonesia tidak kompetitif di pasar ASEAN.

Pasar dalam negeri akan mengalami tekanan yang cukup berat karena produk dan jasa yang berasal dari negara ASEAN lainnya akan masuk dalam jumlah yang masif mencukupi kebutuhan konsumen indonesia yang jumlahnya mencapai 240 juta jiwa atau sekitar 40% dari total penduduk 10 negara ASEAN yang berjumlah sekitar 600 juta jiwa.

Ancaman untuk menjadi bangsa yang "merugi" bisa dianggap semakin terbuka dengan membaca fenomena ekonomi tersebut, meski kita masih mempunyai pengharapan agar Indonesia benar-benar menjadi salah satu negara emerging economy yang berhasil membenahi sistem perekonomiannya di masa mendatang. Arahnya adalah menciptakan lingkungan bisnis yang mampu mengurangi tekanan biaya ekonomi tinggi menuju ke sistem ekonomi berbiaya rendah agar Indonesia terbebas dari jebakan negara yang berpotensi menjadi bangsa yang "merugi".

Related posts